Berita

Presiden RI Prabowo Subianto/Istimewa

Publika

Bumi Langit Papan Prabowo

OLEH: MOH EKSAN
RABU, 30 OKTOBER 2024 | 14:33 WIB

PAPAN sama pengertiannya dengan tempat tinggal atau rumah. Papan ini merupakan kebutuhan dasar manusia. Untuk berteduh dari terik matahari dan hujan, membina keluarga, dan investasi masa depan. Setiap orang butuh rumah tempat tinggal.

Nah, untuk memenuhi kebutuhan rumah rakyat, Pemerintah Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target. Setiap tahun akan membangun 3 juta rumah. Target ini 3 kali lipat lebih besar dari target pemerintah sebelumnya.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di era Presiden Joko Widodo, hanya mematok target 1 juta rumah setiap tahun. Dan, realisasi pada tiga tahun terakhir selalu melampaui target. Pada 2021, realisasi sebesar 1.105.707 unit. Pada 2022, naik menjadi 1.117.491 unit. Dan pada 2023, juga realisasi semakin bertambah menjadi 1.217.794 unit.


Kendati realisasi pembangunan rumah selalu di atas target setiap tahun, namun blacklog atau kekurangan rumah meningkat terus dalam satu dekade pemerintahan Jokowi. Menurut PT Bank Tabungan Negara (BTN), angka blacklog pada 2015, 11,4 juta. Pada 2023, angka blacklog justru naik menjadi 12,7 juta.

Ini artinya antara kenyataan bumi dengan keinginan langit pembangunan rumah sudah jauh tak berimbang. Kemampuan birokrasi pemerintah tak selaras dengan keinginan perumahan rakyat. Karena itu, bisa dipahami, Prabowo menetapkan target lebih besar.

Sekarang, target ambisius Prabowo tersebut berada pada duo aktivis, Maruarar Sirait dan Fahri Hamzah, sebagai Menteri dan Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). Bisakah target presiden tercapai?

Rupanya, gebrakan Ara -panggilan akrab Maruarar Sirait, sangat bagus. Salah satunya, wacana pemanfaatan tanah sitaan korupsi untuk dibangun perumahan rakyat.

Selain itu, Putra Sabam Sirait ini memberikan tanah seluas 2,5 hektare di Tangerang Banten untuk dibangun perumahan bersama Pengembang Agung Sedayu Group. Perumahan ini akan dibagi-bagikan gratis pada masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Mantan politikus PDI Perjuangan ini sangat yakin. Dengan pola gotong royong bersama perusahaan para pengembang kakap melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR), target 3 juta rumah akan terwujud.

Gebrakan Kementerian ini memberi secercah harapan, pembangunan perumahan rakyat punya prospek yang baik di era Prabowo. Namun secara jujur, problem fundamental perumahan rakyat kecil yang tunawisma belum tergambar dari rencana besar nomenklatur kementerian baru ini.

Indonesia, menurut World Economic Forum, berada di peringkat ke-11 dari negara-negara dengan jumlah populasi tunawisma terbesar. 

Yaitu Nigeria (24,4 juta), Pakistan (20 juta), Mesir (12 juta), Suriah (6,5 juta), Kongo (5,3 juta), Bangladesh (5 juta), Kolombia (4,9 juta), Afghanistan (4,6 juta), Filipina (4,5 juta), Yaman (3,8 juta). Dan kesebelas, Indonesia (3 juta).

Memang, besarnya kasus tunawisma ini tak melulu terkait dengan ketersediaan rumah murah, tapi juga berhubungan dengan hal-hal yang lain. Seperti urbanisasi, Covid-19, kelangkaan lahan, pengangguran, ketimpangan, gaji yang stagnan, kemiskinan, kehilangan pekerjaan, penyitaan, kekerasan dalam rumah tangga dan lain sebagainya.

Maka dari itu, untuk mengatasi kasus tunawisma ini, membutuhkan sinergi kementerian/lembaga terkait. Prabowo sebagai top leader Kabinet Merah Putih yang paling berkompeten untuk merumahkan seluruh rakyat tanpa terkecuali.

Apalagi, target 3 juta rumah masih jauh di bawah kebutuhan rumah nasional. Tak kurang dari 10 juta keluarga yang membutuhkan rumah setiap tahun. Sehingga, terjadi kekurangan sekitar 7 juta rumah. Inilah bumi langit papan Prabowo.

Selaku pemimpin tertinggi di Republik ini, Prabowo mesti membangun kepemimpinan orkestratif dalam memenuhi kebutuhan perumahan rakyat dengan melibatkan pemerintah, properti dan perbankan. Semoga!

Penulis adalah Pendiri Eksan Institute dan Penulis Buku "Kerikil Di Balik Sepatu Anies

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

RUU Perampasan Aset Diusulkan Ganti Nama, Berikut Nomenklaturnya

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:07

Purbaya Sudah Cairkan Rp20,5 Triliun ke 490 Pemda buat Gaji PPPK

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:52

Koperasi Jadi Kunci Hilirisasi Sawit dan Penguatan Daya Tawar Petani

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:50

Songs for Sumatera-Human Initiative Pulihkan Fasilitas MIN 4 Aceh Tamiang

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:38

Subsidi Pertalite Bocor, Kelompok Kaya Masih Nikmati Kucuran Negara

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:32

Pengacara Gus Yaqut Bongkar Duduk Persoalan Pembagian Kuota Haji Tambahan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 19:16

Usai Bertemu Purbaya, Bahlil Bakal Perketat Orang Kaya yang Pakai Pertalite

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:58

12 Saksi Diperiksa, Sekretaris Kepala BGN Ikut Terseret Kasus MBG

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:46

Rudy Tanoe Irit Bicara soal Korupsi Penyaluran Bansos Usai Diperiksa KPK 4,5 Jam

Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:42

Selengkapnya