Berita

Kelompok sayap kiri terkemuka, Jean-Luc Melenchon menyampaikan pidato di markas malam pemilihan partai pada Minggu malam, 7 Juli 2024/Net

Dunia

Sayap Kanan Gagal Menang di Pemilu Putaran Kedua Prancis

SENIN, 08 JULI 2024 | 10:41 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Harapan koalisi sayap kanan National Rally untuk memimpin Prancis kandas setelah hasil pemilu putaran kedua menunjukkan mereka hanya berada di posisi ketiga dengan 140 kursi.

Sementara kursi terbanyak dimenangkan oleh koalisi sayap kiri Front Populer Baru dengan 180 kursi dan posisi kedua diisi oleh aliansi tengah Presiden Emmanuel Macron 160 kursi.

Menurut hasil resmi yang dirilis Senin pagi (8/7), ketiga blok utama tersebut tidak mampu mencapai 289 kursi yang dibutuhkan untuk mengendalikan Majelis Nasional yang memiliki 577 kursi, yang merupakan badan legislatif yang lebih berkuasa di Perancis.


Hasil ini membuat Perancis, yang merupakan pilar Uni Eropa dan negara tuan rumah Olimpiade, menghadapi kemungkinan besar berupa parlemen yang digantung dan kelumpuhan politik.

Karena koalisi sayap tengah berada di urutan kedua, Perdana Menteri Gabriel Attal, berencana mengajukan pengunduran diri pada Senin (8/7).

Dia tahu bahwa pqeq pemerintahan berikutnya dia tidak akan bisa memimpin. Oleh sebab itu Attal akan mundur dan menyelesaikan sisa masa jabatannya hingga Olimpiade Paris.

“Negara kami sedang menghadapi situasi politik yang belum pernah terjadi sebelumnya dan sedang bersiap menyambut dunia dalam beberapa minggu,” ungkap Attal, seperti dimuat Associated Press.

Para pendukung sayap kiri bersorak dan bertepuk tangan ketika proyeksi menunjukkan bahwa aliansi tersebut kemungkinan besar menang dalam pemilu kedua.

Teriakan kegembiraan juga terdengar di alun-alun Republique di timur Paris, dengan orang-orang secara spontan memeluk orang asing dan tepuk tangan tanpa henti selama beberapa menit setelah hasil awal diumumkan.

Marielle Castry, seorang sekretaris medis mengaku lega karena sayap kanan tidak jadi menang.

"Semua orang mempunyai ponsel pintarnya masing-masing dan menunggu hasilnya, lalu semua orang sangat gembira,” ujarnya.

Pemimpin koalisi sayap kiri yang paling terkemuka, Jean-Luc Mélenchon, mengatakan pihaknya siap untuk memerintah.

Koalisi Front Populer Baru  tersebut dengan cepat mengesampingkan perbedaan dan bergabung bersama dalam aliansi sayap kiri yang baru.

Mereka berjanji untuk membatalkan banyak reformasi utama Macron, memulai program belanja publik yang sangat mahal dan mengambil tindakan yang jauh lebih keras terhadap Israel karena perang dengan Hamas.

Macron menggambarkan  Front Populer Baru sebagai koalisi yang ekstrim dan memperingatkan bahwa program ekonominya yang menghabiskan puluhan miliar euro dapat berdampak buruk bagi Prancis, yang sudah dikritik oleh pengawas Uni Eropa karena utangnya.

Namun, para pemimpin Front Populer Baru segera mendorong Macron untuk memberikan kesempatan pertama kepada aliansi tersebut untuk membentuk pemerintahan dan menunjuk perdana menteri.

Meski sayap kanan National Rally meraih lebih banyak kursi dibanding pemilu sebelumnya, partai anti-imigrasi yang memiliki hubungan historis dengan antisemitisme dan rasisme gagal mencapai harapannya untuk mendapatkan mayoritas absolut.

“Kecewa, kecewa,” kata pendukung sayap kanan Luc Doumont, 66 tahun.

Setelah sayap kanan meraih posisi teratas dalam pemungutan suara putaran pertama minggu lalu, para pesaingnya berusaha menyabotase kemenangan  tersebut dengan secara strategis menarik kandidat dari banyak distrik.

Hal ini menyebabkan banyak kandidat sayap kanan bersaing satu sama lain hanya dengan satu lawan, sehingga lebih sulit bagi mereka untuk menang.

Banyak pemilih yang berpikir bahwa menjauhkan kelompok sayap kanan dari kekuasaan adalah hal yang lebih penting, bahkan jika harus mendukung calon-calon yang bukan berasal dari kubu politik yang biasanya mereka dukung.

Namun, pemimpin Partai RN, Le Pen yang diperkirakan akan mencalonkan diri untuk keempat kalinya sebagai presiden Prancis pada tahun 2027 menilai hasil pemilu ini sebagai pijakan.

“Kenyataannya adalah kemenangan kita hanya tertunda,” ujarnya.

Pernyataan dari kantor Macron mengindikasikan bahwa dia tidak akan terburu-buru mengundang calon perdana menteri untuk membentuk pemerintahan.

Dikatakan bahwa dia sedang mengamati hasilnya dan akan menunggu Majelis Nasional yang baru terbentuk sebelum mengambil keputusan yang diperlukan.

Macron segera mempercepat pemilu legislatif setelah sayap kanan menang dalam pemilihan Uni Eropa.

Dia awalnya berharap para pemilih dapat beralih dari sayap kanan dan kiri dan kembali ke partai-partai arus utama yang lebih dekat ke tengah, di mana Macron mendapatkan banyak dukungan yang membuatnya memenangkan kursi kepresidenan pada tahun 2017 dan sekali lagi pada tahun 2022.

Namun alih-alih mendukungnya, jutaan pemilih memanfaatkan keputusan mengejutkan tersebut sebagai kesempatan untuk melampiaskan kemarahan mereka terhadap inflasi, kejahatan, imigrasi, dan keluhan lainnya, termasuk gaya pemerintahan Macron.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

UPDATE

Jenderal Agus Subiyanto Tinjau Gladi Bersih Upacara HUT Ke-81 TNI

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 18:11

Rayakan Milad ke-81, GPI Gelar Sidang Dewan Organisasi di Bogor

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:22

Jalan Panjang Brigjen Ami Prindani Hingga Jadi Kadensus 88 Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Kurikulum Berbasis Cinta Dorong Pesantren Tanamkan Kesadaran Ekologi

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:47

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

PKPA Peradi Profesional Raih Rekor MURI Peserta Terbanyak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:52

Trump Pangkas Dana Iklim Global, Program Konservasi Orangutan RI Ikut Kena Imbas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 15:22

Ekspor Lesu - Stok Melonjak: Harga Minyak Sawit Mentah Catat Penurunan Mingguan Kedua

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:57

PP GPI Apresiasi Gebrakan Reformasi Suyudi di Tubuh Polri

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:45

DOJ Tutup Kasus Powell, Proyek Renovasi Fed Masih Berujung Audit

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 14:31

Selengkapnya