Berita

Agus Sanusi/Istimewa

Publika

Politik Anak Muda atau Anak Muda Berpolitik?

OLEH: AGUS SANUSI
SENIN, 04 NOVEMBER 2024 | 01:58 WIB

ADA dua pendekatan berbeda dalam partisipasi politik anak muda. Yaitu politik anak muda yang berfokus pada idealisme murni, serta anak muda berpolitik yang mencoba mencapai perubahan melalui sistem politik formal. Kedua pendekatan ini memiliki perbedaan mendasar yang sangat mencolok, terutama dalam hal mempertahankan nilai-nilai perjuangan mereka di tengah realitas politik yang kompleks. 

Politik Anak Muda: Idealisme yang Murni

Politik anak muda pada umumnya hadir dalam bentuk gerakan-gerakan sosial dan advokasi yang digerakkan oleh kepedulian terhadap isu-isu spesifik. Mereka cenderung berpartisipasi dalam gerakan nonkonvensional yang tidak terikat oleh sistem politik formal. Gerakan ini biasanya berlandaskan idealisme yang kuat, menuntut perubahan yang nyata tanpa kompromi, dan seringkali dilakukan di luar struktur partai atau lembaga politik resmi.


Salah satu gerakan anak muda yang mewakili idealisme ini adalah Jeda untuk Iklim, yang didirikan untuk meningkatkan kesadaran akan krisis iklim di Indonesia. Gerakan ini didorong oleh semangat untuk mempertahankan lingkungan hidup dan menuntut pemerintah agar mengambil tindakan nyata. 

Aktivis muda yang terlibat dalam gerakan ini menolak kompromi dan mendesak perubahan yang nyata demi keberlanjutan lingkungan, sebagai bentuk komitmen terhadap nilai yang mereka yakini.

Dalam konteks ini kemudaan ditafsirkan sebagai kecenderungan untuk melakukan perubahan dan pembaruan ke arah yang lebih baik. Muda bukan lagi soal usia melainkan kemauan berpikir progresif, inovatif, mempertanyakan status quo serta memperjuangkan keadilan dan kesejahteraan. Dengan demikian politik anak muda cenderung idealis, nonkompromi, pro perubahan dengan berpegang pada nilai-nilai keadilan dan kesetaraan. 

Anak Muda Berpolitik: Pragmatisme yang Mengorbankan Nilai

Sebaliknya, anak muda berpolitik adalah mereka yang terjun ke dalam sistem formal, seperti partai politik atau pemerintahan, menjadi relawan dalam pemenangan pemilu. Mereka biasanya berdalih memperjuangkan isu-isu perubahan dari dalam. 

Mereka sering berkata bahwa perubahan dapat dicapai melalui jalur formal, sehingga mereka bergabung dengan partai politik, menjadi relawan, mencalonkan diri dalam pemilu, atau menjadi bagian dari lembaga legislatif. 

Namun, faktanya mereka kesulitan menjaga idealisme di tengah tekanan untuk menyesuaikan diri dengan budaya politik yang kerap didominasi oleh kepentingan praktis, kompromi, dan bahkan tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai awal yang mereka perjuangkan.

Banyak yang berpendapat bahwa realitas politik Indonesia membuat idealisme yang semula mereka bawa mudah terkikis. Ketika menghadapi tekanan dari partai atau kebutuhan untuk memenangkan suara, anak muda yang berpolitik sering kali terbawa arus dan akhirnya terjebak dalam pragmatisme ekstrem. 

Dalam kondisi ini, idealisme mereka tergantikan oleh kepentingan jangka pendek, hingga mereka menghalalkan segala cara untuk meraih posisi atau kepentingan politik.

Fenomena ini bisa terlihat pada beberapa politisi muda Indonesia yang awalnya lantang mengkritik sistem yang korup atau tidak adil. Namun ketika mereka bergabung dengan partai politik, mereka harus mengikuti garis partai yang mungkin tidak sejalan dengan prinsip mereka. 

Tekanan untuk mengikuti agenda partai, tuntutan elektabilitas, hingga dorongan untuk "main aman" di dunia politik formal sering kali mengarahkan mereka pada praktik-praktik kompromistis, atau bahkan pada langkah-langkah yang bertentangan dengan nilai ideal mereka sendiri. Akibatnya, anak muda yang berpolitik menjadi bagian dari sistem lama yang sering kali mereka kritik di awal.

Anak Muda di Pilkada

Dalam Pilkada kita bisa melihat fenomena yang sama. Sekelompok anak muda mendukung kandidat calon kepala daerah. Demi alasan kemenangan mereka menutup mata dan hati pada realitas kepemiluan yang hanya "seolah-olah" pemilu. 

Bagaimana tidak pada tataran isu kita bisa melihat bagaimana primordialisme dimainkan sedemikian rupa untuk menggalang dukungan. Hal ini tentu bertentangan dengan semangat perubahan, kesetaraan dan keadilan. Sebab alih-alih menggaungkan ketiga hal tersebut, justru yang terjadi membangun sentimen kedaerahan yang itu merusak nilai-nilai demokrasi. 

Bicara tentang aturan main pelanggaran pemilu dianggap hal yang wajar dan biasa. Mereka bahkan berusaha melegitimasi politik sinterklas, politik uang dengan berbagai argumentasi absurd semata demi kemenangan. 

Artinya tak ada hari ini politik anak muda. Apa yang terjadi hari ini sekelompok anak muda gamang berpolitik, tanpa nilai, tanpa gagasan. Mereka sibuk bicara kemajuan, bicara perubahan tapi sambil berjalan mundur.

Penulis adalah Direktur Kerja Bareng Collaborative Hub

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya