Berita

Dahlan Iskan/Ist

Dahlan Iskan

Luar Dalam

SENIN, 13 NOVEMBER 2023 | 04:39 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

LIHATLAH sirkuit Mandalika. Ketika lagi tidak ada MotoGP. Lihatlah dari dalam. Jangan dari luar.

Saya ke sirkuit Mandalika, Lombok, hari Minggu pagi kemarin. Awalnya sekadar ingin tahu. Dua kali diselenggarakan MotoGP di Mandalika saya tidak ikut nonton. Saya hanya mengikutinya dari media.

Maka ketika harus ke Lombok saya pilih bermalam di hotel baru dekat sirkuit: Hotel Pullman. Indah. Menghadap pantai Kuta. Persis di sebelah Novotel –hotel perintis di Mandalika: dibangun sekitar 30 tahun lalu –ketika Kuta belum punya nama Mandalika. Tentu saya juga pernah bermalam di Novotel. Di salah satu cottage-nya yang sangat nyaman.


Pagi-pagi saya senam di pantai Pullman. Sendirian. Satu jam. Sambil menunggu penerbangan siang saya minta diantar ke sirkuit. Dari luar sirkuit ini sangat tidak menarik. Pagar kelilingnya itu lho! Seperti pagar untuk tanah yang tidak kunjung dibangun. Terbuat dari lempengan-lempengan beton kusam. Saya pikir di dalam pagar itu tanah yang akan dibangun suatu proyek yang tertunda.

Bagaimana bisa pagar jenis ini yang dipilih untuk menyembunyikan sirkuit dari jalan raya. Padahal ini sirkuit kelas dunia. Ini seperti daging wagyu yang dibungkus kertas koran bekas.

Mungkin supaya murah. Pengerjaannya cepat. Atau itu memang pagar proyek. Ketika proyeknya sudah jadi pagarnya lupa diganti.

Pagar kusam ini begitu panjang. Mencolok –jeleknya. Tidak cocok dengan nama besar sirkuit Mandalika. Tentu bukan karena lupa. Tidak mungkin lupa selama dua tahun.

Mungkin soal biaya.

Sirkuit ini tidak punya penghasilan yang cukup. Acara besar MotoGP hanya sekali setahun. Itu pun tidak bisa untung. Ini memang proyek prestisius. Bukan proyek komersial. Dan pagar keliling itu membuat prestisiusnya Mandalika jatuh.

Di saat balapan mungkin pagar kusam itu tidak terlihat. Bisa saja tertutup dengan hiruk pikuk. Tapi bagi turis sepanjang tahun pagar itu bisa disebut anti-pariwisata.

Saya memasuki pagar itu. Lewat gerbang yang dijaga. Saya ingin tahu sirkuit Mandalika. Ternyata di dalamnya cukup ramai.

Saya bergabung ke keramaian itu. Ups...agen Toyota di Lombok lagi mengadakan acara Minggu pagi bersama para pembeli Toyota. Saya diminta gabung. Bahkan diminta ikut mengendarai Toyota keliling sirkuit. Tiga putaran. Teman dari Beijing saya ajak naik mobil yang saya kemudikan: Yaris hybrid. Saya yang paling depan.

Maka di belakang saya bajurut berbagai macam Toyota. Aturannya: tidak boleh saling salip. Juga tidak boleh pura-pura terpelintir masuk gravel. Kecepatan maksimal: 80 km/jam. Intinya: ini memang untuk pengalaman saja: ''pernah mengendarai mobil di sirkuit Mandalika''.

Yang lebih penting: kapan lagi orang Lombok punya kesempatan masuk Mandalika. Tidak hanya masuk. Sekalian mencoba sirkuitnya.

Tahun ini Toyota akan lima kali mengadakan acara seperti itu untuk customer-nya. Sekali acara bayar Rp 125 juta. BMW juga sudah sekali. Porsche segera menyusul.

Kalau Porsche seperti itu yang mengadakan komunitas. Bukan agennya. Komunitas Ferrari juga sudah booking.

