Berita

Direktur Sabang Merauke Circle, Syahganda Nainggolan/RMOL

Publika

Salah Paham tentang Kemiskinan Buruh

JUMAT, 17 NOVEMBER 2023 | 22:57 WIB | OLEH: DR. SYAHGANDA NAINGGOLAN*

HARI-hari belakangan ini buruh dan pemerintah kembali berbeda pandangan soal kesejahteraan, khususnya kenaikan upah.

Menteri Tenaga Kerja tetap memberlakukan formula kenaikan upah buruh dalam fungsi inflasi, pertumbuhan ekonomi dan faktor alpha yang bervariasi, antara 0,1-0,3. Menurut menteri ini teori pengupahan seperti itu yang paling sempurna.

Sebelumnya, Calon Presiden RI, Prabowo Subianto mengingatkan kaum buruh agar jangan mencekik leher pengusaha. Di hadapan 100 ekonom di Jakarta (8/11), dia mengatakan "kau" kepada buruh jangan "mencekik" pengusaha, sebab pengusaha akan lari alias hengkang ke luar negeri jika buruh terlalu menuntut upah.


Menurutnya, subsidi pemerintah (welfare policy) sudah cukup banyak saat ini. Jadi buruh harusnya tahu diri.

Baik Menteri Tenaga Kerja maupun Capres Prabowo kelihatannya salah paham tentang tuntutan buruh soal upah. Upah dalam berbagai teori, khususnya dalam spektrum ekonomi dan kesejahteraan, dapat dipandang sebagai instrumen makro ekonomi untuk stabilitas perekonomian dan juga sebagai alat redistribusi.

Faktor stabilitas berfungsi ketika upah dipandang sebagai upaya peningkatan daya beli masyarakat, sehingga konsumsi meningkat dan perekonomian tumbuh berkembang.

Sedangkan instrumen redistribusi, upah merupakan instrumen utama, selain "tax deduction" dan "welfare policies", untuk membagi pertumbuhan ekonomi agar dinikmati seluruh orang, bukan sekadar kapitalis saja.

Di Eropa misalnya, ada 4 kriteria yang terkait dengan penentuan upah minimum yang harus dihormati. Pertama, daya beli, dengan memperhitungkan biaya hidup; kedua, tingkat upah secara umum dan distribusinya; ketiga, tingkat pertumbuhan upah; dan keempat, level produktivitas dan pembangunan dalam jangka panjang.

Meski beberapa negara berbeda, namun langkah-langkah "extra ordinary" dilakukan agar kehidupan layak buruh dapat terjadi. Misalnya, Belgia melakukan 6 kali kenaikan upah antara Januari 2022 sampai 2023.

Jerman melakukan dua kali kenaikan upah dalam setahun pada tahun 2022 Belanda memberlakukan kombinasi statuta upah minimum dengan "collective bargaining" buruh, dan lain sebagainya. (Sumber: Minimum Wages in 2023: Annual Review, Eurofound.europa.eu).

Terakhir, tahun ini Belanda memberlakukan kebijakan upah berbasis kerja per jam, namun memberlakukan kewajiban kontrak 36 jam kerja perminggu. Sehingga terjadi kenaikan upah pada buruh dengan kerja 40 jam perminggu sebesar 11 persen. (Source: iamexpat.nl, 23/2/23).

Kesalahan paham Menteri Tenaga Kerja adalah melihat instrumen upah hanya sekadar pelengkap ekonomi kapitalis dan liberal saat ini. Spektrum pembicaraan upah selama ini hanya dimaksudkan untuk memelihara struktur penguasaan kapitalis atas roda perekonomian kita.

Baik ketika faktor alpha 0,1-0,3, yang menunjukkan "return to labor" yang begitu kecil ditentukan menteri, maupun hilangnya hak buruh untuk merundingkan "cost of living" buruh, yang sesungguhnya harus diperhatikan negara.

Cost of living buruh dalam konteks sesat pikir Prabowo adalah menempatkan instrumen welfare sebagai pengganti instrumen upah dalam urusan hubungan industrial. Padahal, dalam teori negara kesejahteraan, instrumen welfare diletakkan sebagai "extention" kebijakan upah, bukan utama.

