Berita

Kapolresta Bogor Kota, Kombes Bismo Teguh Prakoso/Ist

Presisi

Ngaku Jadi Warga Brunei, Seorang Pria Tipu Korban Hingga Ratusan Juta

RABU, 18 SEPTEMBER 2024 | 04:04 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Dua orang tersangka berinisial SPW dan MF dibekuk Polresta Bogor Kota. Kedua orang tersangka ini merupakan komplotan yang menggasak uang ratusan juta rupiah milik korban dengan cara menukar ATM korban dengan yang fiktif.

Dari dua tersangka itu, satu di antaranya mengaku warga negara asing (WNA) asal Brunei Darussalam berinisial SPW alias Pakcik.

Kapolresta Bogor Kota, Kombes Bismo Teguh Prakoso mengatakan, total tersangka ada 3 orang, yaitu A, SPW dan MF. Namun, untuk A belum berhasil diamankan dan sudah masuk dalam daftar pencarian orang atau DPO.


Bismo menuturkan, aksi kejahatan yang dilakukan oleh para tersangka ini berawal ketika korban bernama Faturrahman melapor kepada polisi dan menceritakan kronologi penipuan yang dialaminya. Dalam kejadian tersebut, korban mengalami kerugian hingga mencapai ratusan juta rupiah.

Lalu, korban juga menceritakan bahwa dirinya bertemu pelaku saat sedang berolahraga di seputar pedestrian Jalan Pajajaran, Kota Bogor, pada Rabu tanggal 12 Mei 2024 lalu.

Saat berolahraga, korban dihampiri oleh pelaku berinisial A dan berpura-pura mengaku seorang pengusaha dari Kalimantan Timur. Setelah itu korban dan tersangka A olahraga bersama.

"Tak lama kemudian, muncul tersangka lainnya bernama SPW alias Pakcik yang mengaku warga Brunei dan berpura-pura menanyakan tempat pusat elektronik di wilayah Kota Bogor dengan menggunakan bahasa Melayu. Lalu, tersangka A membujuk korban agar bisa mengantar SPW dan korban pun bersedia," kata Bismo di Mapolresta Bogor, dikutip Kantor Berita RMOLJabar, Selasa (17/9).

Setelah bersedia mengantar warga negara Brunei tersebut, lanjut Bismo, tersangka A menawarkan untuk naik di mobilnya yang dikendalikan oleh tersangka berinisial MF. Tidak berpikir lama, korban pun mengikuti ajakan tersangka.

"Pada saat di dalam perjalanan, tersangka SPW dari Brunei itu menawarkan HP Samsung Galaxy Flip kepada korban dengan harga satunya Rp7,5 juta dari harga aslinya sebesar Rp24 juta. Namun di situ SPW mengaku punya 300 unit sehingga ia menawarkan dengan harga Rp7,5 juta itu bukan untuk satuan tetapi harus dibeli dengan jumlah 300 unit. Dan lagi-lagi tersangka A berpura-pura ingin membelinya dengan mengajak korban untuk bisnis," bebernya.

Tersangka SPW tak percaya bahwa A memiliki banyak uang, kemudian A bersama korban dan juga SPW ke ATM untuk memperlihatkan isi uang di ATM milik A, dan saat ditunjukan isi saldo ATM milik A ada Rp999 juta. Namun saldo tersebut hanyalah fiktif karena tidak sesuai dengan mesin ATM yang seharusnya. Kemudian, korban pun sama menunjukkan saldo di ATMnya sebesar Rp115 juta.

"Nah di situ para tersangka bersepakat, bahwa ATM miliknya dan juga milik korban sama-sama menunjukkan saldo uang. Karena bermaksud untuk meyakinkan korban, tersangka A kemudian menyerahkan ATM-nya kepada korban dengan menyebut nomor PIN, begitu juga korban menyebut PIN sembari ATM-nya diserahkan kepada tersangka, dan pada saat dikembalikan ATM korban sudah ditukar dengan ATM palsu atau yang serupa," jelasnya.

Di situlah, kata Bismo, para tersangka leluasa mengambil uang korban hingga uang korban yang ada di dalam ATM sebesar Rp115 juta habis terkuras. Sedangkan, korban pada saat hendak mengambil uang ternyata ATM-nya palsu, lantaran ditukar oleh para tersangka pada saat tersangka dan korban sama-sama menunjukkan isi saldo.

"Dari laporan tersebut kita langsung bergerak mencari bukti-bukti lainnya dengan mengecek rekaman CCTV, sehingga identitas pelaku terungkap. Setelah itu, para tersangka berinisial SPW dan MF berhasil kita amankan di wilayah Cipanas Cianjur. Sedangkan tersangka A kabur melarikan diri, dan sudah kita tetapkan DPO. Kita akan terus mengejarnya," tandasnya.

Atas perbuatannya, para tersangka dikenakan pasal 378 KUHPidana tentang Penipuan, diancam dengan pidana penjara paling lama 4 tahun.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Nama Elon Musk hingga Eks Pangeran Inggris Muncul dalam Dokumen Epstein

Minggu, 01 Februari 2026 | 14:00

Said Didu Ungkap Isu Sensitif yang Dibahas Prabowo di K4

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:46

Pengoperasian RDF Plant Rorotan Prioritaskan Keselamatan Warga

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:18

Presiden Harus Pastikan Kader Masuk Pemerintahan untuk Perbaikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 13:03

Danantara Bantah Isu Rombak Direksi Himbara

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:45

Ada Kecemasan di Balik Pidato Jokowi

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:25

PLN Catat Penjualan Listrik 317,69 TWh, Naik 3,75 Persen Sepanjang 2025

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:07

Proses Hukum Berlanjut Meski Uang Pemerasan Perangkat Desa di Pati Dikembalikan

Minggu, 01 Februari 2026 | 12:03

Presiden Sementara Venezuela Janjikan Amnesti untuk Ratusan Tahanan Politik

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:27

Kelola 1,7 Juta Hektare, Agrinas Palma Fokus Bangun Fondasi Sawit Berkelanjutan

Minggu, 01 Februari 2026 | 11:13

Selengkapnya