Berita

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese./Reuters

Global

Australia Kecam Aksi Jet Tempur Tiongkok yang Berbahaya di Laut Timur

RABU, 08 MEI 2024 | 18:59 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Australia menegur keras Tiongkok yang dinilai telah membahayakan keselamatan personel militer negeri kanguru yang sedang melakukan tugas menegakkan sanksi PBB terhadap Korea Utara.

Pada hari Sabtu lalu (4/5) jet tempur Tiongkok  jet J-10 angkatan udara Tiongkok menjatuhkan suar di atas dan beberapa ratus meter di depan helikopter MH60R Seahawk milik Australia yang sedang melakukan operasi PBB di atas Laut Kuning.

Menteri Pertahanan Richard Marles dalam kecamannya Senin malam (6/6), seperti dikutip dari Reuters, mengatakan bahwa kehadiran personel militer Australia sah menurut hukum internasional karena dalam rangka menegakkan sanksi untuk Korea Utara.


Sementara Perdana Menteri Australia Anthony Albanese pada Selasa (7/5) menegasakan pihaknya tidak dapat menerima tindakan Tiongkok yang membahayakan personel militernya.

Dalam sebuah wawancara televisi, Albanese mengatakan Tiongkok belum menanggapi secara terbuka kecaman Australia atas insiden tersebut.

“Kami telah mengumumkan kepada publik… perilaku ini tidak dapat diterima,” katanya kepada Nine’s Today Show.

“Mereka (Tiongkok) seharusnya tidak mengambil risiko apa pun,” katanya.

Masyarakat Australia mengharapkan penjelasan dari Tiongkok mengenai insiden tersebut, dan Australia telah memberikan.

Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang diperkirakan akan mengunjungi Australia bulan depan, katanya.

“Kami juga akan memperjelas posisi kami dalam diskusi,” katanya.

Helikopter yang terbang dari kapal perusak HMAS Hobart berhasil menghindari serangan jet tempur Tiongkok. Konfrontasi tersebut membahayakan pesawat dan penumpangnya, meskipun tidak ada yang terluka, kata Departemen Pertahanan dalam pernyataan terpisah.

Ini adalah insiden kedua dalam enam bulan terakhir yang merusak pemulihan hubungan antara kedua negara setelah bertahun-tahun mengalami ketegangan hubungan dan perselisihan dagang.

Australia mengatakan pada bulan November tahun lalu, sebuah kapal angkatan laut Tiongkok melukai beberapa penyelamnya di perairan Jepang menggunakan sonar bawah air. Tiongkok membantah telah menggunakan sonarnya, namun Australia menolak penjelasan tersebut.

Pada tahun 2022, Australia melakukan protes setelah sebuah kapal angkatan laut Tiongkok mengarahkan laser ke pesawat militer Australia di dekat pantai utara Australia.

Dalam insiden terpisah pada tahun 2022, Australia mengatakan sebuah pesawat tempur Tiongkok secara berbahaya mencegat sebuah pesawat pengintai militer Australia di Laut Cina Selatan, melepaskan "seikat sekam" berisi potongan-potongan aluminium yang tertelan ke dalam mesin pesawat Australia.

Liu Jianchao, kepala departemen internasional Partai Komunis Tiongkok, mengatakan selama kunjungan ke Australia pada bulan November, pergerakan angkatan laut Australia di Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur tampaknya merupakan upaya untuk membendung Tiongkok.

Australia menolak hal ini, dengan mengatakan pihaknya menghormati hak semua negara untuk menerapkan kebebasan navigasi dan penerbangan sesuai dengan hukum internasional.

Tiongkok mengklaim kedaulatan atas sebagian besar Laut Cina Selatan, yang merupakan jalur perdagangan kapal tahunan senilai lebih dari 3 triliun dolar AS, termasuk wilayah yang diklaim oleh Filipina, Vietnam, Indonesia, Malaysia, dan Brunei. Pengadilan internasional pada tahun 2016 mengatakan klaim ekspansif Tiongkok tidak memiliki dasar hukum.

Kapal angkatan laut Tiongkok telah beberapa kali dilacak di lepas pantai Australia dalam beberapa tahun terakhir, termasuk memantau latihan dengan militer AS.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih 2 Persen

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:33

Ekonom Sentil Menteri Prabowo: Jangan Jadi Beban Presiden!

Jumat, 23 Oktober 2026 | 08:21

Wall Street Tertekan Aksi Jual Saham Teknologi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:56

Lonjakan Minyak Tekan Logam Dunia: Emas Anjlok ke Level Terendah

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:45

Saham BYAN Tancap Gas, Naik 3,16 Persen ke Rp10.600

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:22

Penguatan IHSG Sinyal Kepercayaan ke Pemerintah Mulai Pulih

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:10

Pasar Eropa Merah Gara-gara Minyak

Jumat, 23 Oktober 2026 | 07:06

Terbuka Peluang Bangun Museum Haji Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:58

Pujian Prabowo Jangan Jadi Obat Tidur Menteri

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:57

Pemerintah Harus Berlakukan Wajib Halal pada Oktober 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 06:19

Selengkapnya