Berita

Kapal-kapal laut Tiongkok yang bermanuver di perairan Laut China Selatan (LCS)./Reuters

Dunia

Beijing Terus Bermanuver di LCS, Abaikan Pembicaraan dengan Washington DC

RABU, 02 OKTOBER 2024 | 01:48 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Kapal dan pesawat Tiongkok akhir pekan lalu melakukan patroli di sekitar titik rawan Scarborough Shoal di Laut China Selatan. Manuver ini dilakukan Tiongkok tanpa kenal lelah untuk menegaskan klaimnya atas hampir seluruh jalur perairan tersebut yang bertentangan dengan keinginan beberapa negara lain di kawasan.

Patroli ini dilakukan menyusul serangkaian konfrontasi maritim yang menegangkan, khususnya dengan Filipina, dalam beberapa bulan terakhir. Latihan gabungan tersebut juga dilakukan bersamaan dengan latihan gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat, Australia, Jepang, Selandia Baru, dan Filipina di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Manila.

Hal lain yang perlu dicatat, latihan pihak Tiongkok itu dilakukan setelah pembicaraan antara Menteri Luar Negeri Wang Yi dan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken di New York tentang cara-cara untuk mengurangi ketegangan di kawasan tersebut.


Seperti dikutip dari Reuters, Beijing mengatakan kegiatan pelatihan di sekitar beting tersebut meliputi "pengintaian, peringatan dini, dan patroli udara-laut."

"Negara-negara tertentu di luar kawasan tersebut menimbulkan masalah di Laut China Selatan, yang menciptakan ketidakstabilan di kawasan tersebut," kata Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat.

"Pasukan teater menjaga kewaspadaan tingkat tinggi, dengan tegas membela kedaulatan nasional, keamanan, dan hak serta kepentingan maritim, (dan) tegas dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan," katanya.

"China memegang kedaulatan yang tak terbantahkan atas Pulau Huangyan dan perairan di sekitarnya," tambahnya, menggunakan nama China untuk Scarborough Shoal.

Klaim kedaulatan itu telah dipertanyakan oleh Pengadilan Arbitrase Tetap di Den Haag, yang pada tahun 2016 memutuskan bahwa klaim Beijing tidak berdasar dalam hukum internasional.

Namun pengadilan itu tidak mengatakan siapa yang memiliki kedaulatan atas Scarborough Shoal, yang direbut China dari Manila pada tahun 2012, meskipun lokasi terumbu karang itu hampir 900 km (311 mil) dari daratan China terdekat dan di dalam zona ekonomi eksklusif Filipina.

Dalam pertemuan hari Jumat (27/9), Wang dan Blinken membahas masalah yang ditimbulkan oleh meningkatnya penegasan teritorial Tiongkok di kawasan. 

"Tiongkok bersikeras menyelesaikan perbedaan dengan negara-negara yang secara langsung terkait melalui dialog dan konsultasi,” ujar Wang Yi.

Menurut Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Wang juga memberi tahu Blinken bahwa AS tidak boleh selalu menimbulkan masalah di Laut China Selatan dan tidak boleh merusak upaya negara-negara regional untuk menjaga perdamaian dan stabilitas.

Sementara Blinken mengatakan, dirinya berbicara tentang tindakan berbahaya dan tidak stabil Beijing di Laut China Selatan dan membahas peningkatan komunikasi antara militer kedua negara.

Meningkatnya ketegangan Dalam beberapa bulan terakhir, klaim Tiongkok telah menyebabkan sejumlah konfrontasi dengan Filipina, termasuk di perairan sekitar Second Thomas Shoal dan Sabina Shoal yang disengketakan.

Pada bulan Juli, kedua belah pihak mengatakan mereka telah mencapai kesepakatan sementara tentang misi pasokan ulang ke kapal Filipina, Sierra Madre, yang kandas di Second Thomas Shoal. Kapal tersebut menampung garnisun di atas kapal yang bertujuan untuk menegaskan klaim Manila atas terumbu karang tersebut.

Beijing mengatakan pada hari Jumat bahwa mereka telah "mengawasi" sebuah kapal Filipina berdasarkan kesepakatan tersebut saat mengirimkan pasokan ke kapal tersebut.

Angkatan bersenjata Filipina mengonfirmasi bahwa kapal-kapal China telah berada di dekatnya selama misi tersebut, tetapi mengatakan bahwa mereka tidak menimbulkan ancaman.

Pada bulan Agustus, Filipina mengajukan keluhan diplomatik terhadap China setelah pesawat China menjatuhkan suar di jalur pesawat patroli angkatan udara Filipina di atas Scarborough Shoal.

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Hubungan Industrial Harmonis Fondasi Penting Tingkatkan Kinerja Pelindo

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:45

Kemhan Renovasi Sekretariat LVRI dan Bedah Rumah Veteran di 19 Provinsi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:22

Seribu Lebih Ponpes Kini Bisa Kelola Dapur MBG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:45

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Polisi Tangkap Dua Orang Penghasut di Medsos terkait Pernyataan Prabowo soal Nuklir Iran

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:08

Pengusaha Nasional Didorong jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:55

IDCPC sebagai Instrumen Soft Power Diplomacy China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:35

Rencana Purbaya Kuasai Saham Whoosh Sudah Sampai ke Pemerintah China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:15

BGN Bidik Percepatan Pembangunan SPPG di Wilayah 3T

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:54

Perbankan Harus Beri Karpet Merah UMKM agar Naik Kelas

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:28

Selengkapnya