Berita

Ilustrasi Foto/Net

Bisnis

Negara Maju Dihitung dari Besarnya Pasokan Energi

KAMIS, 30 MEI 2024 | 16:57 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Kedaulatan energi akan membawa suatu kemajuan bagi negara. Kemajuan tersebut bukan diukur dari pelaksanaan demokrasi di suatu negara.

Hal itu disampaikan Guru Besar Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) Prof. Daniel M. Rosyid saat menyoroti fenomena di bangsa Indonesia saat ini.

“Yang membuat negara-negara maju/industri mencapai tingkat pendapatan tinggi saat ini, sementara kita masih terjebak middle income trap, terjangkit penyakit Belanda yang menggantungkan pendapatannya dari eksploitasi dan ekspor tambang dan sumber daya alam tanpa mampu mengolahnya agar lebih bernilai? Jawabannya bukan demokrasi, tapi energi,” kata Daniel dalam keterangannya, Kamis (30/5).


Lanjut dia, tanpa pasokan energi yang memadai, suatu negara akan terus tergantung dengan negara lain.

Selain itu, dia juga mendorong penggunaan energi nuklir untuk bisa memasok listrik berdaya tinggi tanpa menguras sumber daya alam.

Tanpa pasokan energi yang cukup berharga murah dari PLTN, kita tidak mungkin mengejar kapasitas produksi industrial secara efisien hanya dengan mengandalkan batubara dan renewables mencapai konsumsi energi 5-10 kali lipat dari kita saat ini yang hanya sekitar 1 kL setara minyak atau 1 MW per kapita per tahun,” ungkapnya.

Dengan demikian,  negara maju membutuhkan energi yang melimpah. Namun, anehnya bangsa kita saat ini lebih hanyut dalam nuansa jebakan demokrasi yang membuat kemunduran.

“Barat maju juga bukan karena mereka lebih pintar dan demokratis, tapi mereka memiliki pasokan energi yang cukup untuk menjadi negara pengolah bahan-bahan mentah murah ekspor kita dan menjebak kita dengan utang ribawi,” tegas Daniel.

“Demokrasi hanya masuk akal dan berguna jika bangsa ini tidak tergoda bansos, serangan fajar, dan pinjol,” pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Wall Street Variatif, Nasdaq Naik Ditopang Saham AI

Rabu, 23 September 2026 | 08:21

Kejagung Garap Lima Saksi di Kasus Korupsi MBG, Ada Pegawai SPPG Karawang

Rabu, 23 September 2026 | 08:06

Emas Gagal Bersinar, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Ketat dan Penguatan Dolar AS

Rabu, 23 September 2026 | 07:41

Dolar AS Berfluktuasi Ditopang Ketidakpastian Minyak

Rabu, 23 September 2026 | 07:23

Bursa Eropa Beragam: Dorongan Sektor Teknologi Imbangi Tekanan Sektor Keuangan

Rabu, 23 September 2026 | 07:07

Ruang Amal Indonesia-IFG Life-Kemenko PM Hadirkan Program bagi Ojol Tunarungu

Rabu, 23 September 2026 | 06:40

Sering Kebakaran, Gedung Wajib Miliki Alat Deteksi Dini

Rabu, 23 September 2026 | 06:28

MUI Minta Pelaku Usaha Bersiap Hadapi Wajib Halal 18 Oktober

Rabu, 23 September 2026 | 06:18

Kursi Gibran Goyang

Rabu, 23 September 2026 | 06:03

Dua Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di RS Arab Saudi

Rabu, 23 September 2026 | 05:45

Selengkapnya