Berita

Aktivis Said Didu/Net

Publika

Said Didu Simbol Perlawanan Terhadap Oligarki

OLEH: TONY ROSYID*
SENIN, 18 NOVEMBER 2024 | 07:16 WIB

SAID DIDU adalah salah seorang yang cukup langka di negeri ini. Sosok dari kelas menengah mapan ini terus mengambil bagian untuk bangsa ini dengan caranya yang kritis, bernyali dan sangat berani.

Said Didu, juga kita semua para aktivis dan akademisi sungguh sadar betapa negara ini darurat oligarki. Sisi mana yang tersisa dari negeri ini yang tidak dikuasai dan dikendalikan oleh oligarki?

Siapa oligarki itu? Para pemodal yang mampu kendalikan produk undang-undang dan kebijakan politik untuk mendukung bisnis mereka. Pun juga mereka yang "karena ketamakannya" melanggengkan bisnis haram, mulai dari mafia impor, penambang ilegal, hingga narkoba dan judi online.


Hampir semua proyek pemerintah, baik pusat maupun daerah terkait dengan anggaran yang besar, di situ oligarki berkuasa dan menjadi kendalinya. 

Kenapa? Pertama, mereka telah berinvestasi dengan modal besar di setiap pemilu. Kedua, mereka berpengalaman bagaimana merampok uang negara dengan rapi. Jagonya memanipulasi administrasi. Ketiga, mereka sangat rapi dalam berbagi hasil rampokan. 

Bagaimana dengan PSN (Proyek Strategis Nasional) PIK 2? Banyak pihak yang mempertanyakan proyek ini. Apa urgensinya proyek ini untuk rakyat? Apa keuntungan yang didapat oleh negara dari proyek ini? Apakah atas nama PSN, lalu tanah rakyat jadi sangat murah harganya? Itulah keganjilan yang terus menerus mengganggu pikiran sadar para aktifis, termasuk Said Didu.

Di tengah sunyinya proyek ini, tampil seorang Mohammad Said Didu. Mosad, panggilan manusia merdeka ini, langsung turun ke lapangan. 

Cek fakta, bicara dengan warga yang tanahnya dibeli dengan harga murah. Dari hasil investigasi ini, Said Didu menemukan keganjilan. Terutama, mengapa tanah rakyat dibeli dengan harga murah?  

Said Didu teriak. Teriak sekeras-kerasnya. Atas nama rakyat yang lemah, Said Didu protes. Said Didu ajak semua aktivis, akademisi dan para tokoh yang masih memiliki kepekaan untuk ikut memperjuangkan hak rakyat. Hak untuk dibeli tanahnya dengan harga layak. Itu saja, kata Said Didu.

Video teriakan Said Didu nyaring. Masuk ke telinga rakyat, juga ke telinga pemilik proyek. Mungkin juga sudah sampai ke telinga istana. Istana Jakarta, maupun istana Solo.

Said Didu dinego. Diajak kompromi. Seperti karang, Said Didu tegas menolak. Said Didu hanya ingin tanah rakyat diberi dengan harga normal. Harga wajar sesuai pasaran. Itu saja. Said Didu kekeuh, gak goyah dan terus berteriak.

Tak lama kemudian, ada pihak-pihak laporkan Said Didu ke polisi. Tuduhannya? Pencemaran nama baik. Said Didu dituduh melanggar UU ITE. 

Siapa pihak-pihak itu? Adakah otak di belakang pihak pelapor itu? Rakyat punya penilainnya sendiri. Gak perlu diajarin bagaimana menganalisis hal sederhana ini.

Apakah Said Didu gemetar, takut dan mendur? Ternyata tidak! Dalam tulisannya yang viral, Said Didu menyatakan akan menghadapi semua risiko ini. Demi rakyat dan demi bangsa. Rasa cintanya kepada rakyat dan bangsa membuatnya tegar dan siap hadapi semua konsekuensinya.

Surat panggilan dari kepolisian sudah dikirim. Said Didu akan dimintai keterangan atas laporan itu tanggal 19 November nanti. Said Didu menyatakan akan datang. Betul-betul manusia berkepala tegak. Punya prinsip dan tegar dengan prinsipnya.

Sejumlah aktivis dan tokoh memberi dukungan kepada Said Didu. Diantara tokoh itu adalah Prof. Mahfud MD, mantan Menkopolhukam, Refly Harun, pakar hukum tatanegara, Syahganda Naenggolan, dan Abraham Samad, mantan ketua KPK. Juga banyak tokoh dan aktivis lain yang ikut menguatkan Said Didu untuk melanjutkan perjuangan ini.

Bagaimana kisah perjuangan Said Didu selanjutnya? Apakah ia akan dipenjara? Atau terbebas dari tuduhan, dan akan terus melanjutkan perjuangannya?

Said Didu tetap Said Didu. Seorang aktivis tulen yang tidak pernah berhenti berjuang untuk melawan setiap kezaliman kepada rakyat dan bangsa. Terutama kezaliman yang dilakukan oleh oligarki.



*Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Boyamin Sebut Ada Dua Brankas Kosong di Rumah Febrie, Ini Respons Kejagung

Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14

UPDATE

DPR: Korporasi Penyebab Karhutla Harus Diberi Sanksi Berat

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 16:22

Pantau Karhutla Riau, Menteri Jumhur Diperlihatkan Inovasi Green Policing

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:22

Tanpa Masker, Prabowo Tinjau Langsung Karhutla di Kalbar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 15:09

Sasar Ribuan Korban Gempa Nagekeo, BHS dan DLU Kirim Bantuan Logistik Hingga Mainan Edukatif

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:57

Karhutla Meluas hingga Permukiman Warga Banjarbaru

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:47

Segel 4 Lahan Konsesi, Menteri LH Bertolak ke Kalimantan Usai Pantau Karhutla Riau

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:29

Efek El Nino dan B50 Bikin Harga CPO Terbang ke Level Tertinggi

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 14:11

Kabut Asap Karhutla Makin Parah, Kabupaten Kotim Hentikan Sekolah Tatap Muka

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:40

Kalah Gugatan Privasi, Pangeran Harry Wajib Bayar Rp317 Miliar

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:24

Aliansi Mahasiswa DIY Soroti Ancaman Perampasan Ruang Hidup di Pracimantoro

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 13:12

Selengkapnya