Berita

Ilustrasi Foto/Net

Pertahanan

Multifungsi TNI Jadi Kemunduran Reformasi Kelembagaan

MINGGU, 09 JUNI 2024 | 03:15 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Viralnya statemen Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto tentang multifungsi TNI menuai sorotan.

Direktur Merah Putih Strategic Institute (MPSI) Noer Azhari menilai multifungsi TNI memiliki sisi negatif.

Menurut dia contoh masih tingginya penggunaan personel aktif sebagai asisten pribadi (Aspri) dan sopir pribadi oleh purnawirawan TNI menuai keprihatinan berbagai pihak, ini berkesan reformasi kelembagaan TNI terjadi kemunduran.


"Reformasi kelembagaan TNI terkesan terjadi kemunduran, sebab penyalahgunaan personel aktifnya sebagai Aspri dan supir pribadi masih sangat tinggi oleh para purnawirawan," ungkap Noer kepada Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu malam (8/6).

Kecenderungan potensial dan faktual militeristik bersifat intervensionis, cenderung melakukan campur tangan permanen, dan memiliki kekuatan untuk mewujudkan perubahan fundamental kelembagaan militer.

"Aspek penyalahgunaan militer aktif jenis ini akan menjadi bumerang yang berbahaya, bisa  merusak integritas secara kelembagaan bila tidak sesuai koridor hukum," tuturnya.

Dalam catatan MPSI, terdapat 7 indikator kemunduran reformasi kelembagaan TNI.

"Pertama baginya masalah kultur yang kuat dan citra aparat cenderung arogan masih sangat kental, ini diindikasikan gap senioritas meskipun sudah pensiun dan tidak menjabat apapun di pemerintahan masih saja menggunakan fasilitas negara untuk kepentingan pribadinya," jelasnya.

Salah satu langkah reformasi paling signifikan adalah pemisahan TNI dan Polri pada tahun 1999. Namun, bagi Noer masalah rendahnya profesionalisme jadi faktor kedua.

"Reformasi ini juga bertujuan untuk meningkatkan profesionalisme institusi. Namun, dengan maraknya para pensiunan menggunakan fasilitas negara hanya karena faktor pejabat aktif segan ataupun takut pada seniornya jadi terpaksa mereka kabulkan permintaan seniornya tersebut. Ini kan lucu mereka kan personel aktif mengabdi untuk negara bukan untuk perseorangan. Hal ini memunculkan kesan kelembagaan yang partisan," beber dia.

Catatan ketiga, berimplikasi pada masalah hak asasi manusia personel aktif tersebut.

"Salah satu tujuan reformasi adalah memastikan bahwa baik TNI menghormati dan melindungi hak asasi manusia. Mencakup masalah HAM anggotanya, mereka direkrut dan dilatih sebagai alat negara, nyatanya digunakan untuk kepentingan pribadi," jelasnya lagi.

Lanjut Noer, catatan keempat berimbas pada lemahnya transparansi dan akuntabilitas kelembagaan.

"Reformasi juga menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam kedua lembaga ini, termasuk pengawasan terhadap tindakan aparat TNI, serta penerapan sanksi yang tegas terhadap pelanggaran dalam penyalahgunaan personilnya," ungkapnya lagi.

Kelima, kata dia, penguatan fungsi publik dalam partisipasi pengawasan kelembagaan.

"Pimpinan TNI, bukan sekedar perlu mendengar riak-riak suara rakyat tentang sorotan terhadap kelembagaannya, tapi juga serius menindaklanjutinya sebab sekecil apapun komentar publik ini adalah semangat reformasi untuk bangun citra kelembagaan yang positif," terangnya.

Keenam, mengenai lemahnya pengawasan dan pengendalian personel.

"Akibat lemahnya pengendalian personil ini yang ditugaskan atau digunakan oleh para pensiunan yang tidak lagi mengabdi bagi negara. Akhirnya personel aktif ini bisa liar. Sebab, tidak ada pembinaan satuan (binsat) yang jadi ciri khas lembaga ini", tegasnya.

Masih kata Noer, ketujuh adalah penyalahgunaan personel aktif berimbas pada masalah tata kelola kelembagaan pada prinsip efisiensi.

"Reformasi kelembagaan juga mencakup pada masalah tata kelola dengan prinsip efisiensi, penyalahgunaan personil aktif tanpa porsinya berdampak pada "fraud", dimana personel aktif ini digaji dengan uang negara, namun bekerja bukan pada porsinya," tukas dia.

Menurutnya, reformasi kelembagaan TNI, semestinya merupakan proses yang butuh komitmen kuat.

"Membutuhkan komitmen yang kuat dari semua pihak terkait untuk memastikan bahwa TNI benar-benar berfungsi sebagai institusi yang profesional, Sehingga terdapat dua variabel penting dalam profesionalisme, yakni pengawasan (control) dan kecakapan (skills). Sehingga TNI secara akuntabel bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya untuk negara dan rakyat, jangan disalahartikan karena faktor, mentang-mentang," tutupnya.

Populer

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Cek Siaran Langsung Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Selasa, 22 September 2026 | 02:21

DPRD DKI Apresiasi Kebijakan Penutupan TPS Ilegal

Selasa, 22 September 2026 | 02:01

Indonesia Rebut 7 Medali di Aichi-Nagoya

Selasa, 22 September 2026 | 01:42

Ditjen AHU Perkuat Pengawasan Korporasi

Selasa, 22 September 2026 | 01:23

Wamendagri Ribka Haluk Berduka Tiga ASN Jadi Korban KKB

Selasa, 22 September 2026 | 01:01

Hasil Audit BPK Ditunggu dalam Kasus Toba Pulp Lestari

Selasa, 22 September 2026 | 00:37

Tiga Bulan Nganggur, Karyawan De Club Arjuna Geruduk Balai Kota

Selasa, 22 September 2026 | 00:26

Kejagung Periksa Dirut PT Migas Kota Bekasi terkait Dugaan Korupsi KSO

Selasa, 22 September 2026 | 00:01

80 Negara Siap Hadapi Wajib Sertifikasi Halal

Senin, 21 September 2026 | 23:47

KPK Harus Periksa Nusron Wahid demi Kepastian Hukum

Senin, 21 September 2026 | 23:31

Selengkapnya