Berita

Prabowo Subianto/Facebook

Publika

Prabowo Subianto: Patriotisme dalam Tantangan Zaman

KAMIS, 15 AGUSTUS 2024 | 15:11 WIB | OLEH: PAUL EMES*

PRABOWO Subianto adalah seorang tokoh yang keberadaannya di panggung politik Indonesia bukanlah suatu kebetulan. Kehidupan dan pandangannya terhadap dunia telah dibentuk sejak masa remajanya, ketika ia terinspirasi oleh buku-buku bacaan yang mengubah cara pandangnya terhadap dunia.

Salah satu karya yang sangat memengaruhinya adalah The Philosophy of Revolution karya Gamal Abdul Naser. Buku ini menanamkan dalam dirinya semangat patriotisme yang mendalam, dengan pandangan bahwa revolusi bukan hanya tentang menggulingkan atau menggantikan kekuasaan, tetapi tentang pembebasan dan pembangunan bangsa yang adil dan makmur.

Prabowo lahir dan dibesarkan dalam lingkungan aktivis dan pejuang, yang telah memberikan pengaruh besar pada perjalanan hidupnya. Ayahnya, yang tidak sejalan dengan rezim yang berkuasa pada masa itu, memaksa keluarganya untuk hidup berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Pengalaman ini bukan hanya menanamkan ketahanan, tetapi juga membuka mata Prabowo terhadap dinamika politik dan ekonomi internasional.


Ayahnya kemudian menjadi salah satu arsitek ekonomi Malaysia, memberikan Prabowo pandangan yang lebih luas tentang bagaimana ekonomi dapat dibangun dan dikelola untuk kepentingan rakyat.

Sebagai seorang yang kagum pada teori anti trickle-down effect sebuah konsep yang menolak teori bahwa kekayaan terakumulasi dipuncak piramida ekonomi akan secara otomatis mengakir ke masyarakat yang lebih bawah, ia Prabowo semakin terkesan oleh pidato Paus Fransiskus yang mengecam kapitalisme rakus di Amerika bebarapa tahun lalu.

Paus Fransiskus dengan tegas menyatakan bahwa sistem ekonomi yang hanya menguntungkan segelintir orang tidak dapat dibenarkan. Pandangan ini sejalan dengan keyakinan Prabowo bahwa pembangunan ekonomi harus berfokus pada kesejahteraan rakyat banyak, bukan hanya pada segelintir elite. Hal ini mendorong Prabowo untuk merenungkan kebijakan apa yang harus diambil saat ia menduduki kursi presiden NKRI 2024 -2029.

Saat ini, Prabowo akan menghadapi tantangan besar dalam menjalankan roda pemerintahan. Dengan beban utang yang besar dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang terbatas, ia harus mengatasi warisan proyek-proyek mercusuar dari pemerintahan sebelumnya. Proyek-proyek tersebut, meskipun ambisius dan bertujuan untuk meningkatkan infrastruktur dan ekonomi, telah menambah beban finansial negara. Prabowo menyadari bahwa keberlanjutan ekonomi Indonesia memerlukan kebijakan yang lebih pragmatis dan berfokus pada pemberdayaan ekonomi rakyat.

Namun, tantangan terbesar yang dihadapi Prabowo mungkin adalah bagaimana mengatasi pengaruh kaum oligarki dan penguasa pengusaha yang kini sangat kuat di sekitar kekuasaan. Para Oligarki  "peng-peng" ini, yang memiliki kekuasaan ekonomi dan politik yang besar, sering kali menjadi penghalang bagi perubahan yang berpihak pada rakyat. Prabowo harus berhadapan dengan mereka dengan bijaksana, memastikan bahwa kebijakan yang diambil tidak hanya menguntungkan segelintir elite, tetapi benar-benar untuk kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

Untuk menghadapi semua ini, Prabowo harus mengandalkan prinsip-prinsip yang telah dia pelajari sepanjang hidupnya: semangat revolusioner yang terinspirasi dari Gamal Abdul Naser, keinginan untuk membangun ekonomi yang adil seperti yang dilakukan ayahnya di Malaysia dan awal orde baru sbg arsitek ekonomi, serta tekad untuk melawan ketidakadilan kapitalisme yang rakus, sebagaimana yang dikecam oleh Paus Fransiskus. 

Prabowo berada di persimpangan sejarah, di mana ia memiliki kesempatan untuk mengarahkan bangsa ini ke arah yang lebih baik. Namun, untuk melakukannya, ia harus berani menghadapi tantangan dari dalam dan luar, dengan tetap memegang teguh pada nilai-nilai patriotisme yang telah membentuk dirinya. Mari bung rebut kembali!

Penulis adalah pemerhati kebijakan publik dan politik

Populer

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

UPDATE

Hubungan Industrial Harmonis Fondasi Penting Tingkatkan Kinerja Pelindo

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:45

Kemhan Renovasi Sekretariat LVRI dan Bedah Rumah Veteran di 19 Provinsi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 05:22

Seribu Lebih Ponpes Kini Bisa Kelola Dapur MBG

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:45

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Polisi Tangkap Dua Orang Penghasut di Medsos terkait Pernyataan Prabowo soal Nuklir Iran

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:08

Pengusaha Nasional Didorong jadi Pilar Kedaulatan Ekonomi

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:55

IDCPC sebagai Instrumen Soft Power Diplomacy China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:35

Rencana Purbaya Kuasai Saham Whoosh Sudah Sampai ke Pemerintah China

Jumat, 07 Agustus 2026 | 03:15

BGN Bidik Percepatan Pembangunan SPPG di Wilayah 3T

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:54

Perbankan Harus Beri Karpet Merah UMKM agar Naik Kelas

Jumat, 07 Agustus 2026 | 02:28

Selengkapnya