Berita

Calon Presiden Anies Baswedan kampanye akbar bertajuk "Saatnya Menang untuk Perubahan" di Lapangan Tegal Lega, Jawa Barat, Minggu (28/1)/Ist

Publika

PILPRES 2024

HisteriAnies

SABTU, 03 FEBRUARI 2024 | 14:08 WIB | OLEH: ADHIE M. MASSARDI*

HISTERIA publik kepada Anies jauh lebih berkualitas dibanding hal sama yang terjadi pada SBY (2004), Widodo (2014) dan Prabowo (2019). Begini penjelasannya:
 
ANIES seperti punya daya magis. Ke mana pergi disambut histeria massa. Panggung sederhana Desak Anies melahirkan gaung sambung-menyambung. Bikin lawan-lawan politiknya terbingung-bingung.
 
Apa pun yang disentuh nimbulkan gemuruh. Platform TikTok yang selama ini banyak dipakai sarana joget begitu disentuh Anies jadi “PoliTikTok”. Goyang gemoy pun letoy. Di TikTok mereka benar-benar keok.
 

 
Beberapa detik saja muncul di videotron, Anies bisa bikin panggung politik terguncang. Lahir drakor (drama kotor). Kisahnya penguasa kelam menancapkan kuku besinya yang karatan untuk memastikan kekuasaan hanya berputar di lingkaran keluarga. Tapi dinasti sudah terlanjur dinista.

Daya magis Anies juga membuat kata menjadi mantra. Kata perubahan adalah solusi untuk membongkar kebuntuan dan keputusasaan. Menjanjikan keadilan dan kesejahteraan. Memesona secara lintas batas. Tak soal Generasi X, Y, Z, yang milenial maupun yang kolonial. Tapi jadi ancaman bagi pemegang kekuasaan.
 
Maka para pendukung Anies bergerak secara organik. Tumbuh tanpa harus disentuh. Mandiri karena memang berdikari. Berhimpun di atas kaki sendiri.
 
Mereka, kaum HumAnies ini, memang seperti kawanan burung walet. Tak mudah diternakkan. Burung walet akan datang berbondong-bondong di tempat yang diberkahi langit. Lalu membuat bersarang yang bisa menghasilkan banyak uang.
 
Itu sebabnya di kalangan pegiat survei politik yang berintegritas, angka Anies grafiknya terus naik. Belum ada indikasi menurun. Sementara rivalnya terpontal-pontal.
 
Anies Baswedan menang bukan orang pertama yang melahirkan histeria politik dalam pilpres. Tapi “demam Anies” pada Pilpres 2024 berbeda jenis dan kualitasnya dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada Pilpres 2004, Joko Widodo (2014) dan Prabowo Subianto (2019).
 
2004 SBY jadi bintang pilpres karena mainkan skenario “seolah korban” (playing victim) hanya gegara Taufik Kiemas (alm), suami Presiden Megawati dipancing wartawan untuk (seolah) bilang “SBY itu jenderal anak kecil!”
 
2014 Joko Widodo jadi bintang pilpres karena dianggap datang dari kalangan rakyat jelata yang masih lugu, dan belum pandai berbohong seperti para politisi dari parpol korup. Ada juga dampak rekayasa seolah mau produksi mobil lokal SMK.
 
2019 Prabowo dielu-elukan massa pada pilpres karena lawannya Joko Widodo, petahana yang bikin muak rakyat (emak-emak, buruh, sebagian besar umat Islam) karena sudah terlalu banyak bohongnya.
 
Sekarang, 2024, histeria rakyat kepada Anies Baswedan tidak hanya karena faktor emosi sesaat, bukan juga lantaran jadi korban tekanan rezim yang ingin melestarikan kekuasaan.
 
Histeria kepada Anies karena kesadaran penuh masyarakat yang sudah muak melihat tingkah laku penguasa yang korup dan pembohong, dan mereka ingin keluar dari berbagai persoalan yang dibuat rezim Widodo.
 
Anies Baswedan dipandang memiliki integritas dan kapasitas untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa yang sudah terpuruk begini. Sedangkan Muhaimin Iskandar, tokoh Islam moderat (Nahdliyin) yang jadi wakilnya, bisa menutupi kekurangan Anies.
 
HisteriAnies memang pilihan paling rasional karena memungkinkan kehidupan kita dalam berbangsa dan bernegara menjadi lebih HumAnies.

Inisiator Gerakan Indonesia Bersih (GIB); Mantan Jurubicara Presiden Keempat RI Abdurrahman Wahid

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Hadiri Penutupan Muktamar NU, Prabowo Dikalungi Sorban

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:17

Muktamar ke-35 NU: LAZISNU Bagikan Santunan Yatim dan Kacamata Gratis untuk Guru Ngaji

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:13

Tim Formatur PBNU Diberi Waktu Sebulan Susun Kepengurusan

Senin, 31 Agustus 2026 | 10:07

Rupiah Lesu ke Rp17.754 per Dolar AS di Awal Pekan, Pasar Wait and See

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:57

Harga Emas Dunia Stabil Usai Anjlok Akibat Sinyal Suku Bunga The Fed

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:43

IHSG Pagi Tertekan, Tiga Saham Malah Melompat

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:28

Muslim Arbi Soroti Amandemen UUD 1945 dan Maraknya Politik Dinasti

Senin, 31 Agustus 2026 | 09:14

Emas Antam Mandek di Rp2,6 Juta per Gram

Senin, 31 Agustus 2026 | 08:56

Kapolri Mutasi Sejumlah Pejabat Strategis, Dua Kapolda Berganti

Senin, 31 Agustus 2026 | 08:53

Bursa Asia Tertekan, Kospi Anjlok Lebih dari 3 Persen

Senin, 31 Agustus 2026 | 08:38

Selengkapnya