Berita

Ilustrasi (Foto: Topbusiness.id)

Bisnis

Saham Bank Syariah Melejit 11 Persen, IHSG Menuju 8.000

RABU, 18 SEPTEMBER 2024 | 00:46 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Peringatan Maulid Nabi nampaknya menjadi momentum positif bagi sesi perdagangan saham di Indonesia, Selasa 17 September 2024. Situasi ini terlihat dari gerak fantastis saham Bank Syariah Indonesia yang melejit sendirian. Saham dengan kode BRIS tersebut sempat melonjak hingga lebih dari 11 persen di Rp3.180. BRIS kemudian mengakhiri sesi perdagangan dengan melonjak curam 8,39 persen di Rp3.100.

Tinjauan terkini menunjukkan, gerak naik BRIS dimulai sejak 9 hari sesi perdagangan sebelumnya, tepatnya 5 September. Namun gerak naik mencolok terjadi mulai 11 September. Dan lonjakan yang mengejutkan terjadi pada 17 September. Hingga ulasan ini disunting, belum tersedia sentimen yang melatari lonjakan tajam dan konsisten BRIS dalam dua pekan terakhir. Namun secara fundamental saham BRIS kini tercatat sebagai yang termahal dibanding saham bank BUMN yang ada.

Catatan menunjukkan, dengan kisaran harga saham BRIS di Rp3.100, price to book value (PBV) telah mencapai 3,4. Besaran tersebut jauh melampaui PBV BBRI ataupun BMRI dan BBNI. Sedangkan dalam tinjauan teknikal, melesatnya saham BRIS membuat tren penguatan yang baru terbentuk menjadi solid. Sekalipun potensi koreksi teknikal kini mulai menghadang, tren penguatan masih kukuh. Hal ini terlihat dari dua indikator, yaitu Bollinger bands dan MACD (moving average convergence divergence) sebagaimana terlihat pada chart berikut:


Sumber: Reuters, diolah.

Kinerja moncer BRIS terlihat semakin mencolok dibanding Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang hanya mampu membukukan kenaikan terbatas. Pantauan menunjukkan IHSG yang konsisten menapak di rentang terbatas di sepanjang sesi perdagangan dan bahkan sempat menjejak zona pelemahan tipis. IHSG kemudian menutup sesi dengan naik moderat 0,25 persen di 7.831,77. Posisi IHSG kini telah cukup dekat dengan level psikologis penting di kisaran 8.000. Level psikologis tersebut cukup mudah ditembus, bila serangkaian sentimen positif mampu bertahan hingga beberapa pekan ke depan.

Sejumlah besar saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan berhasil membukukan kenaikan dalam rentang bervariasi dan cenderung terbatas, seperti: BBNI, UNTR, ADRO, BMRI, BBCA, PTBA, ICBP, serta CPIN. Pantauan juga memperlihatkan kendati IHSG sempat mencetak rekor tertingginya kali ini, rentang kenaikan masih terbilang terbatas.

Pola gerak demikian sekaligus mencerminkan sikap investor yang cenderung menantikan kebijakan penurunan suku bunga oleh The Fed. Sentimen domestik dari rilis data neraca dagang yang mencetak surplus $2,89 miliar untuk Agustus lalu, terkesan hanya mampu mempertahankan IHSG di zona hijau. Gerak moderat IHSG kali ini juga terlihat seirama dengan kecenderungan bursa global dan regional, di mana sentimen positif masih bertahan namun rentan.

Pantauan menunjukkan, bursa saham Jepang yang kembali runtuh curam akibat terhajar sentimen meroketnya nilai tukar mata uang Yen. Hingga sesi perdagangan ditutup, indeks Nikkei terhempas 1,03 persen di 36.203,22. Pelaku pasar di Jepang kini semakin panik bila The Fed menurunkan suku bunga, yang akan kian melesatkan nilai tukar Yen. Sementara indeks ASX200 di bursa saham Australia hanya naik moderat 0,24 persen setelah berakhir di 8.140,9.

Rupiah Terus Prospektif

Kabar positif juga terjadi pada nilai tukar Rupiah di pasar uang. Pantauan memperlihatkan gerak menguat Rupiah yang konsisten di sepanjang sesi perdagangan hari ini, di tengah aksi pelaku pasar global yang mencoba mengantisipasi keputusan penurunan suku bunga oleh The Fed.

Catatan RMOL menunjukkan, The Fed yang diperkirakan akan merilis keputusan penurunan suku bunga pada Kamis dinihari jam 01.00 wib. Pelaku pasar terlihat sangat antusias menantikan langkah The Fed tersebut. Gerak mata uang utama dunia akhirnya terus terangkat hingga sesi perdagangan Selasa sore di Asia.

Mata uang Euro kini berpotensi untuk menembus level psikologis berikutnya di kisaran 1,1200 setelah sore ini mampu bertahan stabil di kisaran 1,1135. Sedangkan mata uang Poundsterling terlihat cukup mantap menginjak level psikologis nya di kisaran 1,3200. Lonjakan juga terjadi pada Dolar Australia yang kini telah mengintai level psikologis nya di kisaran 0,6800.

Serangkaian penguatan signifikan mata uang utama dunia tersebut dengan mudah mengangkat Rupiah. Hingga sesi perdagangan sore ini berlangsung, Rupiah terpantau berada di kisaran Rp15.330 per Dolar AS atau melonjak 0,42 persen. Sokongan dari sentimen domestik menyangkut rilis data neraca dagang turut andil dalam mengangkat Rupiah.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Kasus Korupsi Kuota Haji Masuk Babak Baru, Gus Yaqut Cs Dilimpahkan ke JPU KPK

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:19

Kericuhan Warnai Kongres VII BM PAN di Banten

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:12

Purbaya Bidik Ekonomi Digital hingga Sektor Informal untuk Dongkrak Penerimaan Pajak

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:10

Trump Sebut Mojtaba Khamenei Nyaris Tumbang, Militer Iran Hancur

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:08

DPR Ingin Rampungkan RUU Perampasan Aset Tahun Ini

Selasa, 14 Juli 2026 | 12:00

JPO Tendean Rusak Berat Ditabrak Truk, Warga Diimbau Gunakan Jalur Alternatif

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Saham Shell Menguat Usai Divestasi Bisnis Energi Terbarukan di India

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:56

Bantah Isu Penolakan, DPR Tegaskan RUU Perampasan Aset Masih Berproses

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:44

BRI Setor Rp19,1 Triliun ke Kas Negara di Kuartal I 2026, Bukukan Kontribusi Pajak Terbesar

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:21

Indonesia Harus Benahi Regulasi dan Insentif untuk Perkuat Filantropi

Selasa, 14 Juli 2026 | 11:19

Selengkapnya