Berita

Ilustrasi Foto/Net

Bisnis

Hanya Untungkan Bankir, Program KUR Dipertanyakan

KAMIS, 02 NOVEMBER 2023 | 15:48 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Program Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang terus didengungkan sebagai keberhasilan kebijakan ekonomi kerakyatan pemerintah dan diteruskan oleh para bakal capres, mengundang berbagai sorotan.
 
Pasalnya, program ini dinilai lebih banyak menguntungkan bank sebagai makelar program ketimbang masyarakat kecil yang seharusnya jadi target sasaran.
 
Pemerhati koperasi dan UMKM sekaligus Ketua Asosiasi Kader Sosio Ekonomi Strategis (Akses), Suroto, menyebut uang negara hanya dijadikan pembagian bonus bagi komisaris dan direksi bank, pemegang saham dan termasuk pemegang saham orang asing.
 

 
“Alokasi fiskal yang besar, yang bersumber dari pajak, dibayar rakyat hanya untuk tujuan yang berikan keuntungan bagi banker, bank komersial yang sudah "go public" dan sebagian sahamnya sudah dimiliki asing,” kata Suroto kepada Kantor Berita Politik RMOL di Jakarta, Kamis (2/11).
 
“Ini adalah bentuk perampasan uang negara secara terang terangan dan nir-moral. Apalagi bank BUMN itu semestinya memberikan keuntungan bagi negara dan Masyarakat, bukannya menjadi beban fiskal negara dan pajak rakyat,” tambahnya menegaskan.
 
Lanjut dia, kebijakan KUR ini juga memberikan batasan plafon pinjaman hingga Rp500 juta. Menurut dia, itu sudah menyalahi tujuan dari kriteria penerima subsidi KUR. Hal itu tak sesuai dengan misi awal target sasaran kelompok penerima KUR, yang merupakan rakyat kecil dan usaha mikro yang tidak bankable.
 
“Plafon Rp500 juta adalah kelompok orang yang tidak layak menerima subsidi negara. Mereka seharusnya sudah mampu mengakses kredit komersial bank,” tegasnya.
 
Masih kata Suroto, kebijakan KUR ini tentu bukan hanya ciptakan moral hazard, tapi juga menghancurkan mental kerja bankir kita.
 
“Mereka menjadi kehilangan daya kompetitifnya jika dibandingkan dengan bankir negara lain,” ungkapnya.
 
Selain itu, sambung dia, kebijakan KUR ini otomatis akan membunuh kompetisi bagi lembaga keuangan lain. Kekuatan monopoli pembiayaan oleh bank akan ciptakan sistem lembaga keuangan yang monokultur.
 
“Artinya menciptakan sistem keuangan yang rentan karena akan membuat semua orang bergantung kepada sistem tunggal bank komersial, dimana ketika krisis, sesuai standard Basel maka akan menjadi "over prudent", dan rakyat jelata lagi lagi yang menjadi korban karena akan sulit dapatkan akses lembaga keuangan,” jelasnya.
 
Suroto membeberkan, negara-negara maju seperti Kanada, Amerika Serikat, Prancis, Jerman, Jepang dan lain lain, ternyata arsitektur kelembagaan keuangannya bukan menganut sistem monokultur perbankkan komersial.
 
“Mereka terus menghidupi kelembagaan keuangan alternatif lainya seperti misalnya koperasi kredit (Credit Union). Mereka sadar jika ketahanan sistem layanan keuangan bagi masyarakat itu justru ditentukan oleh banyaknya varian layanan dari lembaga keuangan,” jelasnya lagi.
 
Dia mencontohkan saat krisis ekonomi tahun 2008, koperasi simpan pinjam (Credit Union) di Amerika Serikat ternyata justru memainkan peranan yang menyelamatkan usaha kecil.
 
Demikian juga di Kanada, walaupun bank dan koperasinya sudah kuat, pemerintah tetap ciptakan lembaga lembaga keuangan sebagai penyalur kredit program dengan sistem polling dengan bekerja sama dengan Koperasi Kredit (Credit Union) untuk mengisi kekosongan layanan bagi kelompok Masyarakat.
 
“Di Indonesia, kebijakan KUR dengan skema yang diskriminatif memihak dan memberikan keuntungan pada bank, bukannya memperkuat kelembagaan keuangan lainya, secara tidak langsung telah mematikan koperasi, BMT, dan lain lain,” bebernya.
 
“Program KUR dan sistem kebijakannya saat ini mendapat pertanyaan besar, untuk siapa sebetulnya sasaran dari program ini. Kenapa justru banyak menguntungkan bankir, bunuh lembaga keuangan lain?” tegasnya lagi.
 
Program KUR selama ini diklaim sebagai sukses pemerintah berikan bunga rendah untuk rakyat, dan sukses BUMN sumbang negara. Namun semua prestasi itu sumbernya dari pajak rakyat.
 
“Sesuatu yang aneh karena seharusnya justru BUMN itu menghasilkan keuntungan untuk negara. Rumus ekonomi yang sehat, tingkat suku bunga pinjaman yang murah itu adalah akibat dari pergerakan sektor riil yang membaik, bukan karena dipaksa negara. Tapi rupanya pemerintah demi popularitasnya mengorbankan kepentingan ini,” pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Bea Cukai Sita 1.435 Bale Pakaian Bekas Ilegal Senilai Rp11,4 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:26

Bea Cukai Gagalkan 30 Kontainer Berisi Beras-Garam hingga Balpres, Nilainya Rp27,3 Miliar

Selasa, 22 September 2026 | 12:14

Lulus Kuliah, Sarjana SGU Ditantang Adaptif Hadapi Perubahan

Selasa, 22 September 2026 | 12:03

KPK Bakal Dalami Keterlibatan Dua Dirjen ATR/BPN yang Belum Jadi Tersangka

Selasa, 22 September 2026 | 11:55

Keselamatan Warga Harus Diprioritaskan di Tengah Banjir Bandang Solok

Selasa, 22 September 2026 | 11:51

Menlu Sugiono Serukan Langkah Nyata Group Eight Hentikan Krisis Gaza

Selasa, 22 September 2026 | 11:49

Harga Bitcoin Melonjak 6,66 Persen ke 86.614 Dolar AS

Selasa, 22 September 2026 | 11:47

Parpol Nonparlemen Bakal Kesulitan Jika Wacana Dua Fraksi untuk Capres Diterapkan

Selasa, 22 September 2026 | 11:37

NPCT1 Pastikan Tidak Ada Korban Pasca-Kebakaran Kontainer

Selasa, 22 September 2026 | 11:32

Sjafrie Apresiasi Jepang, dari Kemitraan Pertahanan hingga Bantuan Chinook

Selasa, 22 September 2026 | 11:05

Selengkapnya