Berita

Pakar komputer, Profesor Marsudi Wahyu Kisworo/Repro

Politik

Pakar Komputer Ungkap 3 Permasalahan Utama Sirekap

RABU, 03 APRIL 2024 | 13:15 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Penggunaan sistem informasi rekapitulasi (Sirekap) yang memunculkan polemik, membuat heran pakar yang pertama memboyong gelar profesor komputer di Indonesia, Prof Marsudi Wahyu Kisworo. Pasalnya, di setiap tahun pemilu, sistem perhitungan suara digital selalu bermasalah.

Marsudi menyampaikan pendapatnya terkait Sirekap dalam sidang lanjutan perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Presiden dan Wakil Presiden, di Ruang Sidang Utama Lantai 2 Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Rabu (3/4).

Ini bukan kali pertama dirinya bersidang dalam perkara PHPU Presiden dan Wakil Presiden di MK. Sebab, pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, dirinya menjadi saksi ahli untuk menjelaskan soal Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) yang fungsinya mirip dengan Sirekap.


"Setiap tahun (pemilu) sejak 2004, ketika teknologi komputer digunakan, sistem penghitungan suara digital itu selalu dipermasalahkan. Terakhir kemarin 2019, dan sekarang terulang lagi," ujar Marsudi dalam sidang yang dipimpin Ketua MK Suhartoyo.

Namun dia tetap menyampaikan hasil analisisnya terhadap Sirekap. Menurut Marsudi, Sirekap memuat beberapa persoalan teknis sehingga muncul polemik di masyarakat. Tetapi, Marsudi melihat persoalan yang muncul terjadi di Sirekap mobile, bukan Sirekap web.

"Problem (ada di) Sirekap mobile. Dia mengambil data dari Form C1 Hasil yang isinya dibuat dengan tulisan tangan, dan menggunakan teknologi OCR (Optical Character Recognition)," jelasnya.

Baginya, teknologi OCR yang diaplikasikan ke dalam penggunaan Sirekap di Pemilu Serentak 2024 berbeda jauh, kalau dibandingkan dengan teknologi Situng.

"Ini adalah sebuah perkembangan atau kemajuan dibanding Situng dulu. Kalau Situng dulu angkanya di-entry manual, sehingga timbul kehebohan seolah-olah ada kesengajaan entry yang dinaikan dan sebagainya," papar Marsudi.

"Maka teman-teman developer dari Sirekap ini menggunakan secara otomatis. Jadi tulisan di C1 di-scan, di-capture, dan diubah menjadi angka. Di sinilah problem utamanya muncul," sambungnya mengungkap.

Mantan Komisaris Independen PT Telkom (Tbk) itu menegaskan, problem kedua dari Sirekap mobile adalah penggunaan handphone yang tidak memiliki kamera berkualitas bagus.

"Sirekap mobile yang di-install di masing-masing handphone KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara), maka yang terjadi kita tahu beda-beda merk dan kualitasnya. Ada yang sangat bagus dan ada yang sangat kurang bagus, dan resolusinya beda-beda," papar Marsudi.

"Jadilah seperti contoh di atas itu, (foto) Form C1 beda-beda kualitasnya. Ada yang jelas, ada yang buram, ada yang remang-remang, ada yang warnanya putih, ada yang warnanya agak kekuning-kuningan," sambungnya.

Kemudian problem ketiga, lanjut Marsudi, terletak di kualitas kertas Form C1 Hasil sendiri. Sebab, terdapat kertas yang sudah terlipat-lipat atau lecek, sehingga Sirekap mobile tak bisa menangkap gambar Form C1 Hasil dengan sempurna.

"(Seperti gambar) yang Form C1 di kanan, itu kertasnya terlipat sehingga ketika terlipat ini bisa menimbulkan kesalahan interpretasi oleh OCR," demikian Marsudi.

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Harga Daging Sapi Tembus Rp153 Ribu/Kg, Zulhas Buka Opsi Subsidi APBN-APBD

Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:18

LPSK Beri Perlindungan kepada Ferry Hongkiriwang, Saksi Kasus Febrie Adriansyah

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:54

Urusan Gula Konsumsi Aman, Kementan Kini Bidik Target Gula Industri di 2028

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:45

Ahmed al-Sharaa Sambut Keputusan AS Hapus Suriah dari Daftar Sponsor Teror

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Geng Haiti Bantai 40 Pengungsi yang Berlindung di Gereja

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Wajah Baru Jakarta, Wagub Rano Resmikan Jaksinema Pasar Rumput

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:29

BMKG Maksimalkan OMC di Kaltim Sepekan Ini untuk Tangani Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:19

Dugaan Setoran Importasi Blueray, KPK Cecar Dua PNS Bea Cukai

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:50

Kasus OTT Unsoed Bisa Saja Terjadi di Kampus Lain

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Perketat Imigrasi, Trump Bersiap Cabut 200 Ribu Visa WNA

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Selengkapnya