Berita

Ilustrasi/Net

Kesehatan

Ahli: Tidak Ada Bukti Air Galon Guna Ulang Sebabkan Gangguan Kesehatan

KAMIS, 18 JULI 2024 | 17:16 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Pelabelan BPA, zat kimia berbahaya, tidak menyurutkan minat masyarakat pada air minum dalam kemasan (AMDK) galon guna ulang sebagai air minum sehari-hari. 

Apalagi sejauh ini tidak ada bukti bahwa air minum kemasan telah menimbulkan penyakit berbahaya. 
 
Salah seorang konsumen AMDK galon guna ulang mengatakan tidak peduli dengan adanya aturan-aturan pelabelan BPA itu. Bagi pria Bernama Amran, adanya berita-berita miring terkait air galon guna ulang ini hanya bagian dari persaingan usaha semata. 


“Biasalah, kalau orang lagi bersaing itu pasti akan berusaha untuk menjelek-jelekkan produk pesaingnya agar jualannya laku,” ujar ayah dari satu anak yang tinggal di daerah Cimanggis, Depok ini. 
 
Dia mengakui sudah lama mengkonsumsi air galon guna ulang ini bersama anak dan isterinya. 

“Buktinya, saya, istri dan anak-anak saya tidak apa-apa kok. Malah, dokter menganjurkan kami agar minum air yang sehat seperti air galon,” ungkapnya. 
 
Magdalena yang tinggal di daerah Cipayung, Jakarta Timur, juga mengungkapkan  hal senada. Dia mengatakan sudah mengonsumsi air kemasan galon guna ulang ini sejak kecil. 

“Tapi saya hingga saat ini sehat-sehat saja kok, tidak ada penyakit macam-macam seperti yang diberitakan di media-media. Jadi, bagi saya, adanya rumor-rumor soal BPA galon guna ulang itu tidak terpengaruhlah. Paling itu cuma persaingan usaha saja dari kompetitornya,” ucap wanita yang saat ini sedang kuliah di salah satu universitas di Depok ini. 
 
Begitu juga dengan Ruli, yang tinggal di daerah Cisalak, Depok, juga bersikap sama. Dia juga menyatakan tidak peduli sama sekali dengan rencana pelabelan BPA di kemasan galon guna ulang.

“Saya memang baca berita-berita terkait BPA ini yang menyudutkan galon guna ulang. Tapi, bagi saya dan keluarga tetap akan menggunakan air kemasan galon guna ulang ini. Selain sehat dan rasanya yang enak, dengan menggunakan galon ini juga tidak nyampah,” tukas pria yang memiliki empat anak ini. 
 
Sebelumnya, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia Prof. DR. dr. Aru Wisaksono Sudoyo, SpPD-KHOM, FINASIM, FACP mengatakan belum ada bukti air galon guna ulang menyebabkan penyakit kanker seperti yang diberitakan di media-media. 

Menurutnya, 90-95 persen kanker itu berasal dari lingkungan atau environment. 

“Kebanyakan karena paparan-paparan gaya hidup seperti kurang olahraga dan makan makanan yang salah, merokok, dan lain sebagainya. Jadi belum ada penelitian air galon itu menyebabkan kanker,” ujarnya. 
 
Dr. M. Alamsyah Aziz, SpOG (K), M.Kes., KIC, dokter spesialis kandungan yang juga Ketua Pokja Infeksi Saluran Reproduksi Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI), juga mengatakan sampai saat ini dirinya tidak pernah menemukan adanya gangguan terhadap janin karena ibunya minum air galon. 
 
Karenanya, dia meminta para ibu hamil agar tidak khawatir menggunakan kemasan AMDK galon guna ulang ini, karena aman sekali dan tidak berbahaya terhadap ibu maupun pada janinnya. 
 
Hal senada juga disampaikan Dokter spesialis kandungan dr Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS. Dia mengatakan hingga kini belum ada satu penelitian pun yang membuktikan AMDK galon guna ulang menyebabkan terjadinya infertilitas. Menurutnya, itu hanya dugaan-dugaan saja. 

“Itu belum ada penelitiannya. Itu hanya dugaan-dugaan saja,” katanya.
 
Dia mengibaratkan isu itu seperti mecin yang dilarang karena disebut-sebut bisa memicu penyakit kanker. 

“Katanya bisa meracuni, tapi kan harus ada bukti-buktinya juga. Jadi, belum ada temuan-temuan apakah AMDK itu terkait dengan infertilitas,” ucapnya. 
 
Dokter spesialis anak yang juga Guru Besar Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr.dr. Rini Sekartini, Sp.A (K) juga mengatakan hingga saat ini belum ada bukti bahwa air galon guna ulang biru bisa menyebabkan penyakit autis pada anak. 

“Tidak ada kajian tentang pengaruh air dari galon guna ulang dengan penyakit autis pada anak. Sebab, belum ada buktinya juga,” ujarnya. 
 
Dia menuturkan bahwa autis atau autisme itu merupakan masalah atau gangguan perilaku pada anak yang disebabkan banyak faktor, salah satunya faktor genetik.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Bursa Asia Awali November di Zona Merah

Senin, 02 November 2026 | 08:21

Laba Samindo Resources Melonjak 53 Persen, Efisiensi Biaya Jadi Penopang

Senin, 02 November 2026 | 07:55

Jet Pribadi Jatuh dan Meledak Dekat Permukiman, Sembilan Orang Tewas

Senin, 02 November 2026 | 07:40

Dituding Manipulasi Suara, Ketua KPU India Didesak Mundur

Senin, 02 November 2026 | 07:20

OJK: Tak Ada Dua Sanksi untuk Satu Pelanggaran di Pasar Modal

Senin, 02 November 2026 | 07:06

Polda Metro Tak Cukup Minta Maaf soal “Mahasewa Bayaran”

Senin, 02 November 2026 | 06:40

Kelurahan Berperan Besar Menuju Jakarta Kota Global

Senin, 02 November 2026 | 06:36

Potensi Pasar Asuransi Syariah RI Masih Besar

Senin, 02 November 2026 | 06:00

PPP NTB Protes Mardiono Asal Pecat Pengurus

Senin, 02 November 2026 | 05:39

Ketika Syarat Konstitusional Wapres Dipersoalkan

Senin, 02 November 2026 | 05:26

Selengkapnya