Berita

Drone penjaga pantai/Net

Pertahanan

Redam Dampak Konflik LCS

Indonesia Butuh Kemutakhiran Teknologi Pertahanan Maritim

JUMAT, 31 MEI 2024 | 05:05 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Eskalasi konflik di Laut China Selatan (LCS) kian menunjukkan titik kulminasinya. Hal itu dapat dilihat ketika negara-negara yang tengah berkonflik terus menyiapkan kekuatan militernya di kawasan ini.
 
Misalnya Angkatan Laut China, dari hari ke hari, punggawa maritim Negeri Tirai Bambu ini seakan tak pernah berhenti memamerkan kekuatannya. Diperkirakan, jumlah kapal Angkatan Laut China meningkat hingga 40 persen pada periode 2020-2040.
 
Ditambah dengan kekuatan 3 kapal induknya, China makin percaya diri mampu merealisasikan peta kunonya dari zaman Dinasti Han sebagai pemilik kuasa atas kawasan nan kaya (sumber daya alam) tersebut.
 

 
Tentunya, kekuatan China itu tidak sebanding dengan negara-negara yang terlibat sengketa langsung seperti Malaysia, Vietnam, Brunei Darussalam, Filipina serta Taiwan.
 
Namun di belakang negara-negara tersebut bertengger hegemoni Amerika Serikat (AS) yang turut memantau terus kawasan ini. Negeri Paman Sam itu dipastikan tak tinggal diam jika kedaulatan sekutunya direnggut China.
 
AS sendiri pun masih mengklaim dirinya sebagai penguasa Lautan Pasifik sejati sejak Perang Dunia II. Di sisi lain, negara yang dipimpin Joe Biden tersebut juga memiliki kepentingan di kawasan LCS sebagai jalur navigasi penting perdagangannya.

Tak menutup kemungkinan, AS juga mengincar kekayaan alam yang melimpah di kawasan ini guna mengamankan cadangan energinya.
 
Dengan begitu, perimbangan kekuatan terus dilakukan AS guna mengambil alih dominasi China di LCS. Boleh dibilang, kedua negara adidaya itu sudah melakukan peperangan asimetris (asymmetric warfare) guna berebut pengaruh bagi negara-negara di sekitarnya.
 
Perang urat saraf antara China dan AS yang memperebutkan “periuk nasi” bernama Laut China Selatan ini tak dapat dipungkiri makin mendidih. Teknologi militer mutakhir dari kedua negara pun akan bertemu di daerah pertempuran (battle field) yang bersinggungan langsung dengan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) di Laut Natuna.
 
Lalu bagaimana dengan posisi Indonesia? Tentu suka tidak suka, Indonesia akan terdampak dan terseret dalam pusaran konflik tersebut. Yang pasti, kepentingan Indonesia hanya untuk melindungi segenap bangsa Indonesia (keselamatan rakyat) dan wilayah (hak berdaulat Indonesia di ZEE).
 
Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas NH Kertopati mengungkapkan dalam mewujudkan kepentingan tersebut, pertahanan Indonesia harus mengadopsi teknologi peperangan terkini yang menekankan pada interoperabilitas lintas matra atau Network Centric Warfare.  
 
Menurut Nuning akrab disapa, hal itu sangat penting sebagai sistem komando dan pengendalian yang fokus pada penggunaan teknologi informasi mutakhir berbasis komputer yang terintegrasi dalam satu sistem komputer atau digital.
 
“Tujuan utamanya adalah terjadinya pertukaran informasi penting secara cepat atau real time, akurat, dan berkelanjutan mengenai kondisi terkini sehingga terwujud speed command dalam merespons setiap ancaman keamanan, termasuk tercapainya keunggulan informasi,” kata Nuning kepada Kantor Berita Politik RMOL, Kamis malam (30/5).
 
Tentunya, baik China maupun AS di LCS sudah menerapkan Teori Corbett yang menyatakan bahwa tujuan dari perang laut adalah command of the sea dalam bentuk pengendalian laut (sea control).

Metode yang lazim digunakan dalam teori tersebut ialah dengan mengamankan penguasaan (securing command), mempertikaikan penguasaan (disputing command), menggunakan penguasaan (exercising command), serta penyerangan, pertahanan, dan bantuan ekspedisi militer (attack, defence, and support of military). Pengamanan armada niaga juga termasuk dalam metode tersebut.
 
