Berita

Perdana Menteri Prancis Gabriel Attal (kiri) menyambut Presiden Tiongkok Xi Jinping dan istrinya Peng Liyuan setibanya mereka untuk kunjungan resmi kenegaraan dua hari di bandara Orly, selatan Paris pada 5 Mei 2024./AFP

Dunia

Kongres Uighur Dunia Kecam Kunjungan Xi Jinping ke Eropa

RABU, 08 MEI 2024 | 15:46 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Kongres Uighur Dunia (WUC) menentang kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Eropa. Mereka menegaskan bahwa penguatan hubungan Tiongkok dengan Rusia mengabaikan pelanggaran hak asasi manusia terhadap komunitas Uighur yang dilakukan oleh Tiongkok.

Presiden Tiongkok Xi Jinping memulai kunjungan enam hari ke Eropa, menandai perjalanan pertamanya ke benua tersebut sejak tahun 2019, selain kunjungannya ke Rusia tahun lalu.

“Kongres Uighur Dunia mencatat bahwa meskipun ada peristiwa baru-baru ini seperti penangkapan dan tuduhan terkait dengan spionase Tiongkok di Eropa, serta semakin besarnya keberpihakan Tiongkok dengan Rusia, negara-negara Eropa menunjukkan tingkat kekhawatiran yang berbeda di tengah meningkatnya persepsi terhadap Tiongkok sebagai ‘saingan sistemik’. Tujuan kunjungan Xi adalah untuk menanggapi kritik sekaligus menekankan sektor-sektor yang masih terbuka terhadap pengaruh Tiongkok,” kata WUC.


"Prancis harus mengatasi pelanggaran hak asasi manusia yang terus-menerus dilakukan oleh rezim Tiongkok di Turkistan Timur, Tibet, dan Hong Kong, serta di seluruh Eropa, di tengah meningkatnya penindasan transnasional Tiongkok,” tulis keterangan WUC yang disampaikan Presiden WUC Dolkun Isa.

Dia juga menekankan perlunya Presiden Perancis Emmanuel Macron untuk secara terbuka mengangkat masalah genosida Uighur bersama Xi Jinping, mendesak diakhirinya penindasan yang sedang berlangsung terhadap rakyat Uighur, sejalan dengan resolusi yang diadopsi oleh Assemblée Nationale yang mengakui genosida Uighur.

Pernyataan tersebut menguraikan agenda pertemuan presiden di Perancis, yang berpusat pada meningkatnya defisit perdagangan antara UE dan Tiongkok, serta konflik yang sedang berlangsung di Ukraina. Selain itu, diskusi di Serbia dan Hongaria akan menyoroti peningkatan hubungan investasi dengan Tiongkok.

Pernyataan tersebut juga mencatat pentingnya peringatan 25 tahun pemboman kedutaan besar Tiongkok di Beograd oleh NATO pada tanggal 7 Mei 1999, yang diperkirakan akan memberikan kontribusi signifikan terhadap ketidakpercayaan Beijing terhadap NATO.

Kongres Uighur Dunia menentang keterbukaan Eropa terhadap Tiongkok dan pemimpinnya, Xi Jinping. Sikap Hongaria yang menghalangi diskusi mengenai pelanggaran hak asasi manusia di Tiongkok dan genosida Uighur sangatlah memprihatinkan.

Selain itu, keberangkatan kereta api yang membawa barang-barang pertanian hasil kerja paksa Uyghur baru-baru ini dari Turkistan Timur ke Salerno, Italia, juga mengkhawatirkan.

Pernyataan tersebut menyoroti peraturan kerja paksa dan arahan uji tuntas Uni Eropa, yang menjadikan produk-produk yang dibuat oleh pekerja paksa dan perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pelanggaran tersebut harus ditingkatkan pengawasannya, baik di dalam maupun di luar Uni Eropa.

Namun, mereka mencatat adanya kesenjangan yang signifikan dalam menangani kerja paksa Uyghur secara khusus. Prancis didesak untuk mengatasi skema kerja paksa impor yang dilakukan oleh Tiongkok dan mendorong langkah-langkah perdagangan Uni Eropa yang lebih kuat terhadap pelanggaran-pelanggaran ini.

Selain itu, WUC meminta Presiden Macron dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen untuk secara eksplisit mengatasi pelanggaran yang dilakukan Beijing terhadap warga Tibet, Hong Kong, dan Uyghur, sambil mengambil sikap tegas terhadap meningkatnya penindasan transnasional yang dilakukan PKT.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

UPDATE

Noel Pede Didampingi Munarman

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:17

Arief Hidayat Akui Gagal Jaga Marwah MK di Perkara Nomor 90, Awal Indonesia Tidak Baik-baik Saja

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:13

Ronaldo Masuki Usia 41: Gaji Triliunan dan Saham Klub Jadi Kado Spesial

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:08

Ngecas Handphone di Kasur Diduga Picu Kebakaran Rumah Pensiunan PNS

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:00

Pegawai MBG Jadi PPPK Berpotensi Lukai Rasa Keadilan Guru Honorer

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:51

Pansus DPRD akan Awasi Penyerahan Fasos-Fasum

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:32

Dubes Sudan Ceritakan Hubungan Istimewa dengan Indonesia dan Kudeta 2023 yang Didukung Negara Asing

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:27

Mulyono, Anak Buah Purbaya Ketangkap KPK

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:20

Aktivis Guntur 49 Pandapotan Lubis Meninggal Dunia

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:08

Liciknya Netanyahu

Kamis, 05 Februari 2026 | 07:06

Selengkapnya