Berita

Putro Mas Gunawan, M.Si/Ist

Publika

Susu dan Hipokrit Satu

Oleh: Putro Mas Gunawan, M.Si.*
KAMIS, 29 FEBRUARI 2024 | 18:10 WIB

KEPALA Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Satu Kahkonen, tiba-tiba mengomentari rencana program makan siang dan susu gratis pasangan Prabowo-Gibran. Wakil Bank Dunia itu cewe-cawe pada isu domestik Indonesia yang beberapa pekan terakhir ini menciptakan diskursus di tengah publik itu.

Satu mewanti-wanti Indonesia harus tetap patuh dengan aturan defisit fiskal 3 persen. Banyak pihak yang kontra program ini menilai program Paslon 02 akan menaikkan angka defisit fiskal di atas 3 persen. Sontak komentar wakil asing itu seakan mengipas kontroversi dalam urusan dalam negeri Indonesia.

Pandangan Satu Kahkonen ini bisa dianalisis secara teks maupun konteks. Seperti apa yang disampaikan Guy Cook (2006) sebuah wacana terbentuk karena teks dan konteks yang melatarbelakangi. Secara teks ucapan Sato memang memuat isu ekonomi makro soal defisit tiga persen.


Namun secara konteks, kita bisa memaknai ucapan Satu itu secara politis. Mari kita bedah lebih dalam konteks ucapan Satu. Pertama soal posisi Satu sebagai wakil Bank dunia. Kemudian fakta soal isu yang dikomentari itu hingga kini masih berada di ranah politik domestik Indonesia.

Faktanya program ini masih dalam tataran program kampanye salah satu paslon yang masih berkontestasi dalam Pemilu 2024. Meski Prabowo-Gibran unggul mutlak dalam perhitungan sementara, secara resmi Paslon itu belum ditetapkan sebagai pemenang oleh KPU. Lantas mengapa seorang wakil Bank dunia masuk pada ranah isu yang masih bersifat politis?

Ucapan Satu jelas keluar dari batasan tupoksinya sebagai wakil Bank dunia. Mengomentari program kampanye salah satu capres yang secara resmi masih berkontestasi, adalah sebuah bentuk arogansi. Satu secara gegabah telah mencampuri urusan politik di Indonesia.

Arogansi yang sejatinya kerap ditunjukkan Barat sejak era kolonisasi. Tak hanya di Indonesia, tapi di sejumlah negara berkembang. Lantas bukankah institusi Satu Kahkonen, Bank Dunia merepresentasikan semangat neokolonialisme?

Saya ingin menukil artikel yang ditulis oleh profesor Institute for Environmental Science and Technology (ICTA-UAB), Jason Hickel. Dalam artikelnya Hickel memaparkan paradoks dari institusi bank dunia. Institusi yang justru menjadi hegemoni negara barat macam Amerika dan Eropa.

Amerika memiliki veto atas setiap keputusan krusial bank dunia. Sebaliknya negara Eropa memiliki porsi setengah dari suara di bank dunia. Sebaliknya mayoritas negara berkembang yang mewakili 85 persen populasi dunia hanya memiliki suara minoritas.

Peraih Nobel kesusastraan Jose Saramago pernah berucap soal paradoksnya bank dunia. "Dunia dijalankan oleh institusi yang tidak demokratis seperti IMF dan Bank Dunia," ujarnya.

Jelas fakta ini merupakan sebuah lelucon bagi dunia yang katanya semakin inklusif. Meski bank dunia kerap menunjuk pejabatnya dari negara dunia ketiga, macam Sri Mulyani dari Indonesia, hal itu tak sekadar kamuflase atau proxy atas kepentingan belaka. Sebab secara prinsip, bank dunia dibangun atas pondasi yang semakin melahirkan ketidakadilan dan ketimpangan ekonomi di dunia.

Walhasil suara dari bank dunia tak selamanya mencerminkan kepentingan bersama. Ucapan bank dunia lebih sering menjadi representasi kepentingan barat, utamanya Amerika dan Eropa. Prinsip itu pula yang bisa jadi dilekatkan pada konteks ucapan Satu Kahkonen soal program makan siang dan susu gratis.

Agaknya bank dunia dan pemerintah Indonesia mesti bersikap tegas pada tindakan Satu Kahkonen. Kesalahan fatal Satu mencampuri urusan politik dalam negeri Indonesia mesti dikompensasi dengan ditariknya sebagai perwakilan bank dunia di Indonesia.

Mengakhiri tulisan ini, saya ingin menukil ucapan komika wanita Amerika, Sarah Silverman; "We don't live in a democracy; we live in hypocrisy."

*Penulis adalah Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Binus dan STAN

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Jangkau Jutaan Rakyat, Pelaksanaan Program Prabowo Harus Terus Dijaga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:18

PT Timah Amankan Fasilitas Kredit Rp4 Triliun dari Bank Mandiri

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:10

Kadin Dukung Opsi Bahlil Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga

Kamis, 22 Oktober 2026 | 22:00

Natalius Pigai: HAM Terus Lahir dalam Relasi Sosial di Desa dan Kampung

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:45

Api Gunung Lawu Belum Padam, 500 Hektare Lahan Terbakar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:39

OJK Salurkan Kredit Rp53 Triliun ke 2.100 Penerima dalam 3 Bulan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:29

Kabut Asap Makin Mengkhawatirkan, 333 Ribu Warga Terserang ISPA

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:08

Pengamat: Aksi Korporasi Haji Isam Akuisisi Saham BYAN Sejalan Konstitusi

Kamis, 22 Oktober 2026 | 21:04

KPK Dalami Keterlibatan Pejabat Kementerian PU dalam Kasus BBPJN Sumut

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:47

Semangat Sinergi untuk Keadilan Warnai Rangkaian Hari Bakti ke-2 Kemenko Kumham Imipas

Kamis, 22 Oktober 2026 | 20:41

Selengkapnya