Berita

Ilustrasi pengungsi Rohingnya/Istimewa

Politik

Krisis Pengungsi Rohingya Berlarut, GMNI: Bukti Lemahnya Diplomasi Pertahanan Kita

RABU, 03 JANUARI 2024 | 14:37 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Keberadaan pengungsi etnis Rohingya sudah seharusnya mendapat perhatian serius dari pemerintah. Pasalnya, jumlah pengungsi Rohingya yang tiba di sejumlah wilayah Indonesia kian bertambah, tanpa ada solusi yang berarti.

Seperti yang terjadi pada Sabtu, 30 Desember 2023, sebanyak 157 orang pengungsi Rohingya mendarat di Desa Karang Gading, Labuhan Deli, Kabupaten Deli Serdang. Tak cukup, 170 pengungsi Rohingya juga mendarat di Desa Kwala Besar, Kecamatan Secanggang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara (Sumut).

Berdasarkan data United Nations High Commissioner For Refugees (UNHCR), lebih dari 1.200 orang Rohingya telah mendarat di Indonesia sejak November 2023.


Menanggapi hal ini, Ketua Umum DPP GMNI, Arjuna Putra Aldino, menilai masalah pengungsi Rohingya akan terus berlarut apabila diplomasi pertahanan masih lemah seperti sekarang. Pasalnya, gelombang pengungsi Rohingya ini diduga kuat ada keterlibatan jaringan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).

Menurut Arjuna, masalah perdagangan manusia erat kaitannya dengan kontrol perbatasan yang menjadi domain fungsi pertahanan negara. Arjuna menjelaskan, kontrol perbatasan menjadi aspek penting sebagai pintu masuk mencegah adanya gelombang pengungsi Rohingya sebagai korban perdagangan manusia. Lemahnya kontrol perbatasan membuat perdagangan manusia merajalela.

“Harusnya bisa dicegah apabila fungsi pertahanan negara, salah satunya kontrol perbatasan, berjalan baik. Namun tampaknya lemah, kurang antisipatif,” ucap Arjuna, melalui keterangannya kepada redaksi, Rabu (3/1).

Salah satu opsi kebijakan yang bisa menjadi solusi, menurut Arjuna, adalah dengan diplomasi pertahanan. Diplomasi pertahanan yang bisa ditempuh yakni dengan kerja sama multilateral berbasis kawasan layaknya General Border Committee di ASEAN.

Diplomasi pertahanan dalam bentuk kerjasama multilateral berbasis kawasan, lanjut Arjuna, menjadi penting mengingat perdagangan manusia merupakan transnational organized crime sehingga Indonesia tak bisa menyelesaikan masalah ini sendirian.

“Masalah ini harus diselesaikan dalam perspektif kawasan dan pendekatan multilateral. Tak bisa kita sendirian. Namun sepertinya tidak ada upaya menuju ke arah itu,” tambah Arjuna

Atas masalah tersebut, Arjuna pun mengkritik pernyataan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto yang menyebut tidak fair kalau Indonesia harus menerima semua pengungsi itu menjadi beban. Menurut Arjuna, itu bukanlah pernyataan yang bijak.

Seharusnya Prabowo selaku Menteri Pertahanan menghadirkan solusi dengan melakukan upaya diplomasi pertahanan berbasis kawasan dan pendekatan multilateral untuk membendung gelombang pengungsi yang terus berdatangan.

“Seharusnya menghadirkan solusi. Bukan justru mengeluarkan pernyataan bernada provokasi yang berpotensi memancing kebencian rakyat sehingga bisa terjadi persekusi. Itu tidak bijak,” jelas Arjuna.

Untuk itu Arjuna meminta masalah pengungsi Rohingya tidak menjadi komoditas politik yang bisa menyuburkan sentimen rasial dan kekerasan yang melanggar perikemanusiaan. Para kontestan Pilpres harus menghadirkan solusi yang tidak melanggar perikemanusiaan, misalnya dengan diplomasi pertahanan dengan kerja sama multilateral pendekatan kawasan. Sehingga melahirkan solusi yang sesuai dengan perikemanusiaan, adil, dan beradab.

Dengan menghadirkan solusi berbasis kawasan dan kerja sama multilateral, terang Arjuna, maka akan bisa menyentuh akar persoalannya. Dengan perspektif multilateral melalui ASEAN bisa dimanfaatkan untuk memetakan jaringan sindikat pelaku perdagangan manusia, mulai dari daerah perekrutan, penampungan, hingga daerah tujuan eksploitasi di berbagai negara di kawasan Asia Tenggara.

“Diplomasi pertahanan berbasis kawasan melalui kerja sama multilateral bisa dimanfaatkan mengurai masalah perdagangan manusia. Itu bisa dilakukan oleh Menteri Pertahanan. Jangan hanya memanfaatkan isu itu untuk komoditas politik saja,” tutup Arjuna.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Perjalanan Karier Nanik S Deyang dari Jurnalis hingga Pimpin Dewan Pengawas BGN

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:23

Deklarasi Gus Kikin Maju Ketum PBNU Tuai Protes Sejumlah PCNU Jatim

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:13

Pesan Menag di FABC: Sinodalitas Gereja Cermin Musyawarah dan Gotong Royong

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:08

Prabowo Restui Pengunduran Diri Nanik dari BGN, Siapkan Dewan Pengawas Baru

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:06

Emas Antam Mulai Naik, Harga Buyback Tembus Rp2,38 Juta per Gram

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Prabowo Puji Keterlibatan Perwira TNI-Polri dalam Penanganan Bencana Sumatera

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Saat Jakarta jadi Jembatan Persaudaraan Asia

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:45

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.913 per Dolar AS Jelang Rilis Suku Bunga BI

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:34

KPK Bongkar Dugaan Penyamaran Aset Bupati Lombok Barat, Pasal TPPU Disiapkan

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:29

Ancaman Houthi Guncang Pasar, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:24

Selengkapnya