Berita

Foto dari tahun 2018 yang memperlihatkan krisis air di Pakistan. Foto dirilis oleh media Jerman, Deutsche Welle.

Global

Krisis Air Pakistan Sudah Sangat Mengkhawatirkan

KAMIS, 02 MEI 2024 | 05:02 WIB | LAPORAN: JONRIS PURBA

Pakistan dilaporkan tengah menghadapi krisis air parah yang berdampak signifikan terhadap dimensi sosial, lingkungan, dan ekonomi. Pemerintahan berturut-turut telah dikritik karena kurangnya tindakan mereka meskipun kelangkaan air telah terjadi selama beberapa dekade.

Khaama Press mencatat, selama Idul Fitri baru-baru ini pemerintah di Islamabad tidak mampu menyediakan pasokan air yang memadai, sehingga memperburuk situasi. Sebagian besar penduduk masih belum memiliki akses terhadap air minum yang aman, dan negara ini mengalami kekurangan ketersediaan air sebesar 30 persen untuk musim tanam mendatang.

Karachi, pusat keuangan Pakistan, adalah salah satu kota yang paling terkena dampak kekurangan air.


“Situasinya sangat buruk. Kami membayar 72 jam pasokan air per minggu, namun kami hanya menerima 18 jam,”  ujar warga setempat Hamid Ameer Ali kepada Khaama Press, mengungkapkan rasa frustrasi.

Pakistan juga menghadapi banjir yang belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun 2022, yang menenggelamkan sepertiga negaranya, dan mengalami hujan lebat pada bulan April 2024 yang menyebabkan banjir bandang. Terlepas dari kejadian-kejadian ini, Pakistan terus berjuang mengatasi kekurangan air, situasi yang diperkirakan akan memburuk pada tahun 2035 akibat perubahan iklim.

Menurut laporan “Penilaian Keamanan Air Global 2023” yang dirilis PBB, Pakistan berada dalam kategori sangat tidak aman air. Laporan ini menyoroti penurunan drastis ketersediaan air per kapita, yang telah menurun lebih dari 80 persen dalam 70 tahun terakhir.

Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya memperingatkan bahwa Pakistan mungkin akan mencapai tahap kelangkaan air absolut pada tahun 2025. Faktor-faktor seperti pertumbuhan populasi yang pesat memperburuk masalah ini, berdampak pada kesehatan, pendidikan, dan mata pencaharian.

Kelangkaan air juga terkait dengan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui air seperti kolera, diare, demam berdarah, dan malaria. Selain itu, hal ini menghambat pendidikan bagi remaja putri.

Praktik pertanian di Pakistan yang dinilai sangat boros air, menghadapi tantangan keberlanjutan di tengah perubahan iklim.

“Salju lebih sedikit dari biasanya tahun ini karena perubahan iklim, yang berdampak pada gletser. Hal ini berdampak langsung pada ketersediaan air untuk tanaman kharif di musim panas,” ujar Muhammad Azam Khan, asisten peneliti di Otoritas Sistem Sungai Indus Pakistan, seperti dikutip dari Khaama Press.

Peringatan dari Dewan Penelitian Sumber Daya Air Pakistan menunjukkan bahwa negara tersebut dapat menghadapi kekeringan parah pada tahun 2025 jika tidak mengambil tindakan signifikan. Namun, respons pemerintah masih lemah.

Para ahli mengaitkan krisis ini dengan beberapa faktor, termasuk kelalaian pemerintah, korupsi, dan kebijakan yang mendukung pertanian intensif air. Uzair Sattar, peneliti di Stimson Centre, menekankan bahwa kerawanan air dapat memperburuk tantangan sosio-ekonomi dan politik yang ada di Pakistan.

Sekelompok peneliti lokal mengidentifikasi politik regional, kesalahan manajemen pemerintah, dan kurangnya kesadaran sebagai faktor utama yang berkontribusi terhadap krisis ini. Mereka berpendapat bahwa kombinasi peningkatan populasi, urbanisasi, industrialisasi yang tidak diatur, dan infrastruktur pengelolaan air yang tidak memadai merupakan faktor-faktor penting yang memperburuk situasi.

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya