Berita

Aksi mengecam pembantaian Urumqi oleh rezim Beijing di Jakarta tahun 2023./Liputan 6

Dunia

Dolkun Isa: Genosida terhadap Uighur Dimulai Tiongkok 15 Tahun Lalu

MINGGU, 07 JULI 2024 | 07:52 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

  Catatan hak asasi manusia China yang dan kebijakan eksploitasi ekonomi internasionalnya, khususnya di Afrika, kembali dikecam di forum internasional.

Kali ini kecaman disampaikan Presiden Kongres Uighur Dunia, Dolkun Isa, yang berbicara pada forum untuk memperingati 15 tahun pembantaian Urumqi tahun 2009.

Dia mengatakan, tanggal 5 Juli adalah hari paling kelam dalam sejarah perjuangan Uighur karena 15 tahun lalu genosida terhadap Uighur dimulai oleh Tiongkok. .


“Hari ini adalah peringatan 15 tahun pembantaian Urumqi tahun 2009. Ribuan pemuda Uighur berdemonstrasi untuk mencari keadilan, namun Tiongkok membunuh lebih dari 1.000 dari mereka, dan banyak yang hilang. Saat ini, 15 tahun kemudian, masih belum ada kabar tentang mereka yang hilang. Tanggal 5 Juli adalah hari tergelap dalam sejarah perjuangan Uighur. Lima belas tahun yang lalu, genosida terhadap Uighur dimulai oleh Tiongkok,” kata Dolkun Isa.

Dia lebih lanjut meminta komunitas internasional untuk mengambil tindakan dan menghentikan genosida yang sedang berlangsung ini.

“Saya menyerukan kepada komunitas internasional: jutaan orang menderita di kamp konsentrasi. Negara-negara yang telah menandatangani Konvensi Internasional tentang Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida memiliki kewajiban hukum untuk menghentikan genosida Uyghur dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang sedang berlangsung. Sayangnya, kita melihat banyak negara tetap diam, jadi inilah saatnya bagi seluruh umat manusia dan semua negara untuk mengambil tindakan dan menghentikan genosida yang sedang berlangsung ini,” tambahnya.

Dolkun, yang saat ini berpartisipasi dalam Sesi ke-56 Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, menyatakan ketidakpuasannya pada penolakan Tiongkok terhadap sejumlah rekomendasi PBB selama Tinjauan Berkala Universal (UPR).

“Tiongkok menolak banyak rekomendasi. Pada tanggal 24 Januari tahun ini, Tinjauan Berkala Universal (UPR) mengenai Tiongkok diadakan di Dewan Hak Asasi Manusia PBB. Setidaknya enam bulan telah berlalu, dan saat ini Tiongkok telah menolak banyak rekomendasi, dan hanya mengadopsi beberapa di antaranya,” ujar Dolkun Isa.

Dalam sebuah wawancara, dia menyebutkan permasalahan yang dihadapi warga Uighur.

“Masalah yang paling serius, seperti penahanan sewenang-wenang, kejahatan terhadap kemanusiaan, penghilangan paksa, dan penangkapan jurnalis dan pembela hak asasi manusia, semuanya merupakan rekomendasi penting yang ditolak oleh pemerintah Tiongkok”, katanya lagi seperti dikutip dari ANI.

Dolkun juga bereaksi terhadap keputusan Uni Eropa baru-baru ini yang menaikkan tarif kendaraan listrik Tiongkok untuk melindungi industri otomotif di blok tersebut.

“Tiongkok mengekspor banyak mobil listrik, yang merupakan masalah penting di Eropa karena Tiongkok benar-benar menghancurkan bisnis dan industri mobil Eropa,” kata Dolkun, seraya menambahkan bahwa mobil-mobil ini diproduksi menggunakan kerja paksa, dan jutaan warga Uighur yang dieksploitasi.

“Orang mengatakan mobil listrik mewakili energi ramah lingkungan, namun hal ini tidak benar karena 47 persen baterainya berasal dari kerja paksa Uyghur. Jadi, ini bukanlah energi bersih; itu adalah energi hitam. Pemerintah Tiongkok memproduksi mobil murah karena kerja paksa, termasuk warga Uighur dan lainnya,” sambung Dolkun Isa.

Aktivis hak asasi manusia Uighur ini juga menyampaikan keprihatinan serius atas pertumbuhan pendanaan, proyek, dan peluncuran bisnis Tiongkok di benua Afrika.

“Tiongkok sedang memperluas bisnisnya di Afrika. Saya yakin beberapa negara Afrika telah menyadari jebakan yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat Afrika. Tiongkok tidak pernah membantu orang atau negara lain tanpa motif tersembunyi. Selalu ada sesuatu di balik bantuan atau proyek keuangan Tiongkok,” masih katanya

Dia mencontohkan Koridor Ekonomi Tiongkok-Pakistan (CPEC) senilai lebih dari 60 miliar dolar AS yang tidak memberikan manfaat apa pun kepada masyarakat Sindhi, Baloch, atau bahkan masyarakat Pakistan lainnya. Ini hanya menguntungkan pemerintah Tiongkok. Hal yang sama terjadi saat ini di Afrika.

Dolkun mengatakan bahwa ketika ada orang yang menyoroti masalah di Tiongkok, mereka mengklaim bahwa itu adalah masalah internal, namun mereka terus mencampuri urusan orang lain.

“Saya berpendapat bahwa masalah Tibet, masalah Hong Kong, dan masalah Turkistan Timur bukanlah masalah internal Tiongkok; mereka semua adalah negara-negara yang diduduki. Ini adalah isu-isu internasional. Genosida adalah masalah internasional. Hak asasi manusia bersifat universal dan bukan merupakan masalah internal, namun Tiongkok selalu menyebut hal ini sebagai masalah internalnya,” demikian Dolkun Isa.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Kemendag: Wajib Halal Bukan Pelarangan Impor

Sabtu, 26 September 2026 | 06:30

Baznas dan Komite Bantuan Kepresidenan Palestina Perkuat Kerja Sama Kemanusiaan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:12

Instruksi Prabowo soal Kuliah Gratis PTN Harus Diprioritaskan

Sabtu, 26 September 2026 | 06:00

Serba ‘Tidak’ di Sidang Gibran

Sabtu, 26 September 2026 | 05:41

Cuma Tambah Dua Perunggu, Peringkat Indonesia Merosot

Sabtu, 26 September 2026 | 05:17

Jalur Sepeda Jangan cuma Jadi Pajangan

Sabtu, 26 September 2026 | 05:00

Benarkah Pengganti Gibran Sudah Ada?

Sabtu, 26 September 2026 | 04:29

Korlantas Polri Luncurkan Empat Inovasi Digital

Sabtu, 26 September 2026 | 04:18

Jangan Istimewakan Oknum DPRD Diduga Bakar Lahan

Sabtu, 26 September 2026 | 04:00

Kepala BNPB Minta Maaf soal Karhutla: Klarifikasi Istilah 'Normal'

Sabtu, 26 September 2026 | 03:46

Selengkapnya