Berita

Debat Calon Presiden dan Wakil Presiden 2024 yang digelar KPU RI/RMOL

Publika

Debat, Retorika, dan Moralitas Kita

JUMAT, 09 FEBRUARI 2024 | 15:29 WIB | OLEH: YUDHI HERTANTO

MENGENTAL! Pilihan politik menjelang periode masa pemungutan suara semakin terpolarisasi. Kandidat dan tim pemenangan sekuat tenaga untuk mengarahkan persetujuan menjadi tindakan politis, dengan mendatangi lokasi pemilihan dan memilih sesuai ketetapan hati.

Siklus pemilihan umum adalah akhir dari proses pendidikan politik dan kampanye publik, sekaligus menjadi awal baru bagi kepemimpinan politik yang terpilih nantinya. Pada periode tersebut, maka debat antar kandidat menjadi momen krusial untuk meneguhkan preferensi pilihan.

Dalam aspek komunikasi, debat merupakan bagian dari retorika, yakni sebuah upaya untuk mempersuasi khalayak agar memiliki sudut pandang yang sama dengan komunikator. Karenanya, aktivitas debat menjadi signifikan untuk mempengaruhi penonton yang terpapar melalui media massa, guna membentuk persepsi umum.


Pada beberapa kasus, ajang debat antar kontestan tidak efektif dalam mengubah sikap dan perilaku bagi pemilih yang telah menentukan pilihannya. Sementara itu, percakapan di ruang debat akan menjadi berdampak, khususnya untuk para pemilih yang masih belum menentukan keputusan.

Perlu dipahami bahwa debat adalah sarana dalam bertukar gagasan, mempertarungkan ide yang akan dimajukan oleh para pihak dalam kompetisi demokrasi, berkaitan dengan model solusi yang ditawarkan oleh para kandidat bagi persoalan publik. Boleh percaya, bisa juga tidak.

Karena itu, pemilih memang sebaiknya mengedepankan rasionalitas dibandingkan emosionalitas. Efek gaung dari debat yang disiarkan secara live melalui layar media, tidak berhenti di panggung utama, percakapan juga menggema di ranah maya, diskusi hangat antara para pendukung terjadi di media sosial.

Pada kehidupan yang semakin terdigitalisasi, kita tidak pernah berhenti dalam rantai produksi dan konsumsi informasi, bahkan kerap kali berada dalam situasi ke berkelimpahan, tidak hanya informasi yang valid tetapi juga hoaks yang diciptakan untuk memenuhi selera kepentingan tertentu, didengungkan melalui para buzzer untuk berdengung mendominasi ruang media.

Kembali menyoal debat kandidat, maka dalam kajian retorika menempatkan elemen utama kemampuan membujuk khalayak dengan kriteria: (i) ethos –kredibilitas sumber, (ii) logos –bernilai logis dan berbasis fakta, hingga (iii) pathos –pengelolaan serta menggerakkan emosi publik.

Dengan keseluruhan indikator tersebut, maka keterpilihan –elektabilitas, lebih dari sekadar keterkenalan –popularitas, tetapi juga berpaut dengan tingkat kepercayaan publik akan integritas kandidat dalam membicarakan problematika yang dihadapi publik.

Bila kontestasi mampu mendorong kesadaran publik untuk melakukan pilihan berdasarkan sendi-sendi retorika, kita tentu berharap tahap pemilihan nanti akan mampu menghasilkan kepemimpinan yang berorientasi pada keberpihakan kepentingan umum, serta mampu mengurusi persoalan publik –res publica dengan lebih baik. Kita tidak kurang manusia yang cerdas, tetapi hanya sedikit yang jujur.

JIka melihat hasil berbagai survei yang masih bisa diperdebatkan secara argumentatif atas hasil dan interpretasi kesimpulan temuan penelitian, terdapat setidaknya masih terdapat ruang yang terbuka sebagai celah, (i) besaran pemilih yang belum menentukan pilihan, (ii) jumlah dari pemilih yang belum mantap memilih dan masih mungkin berpindah pilihan, (iii) margin error dari kelemahan penelitian, hingga (iv) kemampuan mobilisasi pemilih untuk sampai pada bilik pemilihan dan menjatuhkan pilihan.

Seluruh potensi kemungkinan tersebut, bahkan tidak dapat dibatalkan dengan cara rekayasa yang sistematis, masif dan terstruktur sekalipun, terutama jika prosesnya transparan menghilangkan ruang gelap yang mungkin terjadi serta melibatkan partisipasi publik sebagai pengawas.

Di lain sisi, keberhasilan proses pemilu hanya akan membawa dampak secara nyata bila semua elemen dari para pihak yang bertanding mau mengambil jalur negarawan, serta tidak bertindak manipulatif ala Machiavellian dengan menghalalkan segala cara demi kekuasaan.

Sekali lagi, seluruh rangkaian kegiatan demokrasi ini hanya akan menjadi kemenangan bersama, bila kita semua mampu dan mau mengisi seluruh prosesnya dengan mengedepankan nilai etika serta moralitas sebagai unsur terpenting, tentu pilihan itu terletak pada lubuk hati diri Anda yang paling dalam.

Penulis merupakan Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid

Populer

Keppres Pengangkatan Adies Kadir Digugat ke PTUN

Rabu, 11 Februari 2026 | 19:58

Enak Jadi Mulyono Bisa Nyambi Komisaris di 12 Perusahaan

Kamis, 12 Februari 2026 | 02:33

Kasihan Jokowi Tergopoh-gopoh Datangi Polresta Solo

Kamis, 12 Februari 2026 | 00:45

Rakyat Menjerit, Pajak Kendaraan di Jateng Naik hingga 60 Persen

Kamis, 12 Februari 2026 | 05:21

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Dua Menteri Prabowo Saling Serang di Ruang Publik

Kamis, 12 Februari 2026 | 04:20

Jokowi Makin Terpojok secara Politik

Minggu, 15 Februari 2026 | 06:59

UPDATE

ICMI Terima Wakaf 2 Ribu Mushaf Al-Qur'an

Minggu, 22 Februari 2026 | 00:10

Tantangan Direksi Baru BPJS Kesehatan Tak Ringan

Sabtu, 21 Februari 2026 | 23:43

Polri di Bawah Presiden Sudah Paten dan Tidak Ada Perdebatan

Sabtu, 21 Februari 2026 | 23:28

AKBP Catur cuma Sepekan Jabat Plh Kapolres Bima Kota

Sabtu, 21 Februari 2026 | 23:28

Palu Emas Paman

Sabtu, 21 Februari 2026 | 23:01

BNI Perkuat Aksi Lingkungan, 423 Kg Sampah Berhasil Diangkut dari Pantai Mertasari

Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:56

BI-Kemenkeu Sepakati Pengalihan Utang Tahun Ini, Nilainya Rp173,4 Triliun

Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:40

Teror Ketua BEM UGM, Komisi III Dorong Laporan Resmi ke Aparat

Sabtu, 21 Februari 2026 | 22:14

PB IKA PMII Pimpinan Fathan Subchi Pastikan Kepengurusan Sah Secara Hukum

Sabtu, 21 Februari 2026 | 21:37

BNI Rayakan Imlek 2577 Kongzili Bersama Nasabah

Sabtu, 21 Februari 2026 | 21:03

Selengkapnya