Berita

Ilustrasi (Foto: Finance.yahoo.com)

Bisnis

Google Tak Membantu, IHSG Longsor di 7.540

RABU, 30 OKTOBER 2024 | 18:02 WIB | OLEH: ADE MULYANA

SENTIMEN kurang bersahabat nampaknya masih sulit berubah. Serangkaian kabar terkini justru kian mengukuhkan pudarnya optimisme di bursa saham global. Kabar pertama tentu datang dari langkah The Fed dalam menurunkan suku bunga lanjutan, yang kini kian diyakini lebih moderat ketimbang ekspektasi pasar.

Kabar berikutnya datang dari rilis data perekonomian terkini yang juga tak terlalu memberikan harapan bagi investor untuk melakukan aksi akumulasi agresif. Sementara kabar berikutnya muncul dari rilis kinerja kuartalan sejumlah emiten terkemuka di Wall Street yang gagal membangkitkan Indeks secara meyakinkan.

Terutama rilis kinerja kuartalan perusahaan raksasa teknologi internet, Alphabet. Perusahaan induk dari mesin pencari Google itu memang mampu membukukan kinerja keuangan yang lumayan lebih baik ketimbang ekspektasi pasar. Namun dampak terhadap pergerakan Indeks di bursa Wall Street terlalu minim, alias tidak membantu dari kelesuan.


Gerak Indeks Wall Street akhirnya kembali menutup sesi dengan mixed dan dalam rentang moderat. Indeks DJIA ditutup turun moderat 0,36 persen di 42.233,05, sementara indeks S&P500 menguat 0,16 persen di 5.832,92, dan indeks Nasdaq yang melonjak lumayan 0,78 persen di 18.712,75.

Keraguan yang masih membayang di sesi perdagangan Wall Street ini memaksa pelaku pasar di Asia bergantung pada sentimen regional dan domestik untuk menentukan arah gerak Indeks. Namun sentimen regional yang tersedia membuat keraguan di sesi Wall Street beralih menjadi gerak tajam dan mixed  di Asia.

Pantauan terkini dari jalannya sesi perdagangan pertengahan pekan ini, Rabu 30 Oktober 2024 memperlihatkan, gerak Indeks yang tajam dan mixed. Indeks Nikkei (Jepang) meloncat  1,07 persen di 39.318,27, sementara indeks ASX200 (Australia) terperosok merah dengan turun tajam 0,97 persen di 8.169,0. Dan indeks KOSPI (Korea Selatan) runtuh  1,06 persen di 2.590,17. 

Laporan dari jalannya sesi perdagangan juga menyebutkan, otoritas Australia yang merilis data inflasi kuartal September sebesar 2,8 persen atau di bawah ekspektasi pasar di kisaran 2,9 persen. Besaran inflasi tersebut juga tercatat sebagai yang terendah sejak kuartal pertama 2021. Investor akhirnya menggencarkan tekanan jual hingga menggulingkan Indeks usai rilis data tersebut.

Sedangkan kabar lain datang dari situasi pasar properti di China yang masih memerlukan waktu hingga lebih dari setahun untuk pulih di tengah serangkaian langkah terkini yang diambil pemerintahan Xi Jinping.

Rangkaian situasi tersebut memaksa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di bursa saham Indonesia kembali terjungkal di zona merah. Tekanan jual yang menderas bahkan sempat mengirim IHSG runtuh hingga 1,12 persen. IHSG kemudian menutup sesi pagi dengan merosot tajam 0,87 persen di 7.540,46.

Gerak konsisten IHSG di zona merah tercermin dalam kinerja saham-saham unggulan. Sejumlah besar saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan bergulat di zona merah, seperti: BBRI BMRI, BBCA, BBNI, TLKM, SMGR, ASII, UNTR, INDF, PTBA, JPFA dan UNVR.

Rupiah Mencoba Bangki

Kinerja suram IHSG terlihat berbeda dengan situasi di pasar uang. Laporan menunjukkan pelemahan mata uang utama dunia yang kembali berlanjut hingga siang ini di sesi perdagangan Asia. Pantauan RMOL memperlihatkan, nilai tukar mata uang utama dunia yang kembali tertekan pada sesi Selasa malam waktu Indonesia Barat, dan tekanan tersebut masih berlanjut hingga siang ini.

Akibat dari suramnya mata uang utama dunia tersebut, hampir seluruh mata uang Asia turut terseret kembali di zona pelemahan. Namun mengesankan nya, Rupiah justru mampu melawan arus sentimen suram tersebut. Setelah sempat menjejak zona pelemahan tipis, Rupiah berbalik menguat dan mencoba konsisten di zona penguatan tipis. Hingga ulasan ini disunting, Rupiah tercatat diperdagangkan di kisaran Rp15.735 per Dolar AS atau menguat tipis 0,12 persen.

Pantauan RMOL menunjukkan, Rupiah yang sempat menjejak zona pelemahan, namun dengan mudah segera beralih ke zona hijau. Gerak menguat Rupiah diyakini lebih dilatari oleh potensi teknikal usai mengalami serangkaian pelemahan konsisten dalam beberapa hari sesi perdagangan sebelumnya. Pelaku pasar kini mencoba berharap mendapatkan suntikan sentimen domestik dari rilis data inflasi dan indeks PMI manufaktur terkini pada sesi akhir pekan ini.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Kasus Korupsi Kuota Haji Masuk Babak Baru, Gus Yaqut Cs Dilimpahkan ke JPU KPK

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:19

Kericuhan Warnai Kongres VII BM PAN di Banten

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:12

Purbaya Bidik Ekonomi Digital hingga Sektor Informal untuk Dongkrak Penerimaan Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:10

Trump Sebut Mojtaba Khamenei Nyaris Tumbang, Militer Iran Hancur

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:08

DPR Ingin Rampungkan RUU Perampasan Aset Tahun Ini

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:00

JPO Tendean Rusak Berat Ditabrak Truk, Warga Diimbau Gunakan Jalur Alternatif

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Saham Shell Menguat Usai Divestasi Bisnis Energi Terbarukan di India

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Bantah Isu Penolakan, DPR Tegaskan RUU Perampasan Aset Masih Berproses

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:44

BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Kas Negara di Kuartal I 2026, Bukukan Kontribusi Pajak Terbesar

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:21

Indonesia Harus Benahi Regulasi dan Insentif untuk Perkuat Filantropi

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:19

Selengkapnya