Berita

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Kolombia, Priyo Iswanto, saat memaparkan isi buku di acara bedah buku Diplomasi Tiga Zaman di Perpusatakaan Diplomasi Pusat Pendidikan dan Latihan Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta pada Jumat, 8 Desember 2023/Repro

Global

Buku "Diplomasi Tiga Zaman", Bisa Jadi Rujukan Diplomat Muda dan Pemerhati HI

SABTU, 09 DESEMBER 2023 | 18:58 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Diplomat muda Indonesia kini tidak akan kekurangan rujukan dalam menjalankan tugasnya di luar negeri. Pasalnya, mereka dapat merujuk salah satu buku yang baru saja diluncurkan oleh seorang diplomat senior berpengalaman 36 tahun, yaitu Priyo Iswanto.

Buku karya Priyo berjudul "Diplomasi Tiga Zaman" dibedah secara ekslusif oleh pembedah Ikrar Nusa Bhakti di Perpusatakaan Diplomasi Pusat Pendidikan dan Latihan Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, pada Jumat (8/12).

Dalam pemaparannya, mantan duta besar Indonesia untuk Kolombia ini menjelaskan bahwa inspirasi judul bukunya berasal dari perjalanan kerjanya sebagai diplomat yang diwarnai oleh tiga era.


Dia menjelaskan bahwa tiga zaman yang dimaksud adalah Era bipolar di mana Barat dan Uni Soviet berkonflik di Perang Dingin. Selanjutnya, Era unipolar yang mengarah pada globalisasi setelah Uni Soviet bubar.

Kemudian Era multipolar saat kekuatan Amerika Serikat mulai kendur pada abad ke-21. Bersamaan dengan itu China bangkit sebagai kekuatan ekonomi baru, dan negara middle power seperti Indonesia dan Brasil, mulai meningkat diplomasinya.

"Itu yang melatarbelakangi tulisan buku saya berjudul Diplomasi Tiga Jaman, yang berisi 14 bab," ungkapnya.

Dalam buku tersebut, Priyo memaparkan beberapa tantangan yang ia hadapi sebagai diplomat muda. Yang pertama ialah kesulitan penulisan laporan hingga upaya membangun jejaring di luar negeri.

"Buku ini berisi pengalaman dan upaya saya mengatasi masalah-masalah tersebut. Yang ingin saya tekankan adalah percaya diri dalam mengembangkan  jejaring," ungkapnya.

Ia juga menjelaskan peluang dan tantangan dalam diplomasi bilateral dan multilateral. Menurutnya, diplomasi bilateral akan mudah jika negara Indonesia sudah mendapat pengakuan dari negara akreditasi.

"Meningkatkan citra saat negara kita lebih tinggi akan lebih mudah, karena negara akreditasi yang akan mencari kita," jelasnya, seraya menambahkan bahwa di negera kecil pertemuan diplomat dengan pejabat tinggi seperti menteri luar negeri akan lebih mudah dibanding di negara besar seperti AS.

Kemudian untuk diplomasi multilateral, berdasarkan pengalamannya, bidang ini memerlukan orang-orang kompeten yang terbuka dan pandai berkawan.

"Karena informasi dan posisi kita itu akan dimaklumi jika bisa berkawan. Kita lebih mudah mencari kesesuaian antara posisi kita dan posisi teman-teman kita," paparnya.

Pembedah Ikrar Nusa Bhakti, menilai buku Diplomasi Tiga Zaman sangat cocok untuk menjadi rujukan para diplomat muda karena ada beberapa tantangan yang pernah dihadapi oleh Priyo yang mungkin tidak dihadapi oleh Dubes lainnya.

"Buku ini berisi pengalaman komplit yang mungkin tidak pernah dialami oleh diplomat lain seperti suksesi negara, kudeta baik yang gagal maupun berhasil, krisis politik dan sosial ekonomi, ekstradisi gembong mafia, maupun membuka hubungan diplomatik baru," jelasnya.

Menurut Ikrar, buku Diplomasi Tiga Zaman mencakup banyak pengalaman unik dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami.

"Buku ini juga cocok untuk dibaca oleh khalayak umum terutama pemerhati hubungan internasional dan diplomasi," pungkasnya.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Kabakom Sebut Kebijakan Ekonomi Prabowo Makin Inklusif, Upah Buruh Naik

Jumat, 23 Oktober 2026 | 18:20

B50 jadi Andalan Presiden Prabowo Wujudkan Kemandirian Energi

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:44

Antusiasme Tinggi, Pendaftaran Anugerah Jurnalistik KPU 2026 Diperpanjang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:26

Masuk PSN, Agrinas Palma Siapkan Model Pengelolaan Sawit Rakyat

Jumat, 23 Oktober 2026 | 17:20

IHSG Parkir Zona Hijau, Rupiah Nyaris Tembus Rp18.100 per Dolar AS

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:54

Kreativitas Jadi Kunci Koperasi Bertahan dan Berkembang

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:41

Menkeu Pastikan Gaji ASN Tak Lewat Kopdes

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:34

Bahlil Dikejar Deadline DIM RUU Migas

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:32

Konser Andrea Bocelli dan Peluang Indonesia Perkuat Diplomasi Budaya

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:23

AsetKu Dukung Literasi Keuangan Bersama AFPI di Jakarta Financial Festival 2026

Jumat, 23 Oktober 2026 | 16:06

Selengkapnya