Berita

Foto ilustrasi/Net

Bisnis

Terseret Jumat Keramat, IHSG Turun 0,36 Persen

JUMAT, 19 JULI 2024 | 20:23 WIB | OLEH: ADE MULYANA

Sesi penutupan pekan ini, Jumat 19 Juli 2024 akhirnya menjadi Jumat keramat bagi Bursa Saham dan Rupiah. Sebagaimana diperkirakan sebelumnya, kepungan sentimen suram di pasar global yang memaksa pelaku pasar di Jakarta beralih melakukan tekanan jual.

Laporan sebelumnya menyebutkan, sentimen dari kebijakan pemerintahan Biden yang dipadu dengan pernyataan Donald Trump yang telah membuat investor cenderung pesimis. Pemerintahan Biden memberikan larangan yang lebih keras dan tegas ekspor produk teknologi ke perusahaan China. Tujuan dari larangan keras ini untuk menghambat kemajuan China dalam produksi chip.

Langkah Biden tersebut dengan cepat membuat rontok saham saham teknologi. Dan pernyataan Trump yang berniat menarik bayaran dari Taiwan atas penyediaan bantuan militer dan pertahanan yang disediakan oleh Washington, membuat tekanan jual pada saham teknologi semakin deras. Sentimen ini berlanjut hingga sesi perdagangan penutupan pekan ini di Jakarta, dan bahkan masih terlihat berimbas pada sesi pembukaan perdagangan di bursa utama Eropa.

Sentimen suram lain datang dari kabar terkini yang menyebutkan Biden yang semakin didesak untuk mundur dari kontestasi Pilpres AS.

Runtuhnya bursa Asia akhirnya sulit dihindarkan, dan Indeks di Asia dengan seragam jatuh dalam zona suram. Hingga sesi perdagangan berakhir, Indeks Nikkei (Jepang) melemah moderat 0,16 persen di 40.063,79, sementara indeks KOSPI (Korea Selatan) terpangkas 1,02 persen di 2.795,46, dan Indeks ASX 200 (Australia) merosot 0,81 persen di 7.971,6. Pantauan lebih rinci menunjukkan, Indeks Nikkei yang sempat mampu bertahan di zona penguatan tipis namun akhirnya tergelincir merah hingga sesi perdagangan ditutup.

Pola berbeda terlihat di Bursa Saham Indonesia, di mana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terlihat konsisten menapak zona merah di sepanjang sesi perdagangan. Gerak melemah IHSG bahkan terlihat kukuh hingga menjelang perdagangan ditutup. IHSG kemudian menutup sesi dengan merosot 0,36 persen di 7.294,49. Tidak seperti pada sesi perdagangan kemarin, IHSG terlihat tak memiliki sedikit pun nyali untuk melawan sentimen suram kali ini.

Nyaris seluruh Saham unggulan yang masuk dalam jajaran teraktif ditransaksikan terkoreksi dalam sesi kali ini. Namun pada detik akhir penutupan sesi, sejumlah saham unggulan berbalik positif, seperti: BBRI naik 0,2 persen di Rp 4.900, dan BBNI naik 0,49 persen di Rp 5.100, serta BBCA yang naik 0,24 persen di Rp 10.125. Sedangkan saham unggulan lain terlihat masih bergulat di zona pelemahan, seperti: BMRI melemah 0,38 persen di Rp 6.525, ASII turun 0,22 persen di Rp 4.530, dan TLKM terjungkal 2,18 persen di Rp 3.140.

Saham unggulan lain di jajaran teraktif ditransaksikan yang mampu konsisten menapak penguatan tajam datang dari sektor tambang batu bara, seperti ADRO yang melonjak 2,31 persen di Rp 3.100 dan PTBA naik 0,38 persen di Rp 2.630. Dua saham tersebut mampu konsisten menapak zona kenaikan tajam di sepanjang sesi perdagangan.

Rupiah Kembali Merosot

Situasi serupa juga terjadi di pasar uang, di mana seluruh mata uang Asia kompak melemah dalam menutup pekan ini. Pelemahan terburuk kembali ditorehkan mata uang Baht Thailand disusul Ringgit Malaysia.

Laporan lebih jauh juga menunjukkan, nilai tukar Dolar Australia yang kembali melanjutkan aksi diskon seiring dengan mata uang utama Dunia lainnya. Situasi ini dengan mudah memaksa Rupiah terseret dalam pelemahan.

Pelaku pasar masih terus melakukan aksi jual mata uang Asia, menyusul sentimen ekspektasi ketdakpastian bila Trump memenangkan pilpres AS. Aksi jual semakin terkukuhkan akibat sejumlah mata uang Asia telah mengalami penguatan dalam beberapa pekan sebelumnya.

Terkhusus pada mata uang Rupiah, gerak melemah terlihat semakin terbatas. Hingga sesi perdagangan sore ini berlangsung, Rupiah tercatat ditransaksikan di kisaran Rp 16.185 per Dolar AS atau melemah 0,23 persen. Pantauan menunjukkan, Rupiah yang sempat melemah hingga kisaran Rp 16.219 per Dolar AS, namun secara perlahan mampu berbalik mengikis pelemahan. Pola gerak Rupiah kali ini sekaligus mengindikasikan mulai terbatasnya tekanan jual.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

OASE III PTKIN 2026: UIN Sunan Kalijaga Raih Juara Umum

Sabtu, 07 November 2026 | 08:19

Wall Street Rebound, Nasdaq Masih Babak Belur

Sabtu, 07 November 2026 | 08:05

Luruskan Tudingan Rekayasa, Muhammad Munawar: Proses Etik Dasaad Dilakukan secara Kelembagaan

Sabtu, 07 November 2026 | 07:38

Siapa Stephen Miller, Orang Kepercayaan Trump yang Jadi Kepala Staf Gedung Putih?

Sabtu, 07 November 2026 | 07:28

Gejolak Politik AS dan Krisis Prancis Tekan Pasar Saham Eropa

Sabtu, 07 November 2026 | 07:10

Ahmad Doli Kurnia dan Masa Depan Golkar

Sabtu, 07 November 2026 | 06:50

Penyadapan Presiden Bukan Pengalihan Isu, Tapi Operasi Terorganisir

Sabtu, 07 November 2026 | 06:25

Palestina dan Percaturan Imperium Global

Sabtu, 07 November 2026 | 05:59

Penyadapan Prabowo Ancaman Serius terhadap Negara

Sabtu, 07 November 2026 | 05:41

Kasus Listyo Sigit Momentum Evaluasi Sistem Keamanan Nasional

Sabtu, 07 November 2026 | 05:18

Selengkapnya