Berita

Dok Foto/Ist

Publika

Riyadh Menyala

MINGGU, 01 DESEMBER 2024 | 11:35 WIB | OLEH: AHMADIE THAHA

BAYANGKAN ini: Sebuah malam bercahaya di Riyadh, di mana lampu sorot menciptakan suasana gemerlap, para penari bergaya bebas mengitari sebuah struktur hitam raksasa berbentuk kubus. Tampil artis internasional seperti Jennifer Lopez, Becky G, dan fashion show ala Barat, menggadang-gadang pesta besar di panggung global.

Tidak, ini bukan pesta futuristik di set film Hollywood, melainkan bagian dari Riyadh Season, festival hiburan yang diselenggarakan di Arab Saudi. Namun, siapa sangka bahwa “kubus” tersebut memicu badai kritik? Sebagian menyebutnya simbol kemajuan, sementara yang lain, dengan nada sinis, menyebutnya sebagai “khurafat abad ini.”

Di atas panggung, sebuah struktur hitam yang oleh penyelenggara disebut sebagai "instalasi seni" menjadi pusat perhatian. Bagi banyak orang, ia terlihat seperti Ka'bah – pusat ibadah umat Islam di Masjidil Haram, Mekkah, berjarak 870 km dari Riyadh. Dengan strip serupa di Ka'bah, asosiasi pikiran pasti langsung ke Ka'bah.


Namun, alih-alih jamaah khusyuk melakukan tawaf, kubus ini menjadi layar digital untuk memproyeksikan gambar penyanyi dan penari, dengan iringan musik yang, yah, jauh dari suasana spiritual. Gebyar musik, kilau cahaya, dan rampak tari menyatu dan menghentak-hentak layaknya festival pop.

Tentu saja, ini memicu reaksi. Media sosial langsung dibanjiri dengan komentar tajam. "Ka'bah palsu?! Apakah ini bentuk baru dari penghormatan atau penghinaan?" tulis seorang pengguna X (dulu Twitter). Yang lain menambahkan dengan getir, “Apakah ulama di Saudi sudah kehilangan daya bicaranya?”

Siapa yang berani berkomentar di sana? Pasti langsung menerima resiko berat. Dan pihak otoritas Saudi dengan cepat membantah anggapan bahwa ini replika Ka'bah. Menurut mereka, struktur tersebut hanyalah empat cermin besar dengan proyeksi digital. Namun, seperti biasa, klarifikasi ini datang dengan nada “Maaf kalau tersinggung, tapi kami tidak salah.”

Riyadh Season dipuji oleh sebagian kalangan sebagai langkah berani menuju modernisasi. Arab Saudi, di bawah komando Putra Mahkota Mohammed bin Salman, berambisi untuk menciptakan citra baru negerinya yang selama ini dikenal bermazhab Wahabi: kini lebih terbuka, lebih progresif, dan –katanya– lebih menyenangkan. 

Namun, mari kita hadapi fakta: Sebuah negara yang mengklaim sebagai penjaga dua tempat suci Islam mungkin harus berpikir ulang sebelum menyandingkan hiburan dan simbol agama dalam satu panggung. Kritik dari kalangan ulama, aktivis, hingga warga sedunia menilai, festival ini lebih terlihat seperti parade komersial yang tidak memiliki sensitivitas budaya dan religius.

Ironisnya, pesta besar ini berlangsung di tengah berbagai tragedi di kawasan Timur Tengah. Gaza sudah luluh lantak, Lebanon terbakar, sementara Riyadh menyala-nyala dengan lampu LED dan musik pop. Bagi banyak orang, ini bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal prioritas moral. 

“Bagaimana mungkin sebuah bangsa menghamburkan jutaan dolar untuk hiburan, sementara umat Islam di tempat lain menderita?” tanya seorang netizen, yang tentunya tak berharap jawaban serius. Sebab, semua tahu, tak mungkin ada yang berani menjawab di negeri dengan tingkat pengamanan yang ketat.

Jika Riyadh Season adalah cerminan globalisasi, maka ini versi karikaturalnya. Di satu sisi, ia menunjukkan ambisi besar Mohammed bin Salman untuk menjadikan Saudi pusat hiburan dunia yang mengundang jutaan turis. Di sisi lain, ia memaksa kita bertanya: Apakah modernisasi harus datang dengan harga kehilangan identitas?

Sementara itu, para penari terus berjingkrak-jingkrak, kubus serupa Ka'bah terus berkilau, serta dunia Arab dan Muslim terus memperdebatkan apakah Riyadh Season langkah maju, mundur, atau sekadar tarian erotik. Salahnya, itu berlangsung di Saudi, meski tempatnya di kota yang jauh dari Mekkah dan Madinah. 

Kata orang Arab sendiri:

“Siapa yang ingin melompat terlalu jauh, seringkali jatuh ke belakang.” Pepatah Arab ini memberi nasihat agar seseorang tidak terlalu tergesa-gesa atau berlebihan dalam upaya mencapai sesuatu, karena hal itu dapat menyebabkan hasil yang justru berlawanan dengan harapan. Tapi Bin Salman maju tak gentar.

Penulis adalah Pemerhati Kebangsaan, Pengasuh Pondok Pesantren Tadabbur Al-Qur'an

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Gus Lilur Laporkan Dugaan Jual Beli Suara Muktamar NU ke KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:20

Ledakan Besar Guncang Pasar Cimanggis-Ciputat, 2 Orang Dikabarkan Tewas

Kamis, 15 Oktober 2026 | 00:00

Danantara Minta Maaf dan Ambil Alih PLN Batam Usai Listrik Padam

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:36

Pemerintah Diminta Gencar Sosialisasikan Beasiswa Pendidikan untuk Anak Papua

Rabu, 14 Oktober 2026 | 23:08

Ijazah Keluarga Jokowi itu Terus Melahirkan Masalah Bangsa

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:54

GoTo Gelar RUPSLB, Restui Pembatalan Saham Tresuri dan Perombakan Direksi

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:26

Terdakwa Pemerasan Bangun Paulus Dijemput Paksa di Tempat Hiburan, Alasan Mangkir Sakit

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:17

Kaya Omega-3, Bumi Wijaya Pilih Ikan Sidat untuk Gizidat

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:07

Indonesia-Malaysia Perkuat Kerja Sama Imigrasi, Pencegahan TPPO jadi Perhatian

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:05

Pertamina Patra Niaga Maksimalkan Langkah Pemulihan Layanan BBM di Bali

Rabu, 14 Oktober 2026 | 21:52

Selengkapnya