Dengan begitu, informasi menjadi bagian penting dalam memenangkan perang pada teori ini, sehingga penerapan teknologi mutakhir seperti penggunaan unmanned system atau sistem tanpa awak dalam mengorek informasi lawan, kental dilakukan.

Sistem Tanpa Awak
 
Indonesia akan mudah kecolongan jika tidak menggunakan teknologi tanpa awak,  baik di darat, laut maupun udara dalam menopang Network Centric Warfare.  
 
Direktur Eksekutif National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi menilai, penggunaan unmanned system mutlak dilakukan untuk daerah-daerah rawan seperti di Laut Natuna.

“Ancaman di Laut Natuna semakin kompleks imbas adanya konflik di Laut China Selatan, kalau kita masih menggunakan konsep konvensional dengan kapal-kapal patroli tidak akan bisa menetralisir ancaman itu, makannya kita sudah harus memperbanyak unmanned system, misalnya UAV (Unmanned Aerial Vehicle) dan drone bawah laut,” ucap Siswanto beberapa waktu lalu.
 
Lanjut dia, keberadaan kapal patroli atau kapal selam bahkan pesawat tempur juga sangat diperlukan manakala menerima respons cepat dari perangkat unmanned saat mendeteksi suatu ancaman.
 
Siswanto menegaskan, TNI khususnya matra laut harus memperbanyak unmanned system di Laut Natuna guna meminimalisir ancaman baik militer maupun non militer.
 
Senada dengan Siswanto, praktisi pertahanan Taufik Dwicahyono menyatakan sudah seharusnya Indonesia memproduksi secara massal unmanned system dalam kerangka kebijakan pertahanan kita atau Minimum Essential Force (MEF).
 
Dalam disertasinya di Universitas Pertahanan (Unhan) pada 2022, Taufik mengulas suatu unmanned system yang bisa memonitor laut secara real time. Alat tersebut dinamainya Ferrocement Autonomous Buoy System (Fecabs).
 
“Kita memerlukan suatu cara agar laut bisa kita monitor selama 24 jam,” jelas Taufik.

Fecabs dilengkapi dengan Automatic Identification System (AIS), radar dan sonar yang dapat memonitor kondisi di permukaan dan bawah laut. Taufik berharap alat ini mampu meningkatkan keamanan maritim di daerah-daerah rawan, termasuk Laut Natuna.
 
Peran Indonesia sebagai stabilisator kawasan di LCS mutlak memerlukan teknologi mutakhir di bidang pertahanan khususnya unmanned system. Dengan demikian, Indonesia semakin disegani dan mampu meredam konflik yang terjadi di LCS, sekaligus memiliki taring dalam menjalankan amanat Pembukaan UUD 1945.    

Populer

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Dubai Menuju Kota Hantu

Selasa, 31 Maret 2026 | 13:51

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

UPDATE

Insiden di Lebanon Selatan Tak Terlepas dari Eskalasi Israel-Iran

Jumat, 03 April 2026 | 10:01

Emas Antam Ambruk Rp85 Ribu, Termurah Dibanderol Rp1,4 Juta

Jumat, 03 April 2026 | 09:54

UNIFIL Gelar Upacara Penghormatan Terakhir untuk Tiga Prajurit TNI

Jumat, 03 April 2026 | 09:48

KPK Tegaskan Tak Ada Intimidasi dalam Penggeledahan Rumah Ono Surono

Jumat, 03 April 2026 | 09:40

Komisi VIII DPR Optimis Jadwal Haji 2026 Tetap Aman dan Lancar

Jumat, 03 April 2026 | 09:26

Aksi Borong Bensin Picu Kelangkaan BBM di Prancis

Jumat, 03 April 2026 | 08:51

Reformasi Maret Tuntas: Jalan Terang Modal Asing Masuk Bursa

Jumat, 03 April 2026 | 08:26

Wall Street Melemah Tipis, Investor Berburu Aset Aman

Jumat, 03 April 2026 | 08:13

Serangan Israel Lumpuhkan Dua Pabrik Baja Iran, Produksi Terhenti hingga Setahun

Jumat, 03 April 2026 | 08:04

Dolar AS Perkasa, Indeks DXY Tembus Level Psikologis 100

Jumat, 03 April 2026 | 07:50

Selengkapnya