Rasanya acara seperti itu perlu diperbanyak. Termasuk untuk pemilik sepeda motor. Sirkuit Mandalika punya 300-an marshal. Mereka adalah petugas pertandingan. Mereka perlu kesibukan untuk terus melatih keterampilan di arena sirkuit.

Semua marshal itu putra asli Lombok. Mereka dilatih khusus. Sampai 12 kali. Lalu mendapat sertifikat dari organisasi dunia MotoGP.

Di Mandalika kemarin saya bertemu banyak marshal. Salah satunya: Mohammad Tata Aprialdi. Ia mahasiswa semester tujuh fakultas teknik Universitas Mataram. Prodi teknik mesin. Rumahnya 15 km dari Mandalika.

Waktu itu Tata mendengar ada perekrutan marshal. Tata masih semester lima. Tapi ia gemar balap motor. Tata sendiri punya motor Honda CRF150L. Ia suka ngebut. Arena kebutnya di jalan by pass Mataram. Lapang. Sepi. Ia pernah menggeber motornya itu 200km/jam.

Tata memang minta ke ayahnya motor jenis itu. Ayahnya pegawai negeri. Langsung dibelikan. ''Ayah dulu juga suka balapan,'' ujar Tata.

Di balapan terakhir kemarin Tata dapat tugas pegang bendera. Di balapan pertama tugasnya di penyelamatan kecelakaan.

Pembalap kecintaannya adalah Marc Marquez. ''Saya suka caranya menikung. Hampir seluruh badan sampingnya terkena aspal,'' katanya.

Marquez tiga kali ke Mandalika. Tata sempat bertemu. Bahagia. Bahkan sempat bikin video berdua.

Kawasan Mandalika kini memang sudah berubah. Terutama jaringan jalan rayanya. Selebihnya masih sama seperti dulu. Kalau pagar itu dibuat model lain, kawasan Mandalika langsung terlihat indah dan grand-nya.

Saya ingat begitu sulit menghidupkan Mandalika. Salah satu kendalanya: Mandalika menjadi anak perusahaan BTDC (Bali Tourism Development Corporation). Artinya: Lombok berada di bawah Bali. Elite Lombok tidak mau itu, tapi juga sungkan untuk mengatakannya secara terbuka.

Maka seseorang menciptakan terobosan psikologis. Didirikanlah ITDC (Indonesia Tourism Development Corporation). Lalu Mandalika dipindah dari milik Bali menjadi milik Indonesia. BTDC sendiri juga menjadi di bawah Indonesia.

Urusan psikologi Bali-Lombok pun selesai.

Di bawah pemerintahan Jokowi, Mandalika digerakkan luar biasa. Nama Mandalika pun menjadi merek yang berharga. Nama besar itu yang kini ditawar-tawarkan. Pembelinya saja yang masih belum datang.

Kemarin-kemarin masih menunggu Covid reda. Kini menunggu wabah politik reda.

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

UPDATE

Prabowo Desak Bos Batu Bara dan Sawit Dahulukan Pasar Domestik

Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:10

Polisi Harus Ungkap Pelaku Serangan Brutal terhadap Aktivis KontraS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 00:10

Aparat Diminta Gercep Usut Penyiraman Air Keras terhadap Pembela HAM

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:55

Prabowo Ingatkan Pejabat: Open House Lebaran Jangan Terlalu Mewah

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:55

Bahlil Tepis Isu Batu Bara PLTU Menipis, Stok Rata-rata Masih 14 Hari

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:38

Purbaya Lapor Prabowo Banyak Ekonom Aneh yang Sebut RI Resesi

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:32

Kekerasan Terhadap Pembela HAM Ancaman Nyata bagi Demokrasi

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:12

Setengah Penduduk RI Diperkirakan Mudik Lebaran 2026

Jumat, 13 Maret 2026 | 23:07

Mentan: Cadangan Beras Hampir Lima Juta Ton, Cukup Hingga Akhir Tahun

Jumat, 13 Maret 2026 | 22:48

Komisi III DPR Minta Dalang Penyerangan Air Keras Aktivis KontraS Dibongkar

Jumat, 13 Maret 2026 | 22:32

Selengkapnya