Berita

Foto: AFP

Bisnis

Uni Eropa di Persimpangan Jalan Hadapi EV China

MINGGU, 06 OKTOBER 2024 | 03:42 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Sebagian negara Uni Eropa ingin agar tarif untuk kendaraan listrik buatan China dinaikkan besar-besaran. Sebagian lagi, seperti Jerman, khawatir ini akan menimbulkan perang dagang. 

Seperti dikutip dari VOA, Presiden Prancis Emmanuel Macron sempat mengatakan bahwa China memiliki kemampuan mensubsidi harga kendaraan listrik dari negeri bambu sampai ke tahap yang "tidak tertahankan."

Kanselir Jerman Olaf Scholzdi hari yang sama mengatakan, pembicaraan dengan China harus dilanjutkan, dan ia mengindikasikan Jerman mungkin abstain dari pemungutan suara.


“Lebih banyak perdagangan dengan lebih banyak mitra dari lebih banyak negara — seperti itulah manajemen risiko yang masuk akal di dunia yang tidak pasti," kata Scholz, seperti dilansir Reuters.

"Itulah sebabnya negosiasi dengan China tentang kendaraan listrik harus terus berlanjut dan mengapa kita akhirnya harus mengatasi area-area di mana impor China yang murah merugikan ekonomi kita, misalnya baja," katanya.

Bloomberg melaporkan bahwa Jerman memperkirakan sejumlah besar negara Uni Eropa akan abstain dari pemungutan suara mengenai tarif.

Produsen mobil Jerman menentang tarif, karena khawatir pembalasan dari Beijing dapat memengaruhi akses ke China, pasar terbesar mereka.

Menteri Keuangan Jerman Christian Lindner mengatakan pada hari Rabu "Perang dagang dengan China akan lebih banyak merugikan daripada menguntungkan bagi industri utama Eropa dan sektor krusial di Jerman."

Jika pemungutan suara lolos, tarif untuk kendaraan listrik China dapat mencapai 45 persen.

Beijing telah mengisyaratkan bahwa mereka dapat membalas dengan tarif untuk kendaraan Jerman dan Italia serta produk pertanian Eropa seperti susu, daging babi, dan brendi Prancis.

Menteri Perdagangan China Wang Wentao mengunjungi Eropa pada akhir September dan bertemu dengan pejabat dan pebisnis yang bertanggung jawab atas perdagangan luar negeri di UE, Belgia, Jerman, Italia, dan negara-negara manufaktur mobil lainnya untuk melobi UE agar membatalkan tarif.

Selama negosiasi, pihak Tiongkok mengusulkan untuk menetapkan harga impor minimum, tetapi pihak Eropa menolak.

Pemungutan suara ditunda dari tanggal 25 September hingga hari Jumat untuk memberikan waktu bagi konsultasi lebih lanjut antara kedua belah pihak.

Para analis yakin bahwa UE mungkin akan membuat beberapa kompromi karena kepentingan yang kompleks di dalam UE.

Ja Ian Chong, profesor madya ilmu politik di Universitas Nasional Singapura, mengatakan kepada VOA, "Karena UE terdiri dari banyak entitas nasional dengan kepentingan lintas sektor, hal ini dapat menyebabkan veto tindakan yang lebih keras, sama seperti ASEAN tidak efektif dalam menghadapi tekanan RRC (Republik Rakyat China).”

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez mengatakan selama kunjungan ke Beijing pada awal September bahwa ia akan mendesak Komisi Eropa untuk mempertimbangkan kembali kenaikan tarif pada kendaraan listrik Tiongkok.

Francesco Sisci, seorang Sinolog Italia, mengatakan kepada VOA bahwa kekuatan sentrifugal negara-negara anggota dan partai politik di dalam UE terlalu kuat untuk membuat keputusan yang sulit.

Di masa lalu, Uni Eropa "diperintah oleh mayoritas yang solid yang berpusat di sekitar partai Rakyat dan partai Sosial Demokrat serta segitiga yang terdiri dari Jerman, Prancis, dan Italia," kata Sisci. "Kedua arsitektur ini sekarang sebagian hancur."

"Partai Rakyat dan partai Sosial Demokrat masih memiliki mayoritas tetapi tipis," katanya. "Italia, dengan pemerintahan yang condong ke kanan, tidak memilih Presiden komisi saat ini, Ursula von der Leyen, dan menunda banyak kebijakan Uni Eropa."

"Jerman dan Prancis memiliki pemerintahan di dalam negeri yang dikepung oleh partai-partai kanan baru," tambahnya.

Sisci mengatakan kepada VOA Mandarin bahwa industri mobil Jerman "bergantung pada penjualan di pasar China dan berisiko tersingkir dari semua pasar karena persaingan EV China. Tidak ada alternatif yang baik atau jelas."

Meskipun EV Tiongkok memiliki keunggulan harga di pasar Eropa, para pebisnis Tiongkok yang bekerja di industri otomotif di sana lebih berhati-hati.

"Banyak konsumen Eropa memilih kendaraan listrik hibrida," kata Yang, berbicara tentang bisnisnya sendiri. 

"Laporan data tahun ini menunjukkan bahwa penjualan kendaraan listrik murni telah menurun sepertiga, sementara kendaraan listrik hibrida telah meningkat,” katanya lagi.

Ia mengatakan tarif tentu akan memengaruhi harga kendaraan listrik Tiongkok di Eropa, tetapi konsumen Eropa lebih peduli dengan faktor-faktor lain seperti masa pakai dan ketahanan mobil.

"Kendaraan listrik murni mungkin bukan pasar yang besar di Eropa," katanya.

Pemungutan suara Uni Eropa dilakukan setelah penyelidikan terhadap subsidi China untuk industri dan kenaikan tarif sebesar 100 persen pada impor kendaraan listrik China ke AS dan Kanada.

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Kasus OTT Pemalang: Anggota Polri yang Bertugas di KPK Jadi Tersangka

Kamis, 30 Juli 2026 | 10:29

UPDATE

Kejagung Pede Hadapi Febrie di Sidang Praperadilan

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:27

Gebrakan PAM Jaya Tekan Kebocoran Air Diapresiasi

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:19

FEB UNJ Dukung Pariwisata Berkelanjutan di Bali Lewat Pengabdian Masyarakat

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:01

Danantara Investasi Rp44 Triliun di JBS Group

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 02:01

Anggota PWI Jakbar Laporkan Oknum Polisi ke Propam Polda Metro, Ini Sebabnya

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:47

Bawaslu Campus Connect Jadi Solusi Tantangan Digital di Pemilu

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:28

Publik Curiga UGM Melindungi Dugaan Ijazah Palsu Jokowi

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:17

Febrie Adriansyah Siap Buka-bukaan di Sidang Praperadilan

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 01:02

Gedung Bapenda DKI Kebakaran

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 00:32

Pemerintah Diultimatum 15 Hari Terbitkan PP Cukai MBDK

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 00:13

Selengkapnya