Berita

Anies Baswedan dan Surya Paloh/Net

Publika

Rekaman AI Paloh-Anies

Oleh: NOVIANTO AJI*
RABU, 24 JANUARI 2024 | 20:03 WIB

ARTIFICIAL Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan bisa menjadi berkah, sekaligus petaka.

AI seperti senjata. Di tangan orang-orang yang tepat, AI bisa menjadi berkah. Sebaliknya, di tangan orang kejam, AI bisa menjadi senjata mematikan. AI bisa menjadi alat menipu dan menyebar hoaks.

Ya, baru saja beredar rekaman suara berisi percakapan antara Ketua Umum Partai NasDem, Surya Paloh, dan Calon Presiden (Capres) Nomor Urut Satu, Anies Baswedan.


Rekaman itu langsung viral di media sosial. Partai NasDem langsung membantah lewat unggahan akun Instagram resmi @official_nasdem.

Menurut mereka, rekaman suara itu hoaks.

"Waspada hoaks ya kakak-kakak semua. Beredar video suara rekaman palsu Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dan Capres 01 Anies Baswedan," demikian keterangan tulis akun Instagram @official_nasdem.

"Sekali lagi, Partai NasDem tegaskan itu tidak benar dan merupakan fitnah yang amat keji," sambungnya.

Dalam rekaman video itu dinarasikan percakapan Paloh seolah-olah memarahi Anies.

Suara dalam rekaman persis Paloh dan Anies, bisa jadi itu rekaman buatan AI. Pasalnya, kecanggihan AI menggunakan sistem algoritma mampu menciptakan sosok yang diinginkan.

Mengutip dari HeyLaw, kecerdasan buatan memungkinkan mesin belajar dari pengalaman, menyesuaikan diri dengan masukan baru, dan melakukan tugas seperti manusia.

Contoh AI yang kita lihat saat ini, ada komputer bermain catur melawan manusia. Kemudian ada mobil yang dapat mengemudi sendiri. Semua itu sangat bergantung pada pembelajaran mendalam dan pemrosesan bahasa alami.

Dengan menggunakan teknologi itu, komputer dapat dilatih untuk menyelesaikan tugas tertentu dengan memproses data dalam jumlah besar dan mengenali pola dalam data.

Bahkan saat ini di banyak media elektronik mencoba menggunakan teknologi AI untuk menirukan manusia, menggantikan tugas pembawa acara.

Pakar teknologi yang mempelajari AI mengatakan, cara kerja AI adalah membaca algoritma, sehingga mampu menciptakan telinga, mata dan mulut.

Selain meniru wajah manusia, AI juga dengan mudah meniru suara orang lain, bahkan meniru suara penyanyi sekalipun.

Saat ini banyak perusahaan menggunakan teknologi AI untuk meniru suara manusia dari sisi vokal, nada, dan gaya. Bahkan suara yang diproduksi AI bisa sangat detil meniru suara orang yang dimaui. Mulai dari intonasi hingga timbre suara.

Penggunaan AI untuk meniru suara manusia, salah satunya yang lagi marak adalah AI voice cloning/voice synthesis/voice mimicry, merupakan teknologi AI yang diciptakan untuk meniru suara manusia.

Kemampuan AI tersebut berbasis pada deep learning (program mendalam) dimana AI mempelajari sekumpulan data untuk menghasilkan output berupa suara berdasarkan perintah dari pengguna. Pada dasarnya, AI membutuhkan data suara asli dari orangnya untuk dianalisis karakteristik vokalnya.

Melalui AI voice cloning, pola bicara, aksen, bahkan pernapasan manusia bisa ditiru. AI hanya membutuhkan sampel suara pendek selama tiga detik untuk dianalisa.

Hasilnya, suara yang dihasilkan melalui AI voice cloning memberikan kualitas yang jernih dan menakjubkan.  

Nah, besar kemungkinan rekaman suara Paloh yang dinarasikan memarahi Anies merupakan hasil produksi teknologi AI yang diciptakan lawan-lawan politik.

Dan seperti yang penulis sebut di awal tadi, AI ini seperti senjata. Tergantung siapa yang menggunakan. Bisa menjadi berkah, bisa pula menjadi ancaman, terutama jika digunakan di saat Pilpres 2024. Wallahua'lam.

*Wartawan Kantor Berita RMOLJatim

Populer

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

UPDATE

Prabowo Tegaskan Indonesia Tidak Takut Ancaman MSCI

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:32

Buruh Usul UMP 2027 Naik 9,5 Persen, Ini Respons Menaker

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:20

Ombudsman Ungkap Titik Rawan Korupsi di Layanan Pertanahan dan Kebencanaan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:19

Kasus CSR BI Jalan di Tempat, MAKI dan ARUKKI Bersiap Ajukan Praperadilan

Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:12

Pembenahan MBG hingga Program 3 Juta Rumah jadi PR Besar Prabowo

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:59

Begini Jurus BI Stabilkan Rupiah Hadapi Ancaman MSCI hingga Konflik Geopolitik

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:58

Nusron Hadiri Sidang Kabinet Paripurna setelah Dua Kali Absen Pemeriksaan KPK

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

PJJ dan WFH Bisa Jadi Opsi Antisipasi Asap Karhutla

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:53

UU Pelindungan Ketenagakerjaan Masih Diproses Setneg, Yassierli Minta Publik Bersabar

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:50

Event Konser hingga Festival Belanja Jadi Mesin Uang Jakarta

Rabu, 21 Oktober 2026 | 15:48

Selengkapnya