Berita

Insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato oleh pemuda-pemuda Surabaya, hingga akhirnya berkibarlah sang Merah Putih/arsipnasional

Publika

10 November, Mengenang “Neraka” Pertempuran di Surabaya

Oleh: SWITZY SABANDAR*
JUMAT, 10 NOVEMBER 2023 | 07:50 WIB

PERTEMPURAN Surabaya merupakan peristiwa penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Momentum bersejarah itulah yang akhirnya menjadi latar belakang peringatan Hari Pahlawan, setiap 10 November.

Lalu, bagaimana awal mula dari pertempuran 10 November 1945 di Surabaya terjadi? Dikutip dari laman Kemdikbud, peristiwa 10 November merupakan pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah revolusi nasional Indonesia, yang menjadi simbol atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.

Peristiwa itu terjadi setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun saat itu kondisi Indonesia belum stabil dan masih bergejolak, terutama antara rakyat dan tentara.


Peristiwa bermula saat orang-orang Belanda bekas tawanan Jepang memasuki Hotel Yamato, yang dibantu segerombolan pasukan Sekutu.

Pasukan Belanda di bawah pimpinan Victor W Charles Ploegman itu mengibarkan bendera Merah Putih Biru di puncak Hotel Yamato, Jalan Tunjungan Nomor 65, Surabaya, tanpa persetujuan siapa pun. Aksi itu pun memicu kemarahan warga Surabaya. Mereka menganggap Belanda menghina kemerdekaan Indonesia dan melecehkan bendera Merah Putih.

Dalam pandangan para pemuda, tindakan itu dianggap sebagai simbol keinginan Belanda mengembalikan kekuasaanya. Tindakan Belanda juga dianggap tidak menghargai usaha rakyat Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaan.

Akhirnya, Residen Sudirman didampingi Sidik dan Hariyono menemui Ploegman, perwakilan Inggris dan orang-orang Belanda yang ada di sana. Kedatangannya untuk berunding, agar bendera Belanda diturunkan.

Namun permintaan itu tidak diindahkan. Mereka menolak menurunkan bendera Merah Putih Biru, bahkan menodong Residen Sudirman dengan pistol, hingga memicu bentrok di lobi Hotel Yamato.

Ploegman akhirnya tewas dicekik Sidik, namun Sidik tewas ditembak tentara Belanda. Akibat ricuh itu, massa pun ramai berdatangan. Mereka mendukung Residen Soedirman untuk segera bergerak, berinisiatif agar bendera diturunkan.

Sejumlah pemuda yang ada disana segera naik ke atas hotel. Mereka berhasil memanjat puncak Hotel Yamato dan menurunkan bendera Belanda, kemudian merobek bagian warna biru.

Setelah itu, Merah Putih segera dikibarkan, dan disambut riuh rendah warga Surabaya. Peristiwa itulah yang memicu peristiwa 10 November 1945.

Sebelumnya, pada 25 Oktober 1945, Brigadir Jenderal AWS Mallaby dan Brigade 49 mendarat di Surabaya. Mereka bertugas melucuti tentara Jepang dan menyelamatkan interniran Sekutu.

Mallaby pun bertemu perwakilan masyarakat Jawa Timur yang saat itu dipimpin RMTA Soerjo. Mereka sepakat tidak menyertakan angkatan perang Belanda di pasukannya, saling bekerja sama menjamin keamanan dan ketentraman, membentuk kontrak biro kerja sama, dan Inggris hanya akan melucuti senjata tentara Jepang.

Akan tetapi, Mallaby dan pasukannya melanggar perjanjian itu, hingga memicu konflik bersenjata pada 27 Oktober 1945. Akhirnya, dalam peristiwa ini masyarakat Surabaya menyerang pusat kedudukan Inggris.

Pihak Indonesia dan Inggris sempat menandatangani gencatan senjata pada 29 Oktober 1945, sehingga keadaan berangsur-angsur mereda. Walau begitu, tetap saja terjadi bentrokan antara tentara Inggris dan rakyat Indonesia di Surabaya.

Puncak bentrok terjadi pada 30 Oktober 1945, terjadi baku tembak antara warga Surabaya dengan tentara Sekutu Inggris. Kejadian itu berlangsung saat petang hari, di Gedung Internatio.

Dalam insiden itu, Brigadir Jenderal Aubertin Walter Sothern (AWS) Mallaby (pimpinan Tentara Inggris untuk Jawa Timur) terbunuh. Itulah salah satu pemicu pertempuran 10 November 1945.

Tewasnya Mallaby membuat tentara Inggris marah, dan akhirnya mengirim pasukan dalam jumlah besar ke Surabaya. Akibatnya Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum 10 November 1945, yang meminta Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA, serta ancaman akan menggempur Surabaya dari darat, laut dan udara, bila orang-orang Indonesia tidak mentaati perintah Inggris.

Alih-alih menuruti ancaman itu, rakyat Surabaya memilih menolak dan tidak tunduk kepada Inggris. Rakyat Surabaya memutuskan tetap melawan, hingga terjadilah perang dahsyat pada 10 November 1945, selama kurang lebih tiga minggu lamanya.

Medan perang Surabaya itu mendapat julukan “neraka”, karena menyebabkan kerugian tidak sedikit. Pertempuran itu menewaskan ribuan korban.

Setidaknya 20.000 rakyat Surabaya menjadi korban, sebagian besar warga sipil. Selain itu, sekitar 150.000 orang terpaksa meninggalkan Kota Surabaya.

Sementara itu, tercatat 1.600 prajurit Inggris tewas, hilang dan luka-luka. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban saat itu, serta semangat membara bagaikan kobaran api yang ditunjukkan rakyat Surabaya, membuat Inggris merasa dipanggang.

Pertempuran di Surabaya pada 10 November 1945 itu pun ditetapkan sebagai Hari Pahlawan, melalui Keppres Nomor 316/1959 pada 16 Desember 1959 oleh Presiden Soekarno.

Penetapan itu untuk mengingat pertempuran besar yang telah terjadi pada 1945, serta sebagai bentuk penghargaan atas pengorbanan para pahlawan dan pejuang.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Pakar HTN Sambut Baik Putusan MK Perkuat Kedudukan Hasil Audit BPK

Selasa, 21 April 2026 | 18:18

Refly Harun soal Info P21 Kasus Ijazah Jokowi: Itu Ngarang!

Selasa, 21 April 2026 | 18:17

Efek Domino MBG, Pendapatan Petani Naik 60 Persen

Selasa, 21 April 2026 | 18:13

Hadiah Hari Kartini: Pengesahan UU PPRT Lindungi Pahlawan Domestik

Selasa, 21 April 2026 | 18:04

Staf PBNU Mangkir dari Panggilan, KPK Siap Jadwal Ulang

Selasa, 21 April 2026 | 17:52

RUU PPRT Disahkan DPR Bukti Perempuan Hadir di Parlemen

Selasa, 21 April 2026 | 17:43

Peringati Hari Kartini, KPP: Perempuan Harus Aktif dari Suara ke Aksi

Selasa, 21 April 2026 | 17:42

Huawei Rilis Pura 90 Series, Ini Spesifikasi, Fitur Kamera, dan Harganya

Selasa, 21 April 2026 | 17:16

Staf Orang Kepercayaan Maidi Dicecar KPK soal Penampungan Dana CSR

Selasa, 21 April 2026 | 17:13

13 WNI Jadi Korban Kebakaran 1.000 Rumah Apung di Malaysia

Selasa, 21 April 2026 | 17:10

Selengkapnya