Apalagi urusan kesejahteraan buruh merupakan hasil dari kontribusi buruh dalam pembayaran "tax dan welfare", bukan gratis seperti pikiran Prabowo seperti dibahas di awal, maupun datang dari pola Jokowi yang suka "lempar-lempar" sembako.

Pikiran Prabowo bahwa investor akan kabur kalau buruh mencekik pengusaha adalah "lagu lama". Isu seperti ini mencuat di era Orde Baru berkuasa, di mana kebijakan upah buruh murah diciptakan untuk "Comparative Advantage" dalam persaingan merebut investor. Namun, setelah Indonesia mulai mencapai perekonomian yang lepas dari sebutan negara miskin, elite-elite bangsa ini tetap berpikir upah buruh murah adalah kunci sukses pembangunan.

Sehingga, misalnya, upah buruh di Korea Selatan hampir 4 kali upah kita atau Malaysia yang hampir 2 kali. Perbedaan upah ini malah membuat pekerja-pekerja terampil kita pindah kerja di negara lain. Kebijakan upah buruh murah adalah perangkap untuk mempertahankan kemiskinan orang miskin.

Dalam konteks produktivitas, Sri Mulyani Indrawati, M. Ikhsan, dkk dalam "The Productivity and Future Growth Potential of Indonesia", 2021, memperlihatkan buruknya kontribusi "Human Capital" bangsa ini selama lebih dari 20 tahun terakhir.

Hal ini diperlihatkan oleh kontribusi negatifnya pada pertumbuhan "output per worker", terutama di era Jokowi. Total Factor Productivity (TFP) kita, sebagai fungsi pertumbuhan, hanya setengah dari Amerika dan jauh di belakang negara-negara menengah.

Sri Mulyani dkk juga mengkritik perusahaan-perusahan yang takut "dicekik" buruh, baik perusahaan besar, maupun BUMN, bukanlah perusahaan-perusahaan yang kompetitif dalam market.

Akhirnya kita melihat, orang-orang kaya dan elite negara bertemu dalam cara pandang yang buruk tentang perjuangan buruh menuntut kesejahteraan. Ini sebuah salah paham.

Penutup

Cara pandang negatif terhadap buruh, baik oleh menteri tenaga kerja maupun Capres Prabowo memberi harapan suram bagi bangsa kita ke depan. Indonesia sebagai negara besar dan kaya seharusnya mulai ditata ulang untuk memastikan sila kelima Pancasila, yakni keadilan sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia, sebagai target jangka pendek.

Untuk itu maka mengembalikan Indonesia sebagai negara kesejahteraan (welfare state) dengan menempatkan kebijakan perburuhan sebagai kata kunci bagi isu redistribusi harus dimulai setelah era Jokowi berakhir.

Jika tidak, maka ketimpangan sosial akan terus memburuk dan cara pandang terhadap buruh seperti melihat manusia-manusia rendahan, bukan sebagai mitra penting membangun Indonesia yang maju dan beradab.

Penulis adalah Direktur Sabang Merauke Circle

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

UPDATE

Setengah Logistik Indonesia Bertumpu di Tanjung Priok

Selasa, 14 April 2026 | 05:58

Dana asing ke NGO Rawan jadi Alat Kepentingan Global

Selasa, 14 April 2026 | 05:46

Mantan Pj Bupati Tapteng Jabat Kajati Sultra

Selasa, 14 April 2026 | 05:23

BGN Luruskan Info Beredar soal Pengadaan Barang Operasional MBG

Selasa, 14 April 2026 | 04:59

Ke Mana Arah KDKMP?

Selasa, 14 April 2026 | 04:30

Anak Asuh Kurniawan DY Sukses Bungkam Timor Leste 4-0

Selasa, 14 April 2026 | 04:15

Komisi XIII DPR: LPSK Resmi jadi Lembaga Negara

Selasa, 14 April 2026 | 03:53

Pentagon Ungkap Isi Pertemuan Menhan RI dan Menteri Perang AS soal Kemitraan

Selasa, 14 April 2026 | 03:35

Ganggu Iklim Usaha, Wacana Penghentian Restitusi Pajak Perlu Ditinjau Kembali

Selasa, 14 April 2026 | 03:15

Mantan Dirdik Jampidsus Kejagung Jabat Kajati Jatim, Ini Profilnya

Selasa, 14 April 2026 | 02:45

Selengkapnya