Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

Kemendag Harap Kinerja Ekspor Indonesia ke AS Tetap Moncer

RABU, 20 NOVEMBER 2024 | 10:16 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Donald Trump diperkirakan akan menerapkan bea impor yang tinggi terhadap barang-barang yang masuk ke Amerika Serikat (AS) saat ia resmi dilantik sebagai Presiden negara itu.

Trump diperkirakan mengenakan tambahan tarif pajak 10-20 persen untuk semua barang. 

Kepala Badan Kebijakan Perdagangan (BK Perdag) Fajarini Puntodewi mengatakan, dengan tarif tinggi tersebut sangat besar kemungkinan akan mengganggu kegiatan ekspor Indonesia. 
 

 
Selain itu, khusus untuk produk-produk Tiongkok yang masuk ke AS, Trump akan mengenakan tarif besar hingga  60-100 persen.

Bagi AS, Tiongkok menjadi penyebab neraca perdagangan AS selalu mengalami defisit.  

Konflik ekonomi antara Tiongkok dan AS telah berlangsung sejak Januari 2018, ketika Trump - yang saat itu menjabat sebagai presiden - memilih langkah proteksionisme untuk memperbaiki neraca perdagangan AS dengan 
menetapkan tarif dan hambatan perdagangan terhadap Tiongkok. 

Trump juga mendesak Tiongkok membuat perubahan pada apa yang disebutnya sebagai praktik perdagangan tidak adil.

Puntodewi menjelaskan Amerika Serikat dan China merupakan mitra dagang utama Indonesia.

"Tentu, dengan adanya kebijakan ini, akan ada dampak, baik itu dengan perdagangan dengan Amerika maupun dengan China tentunya, di mana kedua negara ini merupakan mitra utama perdagangan Indonesia," ujarnya di acara Gambir Trade Talk di Hotel Borobudur, Jakarta, dikutip Rabu 20 November 2024. 

Namun demikian, kata Puntodewi, pada kepemimpinan Trump yang pertama, (2016-2020) tren ekspor Indonesia ke AS justru meningkat dan mengalami surplus.

Dua tahun terakhir pada periode itu, neraca perdagangan Indonesia-AS surplus masing-masing sebesar 27,1 miliar Dolar AS pada 2019 dan 27,2 miliar Dolar AS pada 2020.

AS menjadi salah satu negara tujuan ekspor utama Indonesia. Tahun lalu, ekspor ke Amerika mencapai 9,57 persen dari total ekspor Indonesia. 

Puntodewi berharap, di pemerintahan Trump kedua tidak terlalu banyak terjadi perubahan terhadap kinerja ekspor Indonesia.

Populer

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

BGN Setop Sementara Operasional 1.276 SPPG, Ini Sebabnya

Kamis, 17 September 2026 | 01:56

DPR Apresiasi Kejagung Sita Aset dalam Kasus Febrie Tanpa Pandang Bulu

Kamis, 17 September 2026 | 01:30

Perang Dunia Ketiga Is Coming?

Kamis, 17 September 2026 | 01:04

KKP dan FAO Bidik Sektor Perikanan Genjot Ketahanan Pangan

Kamis, 17 September 2026 | 00:49

Kasus Teror di Papua Bikin Masyarakat Ragu dengan Kemampuan TNI-Polri

Kamis, 17 September 2026 | 00:20

Pemimpin Merupakan Refleksi Sistem Politik yang Dibangun Masyarakat

Kamis, 17 September 2026 | 00:01

Pergantian Menteri Harus Jadi Momentum Perkuat Kesejahteraan Rakyat

Rabu, 16 September 2026 | 23:35

Ada “Nama Ajaib”, Bos Pajak dan Bea Cukai Minta Rotasi Era Purbaya Dibatalkan

Rabu, 16 September 2026 | 23:08

KPK Didesak Bongkar Jaringan Sistematis Korupsi Layanan ATR/BPN

Rabu, 16 September 2026 | 22:41

Prabowo: PT Timah Untung 900 Persen Berkat Efisiensi BUMN

Rabu, 16 September 2026 | 22:36

Selengkapnya