Berita

Cover Dirty Vote/Net

Publika

Wajah Kelam Demokrasi dalam Catatan Dirty Vote

SELASA, 13 FEBRUARI 2024 | 11:14 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

BERANI! Peluncuran film Dirty Vote (11/2), jelang tenggat periode pemilihan, adalah sebuah langkah yang perlu diapresiasi. Sebagian diantara kita boleh menyebutnya kontroversial, dengan berbagai kemungkinan motif dari kehadiran film tersebut.

Tetapi, film sebagai sebuah karya pemikiran, membuat kita harus mau secara terbuka menerimanya sebagai model konstruksi realitas yang ditawarkan. Suka atau bahkan tidak suka sekalipun.

Dirilis melalui kanal YouTube, dan telah ditonton lebih dari 3 juta views, produk film dengan durasi sekitar 90 menit ini memperoleh momentum viralitas. Bahkan sejak mulai sebaran teaser film itu, beberapa hari sebelumnya, banyak pihak yang menantikan penayangan film dengan genre dokumenter tersebut.


Bertindak sebagai narator dalam film adalah tiga ahli hukum tata negara, yang menyampaikan temuan dari berbagai hal terkait proses pemilihan umum 2024, lengkap disertai dengan berbagai data dan fakta yang berkait, diurai dalam runtutan waktu yang bertalian antara satu kejadian dengan kejadian lain.

Prinsip dasar dalam ranah ilmu politik: tidak ada yang merupakan suatu kebetulan tanpa perencanaan, bahkan untuk yang terlihat seakan-akan tampak sebagai ketidaksengajaan, sejatinya telah disengaja dan direncanakan sebelumnya. Politik adalah ruang konspirasi kekuasaan, demikian hukum besinya.

Sesungguhnya tidak ada yang baru dalam apa yang diangkat melalui film tersebut. Majalah Tempo dalam berbagai edisi, sudah berulang kali melansir pemberitaan mengenai panggung belakang Pemilu 2024, beserta keremangan yang ada didalamnya. Jelas bukan barang yang sama sekali baru.

Praduga dan opini publik, yang mungkin hadir bersamaan dengan tontonan Dirty Vote tentu sangat bergantung interpretasi dan tafsir masing-masing. Satu hal penting, bahwa kebohongan dan berbagai tindakan manipulatif, merupakan kebiasaan yang telah menurun dari kehidupan manusia.

Hal itu dijelaskan dalam Truth, Tom Phillips, 2021, meski kita membabaki abad ini sebagai post-truth, sesungguhnya sejak jaman dahulu kala produksi kebohongan adalah sebuah hal yang terinternalisasi dalam relasi manusia. Periode digital mengeskalasi perbuatan kebohongan itu secara massif.

Kebohongan, menurut Stephens-Davidowitz, Everybody Lies, 2018 sebenarnya dilakukan oleh semua dari kita, dalam berbagai skala.

Hal itu, kini mudah terekam melalui jejak digital, keberadaan teknologi internet memudahkan distribusi informasi yang bohong serta keliru. Big data membantu kita untuk melihat pola relasi dan bagaimana kebohongan itu tercipta sekaligus diciptakan.

Polemik Film


Menyoal Dirty Vote, bila kemudian ada kalangan yang merasa keberadaan akan karya film tersebut seolah mendegradasi proses pemilu, dimana asumsi kecurangan yang ditampilkan, dinilai sebagai fitnah dengan nada kebencian.

Jelas perlu dikaji ulang. Adagium penting dari kemampuan reflektif kita adalah, take the message not kill the messenger, mampu melihat makna serta mengambil hikmah.

Tumpukan peristiwa yang terjadi di ranah pentas politik nasional, tidak ada di ruang yang kosong. Ada konteks yang berkesinambungan. Publik bersikap skeptis, bukan dalam nada yang pesimis.

Skeptis didefinisikan sebagai upaya verifikasi sebuah kejadian dengan data dan fakta lain, diperbandingkan serta diberi kesimpulan. Pemilu adalah keniscayaan dan kita dipenuhi optimisme, agar hasilnya sesuai harapan publik, mereka yang terpilih memiliki kompetensi dan mengurusi soal hidup rakyat -res publica.

Pada pemilu kali ini, rasionalitas publik tidak bisa dianggap sebelah mata. Dari pemilu ke pemilu, khalayak ramai telah belajar tentang satu hal: tidak ada yang benar-benar mewakili kepentingan publik, kecuali publik itu sendiri. Karena itu, pendekatan ilmiah dengan basis survei sekalipun,. bukan tidak mungkin luput dalam memprediksi.

Sebuah film yang kemudian menjadi polemik, sesungguhnya telah berhasil menarik perbincangan meluas. Membuka cakrawala berpikir dalam melihat peristiwa. Sebagaimana fungsi sebuah film, yang tidak hanya menjadi tontonan tetapi juga menjadi media tuntunan.

Pada bagian akhir, kita perlu membayangkan bagaimana hasil pemilu yang hanya berhitung hari ke depan, akan menghasilkan kualitas kepemimpinan bangsa ini.

Kita tidak hanya menilai aspek keterpilihan semata, tetapi juga bagaimana proses yang menyertainya, semua akan terbingkai dan menjadi catatan sejarah.

Problemnya sejarah kebangsaan seperti apa yang kita ingin torehkan? Jelas kita tidak berharap dicatat dalam lembar hitam sejarah, akan wajah kelam kehidupan demokrasi kita saat ini.

Semuanya tentu bergantung di tangan para pemilih pada bilik suara nanti. Selamat memilih!

Penulis merupakan Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Malaysia Jadi Negara Pertama yang Keluar dari Perjanjian Dagang AS

Selasa, 17 Maret 2026 | 12:18

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Pemudik Sebaiknya Perhatikan Enam Pesan Ini

Minggu, 15 Maret 2026 | 03:11

Relawan Jokowi: Rismon Sianipar Pengecut!

Jumat, 13 Maret 2026 | 01:05

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

UPDATE

Prediksi Mossad Gagal, Netanyahu Disebut Murka ke Direktur Intelijen

Senin, 23 Maret 2026 | 13:39

Kasus Andrie Yunus Bisa Diusut Timwas Intelijen DPR

Senin, 23 Maret 2026 | 13:23

Pengamat: Trump Inkonsisten Soal Selat Hormuz

Senin, 23 Maret 2026 | 13:09

Daftar Negara yang Terancam Bangkrut Akibat Perang Iran

Senin, 23 Maret 2026 | 12:53

Gebrakan Xiaomi SU7 2026: Ludes 15 Ribu Unit dalam 34 Menit, Daya Jelajah Tembus 900 Km!

Senin, 23 Maret 2026 | 12:37

H+2 Lebaran, Emas Antam Turun Rp50 Ribu

Senin, 23 Maret 2026 | 12:35

WFH Jangan Ganggu Kinerja Perusahaan, DPR Minta Pemerintah Hati-hati

Senin, 23 Maret 2026 | 12:31

124 Perusahaan Truk Kena Sanksi Saat Lebaran, Mayoritas Pelanggaran ODOL

Senin, 23 Maret 2026 | 12:08

Menhub Siapkan Strategi Khusus Amankan Arus Balik Lebaran 1447 H Lintas Sumatra-Jawa

Senin, 23 Maret 2026 | 11:27

DJP: Aktivasi Akun Coretax Tembus 16,6 Juta, Lapor SPT Tahunan Capai 8,7 Juta

Senin, 23 Maret 2026 | 11:03

Selengkapnya