Berita

Elon Musk (Foto: variety.com)

Bisnis

Elon Musk Raup Rp400 Triliun Dalam Semalam, IHSG-Rupiah Merah

JUMAT, 25 OKTOBER 2024 | 14:51 WIB | OLEH: ADE MULYANA

PESTA besar taipan terkaya dunia asal AS mewarnai jalannya sesi perdagangan di Wall Street kemarin, Kamis 24 Oktober 2024. Adalah Elon Musk, salah satu juragan tertajir dunia pemilik pabrik mobil listrik terkemuka, Tesla, yang panen profit dalam skala jumbo. Laporan sebelumnya menyebutkan, rilis kinerja kuartalan Tesla yang lumayan mengejutkan pelaku pasar.

Namun yang lebih mengejutkan adalah proyeksi Elon Musk yang penuh keyakinan mengklaim sangat optimis bahwa pertumbuhan mobil listrik akan mencapai 20 persen hingga 30 persen pada tahun 2025. Meski proyeksi Musk ini dinilai terlalu berlebihan oleh sejumlah analis terkemuka di Wall Street, investor lebih terseret oleh buaian fantastis Musk.

Aksi akumulasi agresif akhirnya terjadi hingga melonjakkan secara brutal harga saham Tesla. Saham Tesla tercatat melambung ganas hingga 22 persen dengan menutup di $260,48 per lembarnya. Akibat lanjutannya, kekayaan Elon Musk bertambah sebesar $26 milyar (lebih dari Rp400 triliun) hanya dalam semalam. Catatan menunjukkan, gerak naik ganas saham Tesla kali ini sebagai yang tertajam dalam lebih dari satu dekade.

Lonjakan gila saham Tesla terlihat berjalan sendirian di tengah mixed nya gerak Indeks Wall Street. Elon Musk benar-benar berpesta duit sendirian di sesi perdagangan kali ini. Pantauan menunjukkan, hingga sesi perdagangan berakhir, Indeks DJIA yang justru memerah dengan turun 0,33 persen di 42.374,36, sementara indeks S&P500 naik tipis 0,21 persen di 5.809,86, dan indeks Nasdaq yang melonjak 0,76 persen di 18.415,49.

Situasi pasar secara umum terlihat biasa saja di tengah minimnya sentimen yang berkembang. Dan minimnya sentimen diyakini masih berlanjut hingga sesi penutupan pekan ini di Asia, Jumat 25 Oktober 2024. Catatan RMOL menunjukkan, agenda rilis data perekonomian terpenting untuk sesi akhir pekan ini hanya akan datang dari Jerman yang akan merilis iklim bisnis pada jam 15.00 wib dan pada jam 19.30 wib, Amerika Serikat akan merilis permintaan produk tahan lama.

Kembali minimnya sentimen yang berkembang ini, kemudian menjadi bekal keraguan bagi sesi perdagangan di Asia. Pantauan memperlihatkan, gerak Indeks di Asia yang mixed dan cenderung berada di rentang terbatas di sepanjang sesi perdagangan pagi ini. Terkini, Indeks Nikkei (Jepang) turun 0,95 persen di 37.781,15, Indeks ASX200 (Australia) naik 0,13 persen di 8.216,8, dan indeks KOSPI (Korea Selatan) menguat 0,23 persen di 2.586,89.

Arah gerak indeks di Asia yang jauh dari meyakinkan tersebut, kemudian membuat kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta cenderung terjebak dalam rentang sempit. IHSG berkali-kali menjejak zona penurunan tipis namun selalu berupaya berbalik ke zona hijau. Hingga sesi perdagangan pagi ditutup, IHSG Turun 0,14 persen di 7.706,04.

Kinerja sejumlah saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan terlihat cenderung merah sebagai cermin dari sulitnya investor mendapatkan arahan sentimen positif yang meyakinkan. Dua saham unggulan, BMRI dan TLKM mampu bertahan naik, namun sejumlah besar saham unggulan lain masih terpeleset di zona merah seperti: BBRI, BBCA, ADRO, ASII, BBNI, SIDO, JPFA, PTBA, UNVR, INDF, PGAS, ITMG dan LSIP.

Rupiah Tertahan

Kinerja bursa saham yang cenderung lesu terlihat berseiring dengan situasi di pasar uang. Nilai tukar Rupiah terpantau kembali terjebak di rentang terbatas. Laporan lebih jauh menunjukkan, gerak malas Rupiah yang terjadi di tengah masih kukuhnya tren penguatan indeks Dolar AS.

Hingga sesi perdagangan siang ini di Asia, posisi Indeks Dolar AS masih kukuh bertahan di titik terkuatnya menyusul minimnya sentimen yang tersedia. Pola ini jelas menghambarkan nilai tukar mata uang utama dunia yang kesulitan bangkit. Pantauan menunjukkan, nilai tukar Euro, Poundsterling dan Dolar Australia serta Dolar Kanada yang hingga kini masih bergulat di titik terlemahnya.

Akibatnya, mata uang asia kembali terseret dalam kelesuan. Rupiah, oleh karenanya kembali kesulitan untuk melanjutkan gerak positif yang telah berhasil dibukukan di sesi perdagangan kemarin. Hingga ulasan ini disunting, Rupiah masih bertengger di kisaran Rp15.619 per Dolar AS atau melemah 0,28 persen.

Sementara pantauan pada mata uang Asia menunjukkan gerak seragam di zona merah dan berada di rentang terbatas. Pelemahan terburuk menimpa mata uang Peso Filipina yang runtuh hingga 0,6 persen. Pelaku pasar diperkirakan akan mendapatkan arahan lebih meyakinkan pada sesi perdagangan pekan depan, seiring dengan agenda rilis data perekonomian terkini yang tersedia.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Kasus Korupsi Kuota Haji Masuk Babak Baru, Gus Yaqut Cs Dilimpahkan ke JPU KPK

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:19

Kericuhan Warnai Kongres VII BM PAN di Banten

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:12

Purbaya Bidik Ekonomi Digital hingga Sektor Informal untuk Dongkrak Penerimaan Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:10

Trump Sebut Mojtaba Khamenei Nyaris Tumbang, Militer Iran Hancur

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:08

DPR Ingin Rampungkan RUU Perampasan Aset Tahun Ini

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:00

JPO Tendean Rusak Berat Ditabrak Truk, Warga Diimbau Gunakan Jalur Alternatif

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Saham Shell Menguat Usai Divestasi Bisnis Energi Terbarukan di India

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Bantah Isu Penolakan, DPR Tegaskan RUU Perampasan Aset Masih Berproses

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:44

BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Kas Negara di Kuartal I 2026, Bukukan Kontribusi Pajak Terbesar

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:21

Indonesia Harus Benahi Regulasi dan Insentif untuk Perkuat Filantropi

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:19

Selengkapnya