Berita

Dongguan, China/Disway

Dahlan Iskan

Me Time

KAMIS, 11 JANUARI 2024 | 08:06 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

TIDAK mudah cari tiket pulang di awal tahun baru. Hari itu saya baru dapat tiket sehari setelah anak-cucu.

Maka setelah mereka meninggalkan Shanghai, saya dan istri termangu: mau ke mana. Harus menghabiskan waktu sisa satu hari.

Pilihan saya naik kereta ke Shantou. Sudah sangat lama saya tidak ke daerah itu. Kabupaten Shantou di selatan Xiamen. Mayoritasnya suku Tiochu. Itulah suku yang juga jadi mayoritas di masyarakat Tionghoa, Kalbar.


Keinginan itu gagal. Tidak dapat tiket kereta ke Shantou. Habis. Saya pun cari bus. Istri tidak keberatan. Juga tidak dapat tiket.

Setelah tahun baru kendaraan umum serba full booked.

Kalau begitu ke Meizhou saja. Dekat Shantou. Itulah kota yang mayoritas penduduknya suku Hakka. Murdaya Poo adalah orang suku Hakka.

Rencana itu saya batalkan. Saya ingat: bulan Maret depan saya janji akan ke Meizhou bersama Mimi Tjong, cucu Tjong A Fie, orang suku Hakka terkaya di Medan masa lalu.

Mimi justru belum pernah ke daerah asal leluhurnyi. Untuk apa ke Meizhou sekarang. Toh dua bulan lagi akan ke sana.

Akhirnya saya pasrah: ke mana saja. Yang penting ke arah selatan. Mendekat ke Hong Kong. Tiket kepulangan saya ke Surabaya dari Hong Kong.

Bisa saja dari Shanghai saya langsung ke Hong Kong. Bermalam satu malam di situ. Untuk apa. Kan saya baru saja beberapa hari di Hong Kong.

Pilihan terakhir: apa boleh buat, Shenzhen. Toh sudah beberapa tahun tidak ke Shenzhen. Sudah berubah seperti apa kota itu sekarang.

Kami bisa satu malam di Shenzhen. Lumayan. Bisa ber-me time. Keesokan harinya dari Shenzhen bisa langsung naik mobil ke bandara Hong Kong.

Dapat tiket. Dari Shanghai ke Shenzhen saya naik kereta cepat: 7 jam. Itulah pengalaman pertama naik kereta cepat selama 7 jam. Kalau 5 jam sudah beberapa kali.

Hari itu saya tidak dapat tiket kelas 1. Yang kursinya jejer dua di kiri dan dua di kanan. Sudah habis. Saya dapat yang kelas 2: kursinya tiga di kiri, 2 di kanan.

Kenapa 7 jam, ternyata rutenya lewat tengah: Shanghai - Hangzhou - Nanchang - Ganzhou - Shenzhen. Padahal hanya tiga kali berhenti. Tiket untuk rute yang lebih pendek sudah penuh.

Kebetulan.

Saya belum pernah lewat jalur Nanchang - Ganzhou - Shenzhen. Berarti melewati pegunungan yang kini lagi ditambang besar-besaran: tambang tanah jarang.

Itulah salah satu keunggulan Tiongkok: punya tambang besar tanah jarang. Lokasinya ada di kanan jalur Nanchang - Ganzhou.

Saya terkesima: kini ada jalur kereta cepat dari Ganzhou langsung ke Shenzhen. Padahal dulunya dari Ganzhou ke Shenzhen harus lewat Guangzhou. Dengan jalur langsung ini kota kabupaten terpencil Ganzhou pasti akan berkembang pesat.

Pukul 15.00 saya tiba di Shenzhen. Inilah saatnya me time di Shenzhen. Jarang bisa dapat me time seperti itu. Satu malam pula.

Ups. Gagal. Me time itu gagal.

Di stasiun kereta cepat Shenzhen saya sudah dijemput teman: diajak meninjau pabriknya di Dongguan. Ia orang Hong Kong. Kelahiran Dongguan. Kini punya pabrik di kampung asal.

Anda sudah tahu Dongguan: kota kabupaten tetangga Shenzhen. Anda juga sudah tahu: kekuatan ekonomi satu kabupaten ini saja sama dengan separonya satu negara Malaysia!

Tanyalah: ada pabrik apa di Dongguan. Anda jawab ngawur pun akan benar. Ekspor dari kabupaten ini hanya kalah dari satu provinsi Shanghai, dan Shenzhen!

Maka menjelang tahun baru Imlek ini bupati Dongguan pusing: pasti banyak pabrik yang libur. Dua minggu pula. Para buruh pasti mudik Lebaran 10 Februari. Mudik Lebaran adalah segala-galanya: sungkeman ke orang tua.

Bupati Dongguan pun tahun ini punya akal: Pemda memberi subsidi enam arah. Inilah Imlek pesta angpao dari Pemda.

Perusahaan yang berhasil tidak libur, diberi uang. Perusahaan yang pendapatannya naik 25 persen diberi subsidi. Buruh yang tidak mudik diberi uang per orang hampir sebulan gaji.

Saya jadi bergairah mendengar kiat-kiat bupati menjaga ekonomi daerahnya. Tak apalah bahwa itu berarti hilangnya me time di Shenzhen.

Pukul 22.00 saya baru tiba kembali di Shenzhen. Mata sudah lima watt. Obat malam ketinggalan di mobil. Harus nunggu lagi –tinggal 1 watt.

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Harta Friderica Widyasari Pejabat Pengganti Ketua OJK Ditanding Suami Ibarat Langit dan Bumi

Senin, 02 Februari 2026 | 13:47

KPK: Warganet Berperan Ungkap Dugaan Pelesiran Ridwan Kamil di LN

Kamis, 05 Februari 2026 | 08:34

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Direktur P2 Ditjen Bea Cukai Rizal Bantah Ada Setoran ke Atasan

Jumat, 06 Februari 2026 | 03:49

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

UPDATE

Pengamat Ingatkan AI hanya Alat Bantu, Bukan Pengganti Manusia

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Menelusuri Asal Usul Ngabuburit

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:15

Din Syamsuddin: Board of Peace Trump Bentuk Nekolim Baru

Sabtu, 07 Februari 2026 | 10:01

Sambut Tahun Kuda Api, Ini Jadwal Libur Imlek 2026 untuk Rencanakan Kumpul Keluarga

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:52

Cadangan Devisa RI Menciut Jadi Rp2.605 Triliun di Awal 2026

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:47

Analisis Kebijakan MBG: Antara Tanggung Jawab Sosial dan Mitigasi Risiko Ekonomi

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:41

ISIS Mengaku Dalang Bom Masjid Islamabad

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:31

Dolar AS Melemah, Yen dan Pound Terdampak Ketidakpastian Global

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:16

Golkar: Indonesia Bergabung ke Dewan Perdamaian Gaza Wujud Politik Luar Negeri Bebas Aktif

Sabtu, 07 Februari 2026 | 09:01

Wall Street Perkasa di Akhir Pekan, Dow Jones Tembus 50.000

Sabtu, 07 Februari 2026 | 08:52

Selengkapnya