Berita

Para pekerja bidang teknologi yang tergabung dalam No Tech for Apartheid (NOTA) melakukan aksi demo di luar kantor Google di San Francisco/Ner

Tekno

Protes Genosida Israel, Ribuan Ahli Teknologi Menolak Kerja di Google dan Amazon

RABU, 19 JUNI 2024 | 12:53 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Para pekerja bidang teknologi yang tergabung dalam No Tech for Apartheid (NOTA) telah mengajukan tuntutan agar perusahaan teknologi besar membatalkan kontrak mereka dengan pemerintah Israel.

Sebagai upaya untuk memberikan tekanan, lebih dari 1.100 orang yang mengidentifikasi diri mereka sebagai mahasiswa dan pekerja muda Sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM), berjanji bahwa mereka tidak akan bekerja dengan Google dan Amazon.

Mereka beralasan hal itu hanya akan memperkuat sistem Apartheid Israel dan melakukan genosida terhadap warga Palestina. Berdasarkan situsnya, tujuan NOTA adalah mengumpulkan 1.200 tanda tangan untuk kampanye tersebut.


“Sebagai generasi muda dan pelajar di bidang STEM dan sekitarnya, kami menolak untuk mengambil bagian dalam pelanggaran yang mengerikan ini. Kami bergabung dengan kampanye #NoTechForApartheid untuk menuntut Amazon dan Google segera mengakhiri Project Nimbus,” demikian bunyi janji tersebut, seperti dikutip dari Engadget, Rabu (19/6).

Kampanye tersebut muncul setelah Google dan Amazon memenangkan kontrak senilai 1,2 miliar dolar AS di bawah Proyek Nimbus untuk menyediakan komputasi awan, pembelajaran mesin, dan layanan kecerdasan buatan kepada pemerintah dan militer Israel.

Seorang juru bicara Google sebelumnya membantah bahwa kontrak Nimbus perusahaannya berkaitan dengan beban kerja yang sangat sensitif, rahasia, atau militer yang relevan dengan senjata atau badan intelijen.

Dilaporkan bahwa pendukung kampanye ini termasuk mahasiswa sarjana dan pascasarjana dari Stanford, UC Berkeley, Universitas San Francisco dan San Francisco State University, sebuah institusi yang berlokasi di negara bagian yang sama dengan kantor pusat Google.

NOTA juga telah mengorganisir aksi-aksi yang memprotes keterlibatan perusahaan teknologi dengan Israel di masa lalu, termasuk aksi duduk dan pengambilalihan kantor yang menyebabkan Google memecat puluhan pekerjanya.

Pada bulan Maret, salah satu penyelenggaranya dipecat dari Google setelah menyela salah satu eksekutifnya di sebuah konferensi teknologi Israel di New York dan dengan lantang menyatakan bahwa ia menolak untuk membangun teknologi yang mendukung genosida atau pengawasan.

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Prabowo Berpeluang Digeruduk Demo Besar Usai Lebaran

Rabu, 11 Maret 2026 | 06:46

Golkar Berduka, Putri Akbar Tandjung Wafat

Rabu, 11 Maret 2026 | 15:27

Mengenal Bupati Rejang Lebong M Fikri yang Baru Terjaring OTT

Selasa, 10 Maret 2026 | 06:15

Rismon Ajukan RJ Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Dokter Tifa: Perjuangan Memang Berat

Kamis, 12 Maret 2026 | 03:14

UPDATE

Nyepi di Tengah Ramadan Perkuat Persaudaraan Lintas Iman

Kamis, 19 Maret 2026 | 10:01

Bedah Trailer 'Spider-Man: Brand New Day', Mengungkap Daftar Pemain dan Kandidat Musuh Utama

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:49

Volume Kendaraan Tol Trans Jawa Naik Signifikan

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:47

Kepadatan Tol Jakarta-Cikampek Berlanjut hingga Pagi

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:20

TNI Disarankan Ambil Alih Penanganan Kasus Andrie Yunus dari Kepolisian

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:14

Inspirasi Ucapan Hari Raya Nyepi 2026 yang Penuh Kedamaian

Kamis, 19 Maret 2026 | 09:12

Dokter Tifa Bantah Rumor Temui Jokowi

Kamis, 19 Maret 2026 | 08:47

Dampak Perang Iran, Bank Sentral UEA Gelontorkan Paket Penopang Likuiditas

Kamis, 19 Maret 2026 | 08:46

Dugaan Perintah Atasan di Balik Teror Aktivis Harus Diungkap

Kamis, 19 Maret 2026 | 08:25

Mudik Lebaran Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah

Kamis, 19 Maret 2026 | 08:08

Selengkapnya