Berita

Perdana Menteri Prancis, Michel Barnier dan Presiden Emmanuel Macron/Net

Dunia

PM Prancis Berhasil Digulingkan, Presiden Macron Jadi Sasaran Berikutnya

KAMIS, 05 DESEMBER 2024 | 14:11 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Anggota parlemen Prancis meloloskan mosi tidak percaya terhadap pemerintah yang dipimpin oleh Perdana Menteri Michel Barnier pada Rabu, 4 Desember 2024.

Keputusan itu membuat kekuatan negara ekonomi terbesar kedua di Uni Eropa semakin terpuruk dalam krisis politik berkepanjangan.

Anggota parlemen sayap kanan dan kiri bergabung untuk mendukung mosi tidak percaya terhadap PM Barnier, dengan mayoritas 331 suara mendukung mosi tersebut.


Barnier yang baru menjabat selama tiga bulan itu kini harus mengajukan pengunduran dirinya dan pemerintahannya kepada Presiden Emmanuel Macron dan menjadi pemerintahan minoritas dengan masa terpendek dalam sejarah Prancis sejak 1958.

Mengutip AFP, pengunduran diri Barnier kemungkinan dilakukan pada Kamis, 5 Desember 2024.

Kubu kiri ekstrem dan sayap kanan menghukum Barnier karena menggunakan kewenangan konstitusional khusus untuk mengadopsi sebagian anggaran yang tidak populer tanpa pemungutan suara akhir di parlemen, yang tidak didukung mayoritas.

Rancangan anggaran tersebut ditujukan untuk menghemat 60 miliar euro dalam upaya mengecilkan defisit yang menganga.

"Realitas (defisit) ini tidak akan hilang hanya dengan keajaiban mosi kecaman," kata Barnier kepada anggota parlemen menjelang pemungutan suara, seraya menambahkan defisit anggaran akan kembali menghantui pemerintahan mana pun yang berkuasa berikutnya.

Di Prancis, belum pernah ada PM yang kalah dalam mosi tidak percaya sejak Georges Pompidou pada tahun 1962.

Dalam sistem pemerintahan Prancis, perdana menteri ditunjuk presiden untuk menjalankan pemerintahan sehari-hari. Meski demikian, perdana menteri membutuhkan dukungan dari parlemen untuk berkuasa.

Mosi ini didorong kelompok kanan jauh dan aliansi kiri yang mendominasi parlemen. Kubu sentris yang pro-Macron hanya memegang sekitar sepertiga kursi di Majelis Rendah.

Kejatuhan Barnier disambut gembira oleh pemimpin sayap kanan Marine Le Pen, yang telah berusaha selama bertahun-tahun untuk menggambarkan partainya, National Rally, sebagai calon pemerintahan yang masih menunggu.

Le Pen bahkan menyebut selanjutnya yang akan mundur adalah Presiden Macron.

"Saya tidak perlu mendesak pengunduran diri Macron. Tekanan pada presiden akan semakin besar. Hanya dia yang akan membuat keputusan itu," ujarnya optimis.

Macron kini harus membuat pilihan. Istana Elysee mengatakan presiden akan berpidato di hadapan rakyat pada Kamis malam, 4 Desember 2024.

Tiga sumber Reuters mengatakan Macron kemungkinan segera melantik perdana menteri baru dan waktunya bisa jadi sebelum upacara pembukaan kembali Katedral Notre-Dame pada hari Sabtu, 7 Desember 2024 yang akan dihadiri Trump.

Setiap perdana menteri baru akan menghadapi tantangan yang sama seperti Barnier dalam mendapatkan rancangan undang-undang, termasuk anggaran 2025, yang diadopsi oleh parlemen yang terbagi. Tidak boleh ada pemilihan parlemen baru sebelum bulan Juli.

Macron dapat meminta Barnier dan para menterinya untuk tetap menjabat sebagai pejabat sementara sementara ia mencari perdana menteri yang mampu menarik dukungan lintas partai yang cukup untuk meloloskan undang-undang.

Pemerintah sementara dapat mengusulkan undang-undang darurat untuk menggulirkan ketentuan pajak dan pengeluaran dalam anggaran 2024 ke tahun depan, atau menggunakan kewenangan khusus untuk meloloskan rancangan anggaran 2025 melalui dekrit.

Meskipun para ahli hukum mengatakan ini adalah wilayah abu-abu secara hukum dan biaya politiknya akan sangat besar.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

8.620 Hektare Lahan Kalsel Terbakar, Pemadaman Terganjal Krisis Air

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:24

BRImo Taiwan Manjakan Diaspora dan PMI Kelola Keuangan

Minggu, 23 Agustus 2026 | 22:15

Temuan Bibit Sawit Bongkar Motif Karhutla Bukan Semata karena El Nino

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:52

ISPA dan Rabies Mulai Mengancam Ribuan Pengungsi Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:39

Tolak Demo Berbau Provokasi di DPR, Jaga Jakarta!

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:23

Magang Pengurus KDKMP Replikasi Model Bisnis Berbasis Potensi Desa

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:12

Masa Iddah Politik Calon Ketum PBNU: Bolehkah Perkum Menambah Syarat?

Minggu, 23 Agustus 2026 | 21:06

Menuju Muktamar NU, Nahdliyin Berharap Sejarah 2015 Tak Terulang

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:31

Gebu Minang-Hanura Terbangkan 3,6 Ton Rendang Buat Korban Gempa NTT

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:28

Obligasi Sosial Berkelanjutan BRI Raih IDX Channel Anugerah ESG 2026

Minggu, 23 Agustus 2026 | 20:16

Selengkapnya