Berita

Felix Pasila/Ist

Dahlan Iskan

Paten Pasila

SENIN, 25 SEPTEMBER 2023 | 04:51 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

"JANGAN lagi hanya berorientasi ke Corpus. Kita malu dengan sopir taksi".

Maksudnya: doktor dan guru besar jangan hanya berlomba bikin karya tulis untuk dipublikasikan di jurnal. Bikinlah karya nyata. Sekecil apa pun. Lebih tegasnya lagi: kejarlah paten. Jangan kejar jurnal.

Yang mengatakan itu tamu saya Sabtu lalu. Ia sendiri sudah punya lebih dari 40 paten. "Paten itu tidak harus laku. Tidak harus langsung bisa dilaksanakan. Paten itu aset. Seperti punya tanah. Lama-lama sangat berharga," katanya.


Namanya: Felix Pasila. Lulusan elektro ITS (Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya). Masternya di Jerman. Di bidang automation. Doktornya di Bologna, Italia. Di bidang artificial intelligence (AI).

Menjelang mendapat gelar doktor Felix kembali ke Indonesia. Tahun 2013. Dari  bandara Juanda ia naik taksi. Di perjalanan ia ngobrol dengan sopir.

"Apakah penghasilan dari taksi cukup untuk hidup?"

“Saya punya pekerjaan sampingan".

"Apa?"

“Servis kipas angin".

"Bapak lulusan apa?"

“Hanya sampai kelas 5 SD".

"Dari mana mendapat ilmu sampai bisa memperbaiki kipas angin?"

"Belajar dari YouTube. Sambil menunggu penumpang saya belajar itu".

"Kerjanya malam?"

“Saya ajari anak-anak muda di kampung. Mereka sudah bisa. Sekarang ada 20 anak yang bekerja di tempat saya".

Dialog dengan sopir taksi itu menyadarkan Felix habis-habisan. Dari situ ia berubah pikiran. "Lulusan kelas 5 SD saja bisa berkarya. Saya ini calon doktor. Tidak boleh kalah," kata Felix.

Kembali ke Bologna Felix tidak hanya menyelesaikan doktornya. Ia juga terus memikirkan apa yang harus dilakukan agar tidak kalah dengan lulusan kelas 5 SD.  

Maka ia putuskan: bikin ''Rumah Pasila''. Diambil dari nama belakangnya: Felix Pasila.

Pasila adalah marga di Toraja. Felix orang Toraja yang lahir di Kendari. Ayahnya bekerja di Kendari.

Kini umurnya 49 tahun. Ia ingin Indonesia bisa mengejar ketinggalan di bidang paten. "Kita hanya punya 15.000 paten setiap tahun," katanya. "Tiongkok punya 1 juta paten setahun," tambahnya.

Dengan satu juta paten itu kini Tiongkok sudah mengalahkan Amerika. Di AS lahir 600.000 paten setahun. Dulunya Amerika selalu unggul. Selama puluhan tahun. Belakangan bisa dikejar.

"Saya ingin Indonesia bisa segera mencapai angka 100.000 paten/tahun," ujar Felix.

Caranya?

"Para doktor dan guru besar berubah orientasi. Jangan hanya mengejar jurnal," katanya.

Lalu Felix membangun ''Rumah Pasila'' itu. Ia membangun aplikasi untuk siapa saja yang ingin melahirkan dan mengejar paten. Rumah Pasila adalah market place untuk paten.

Kalau keinginan Felix itu terwujud berarti instansi yang memproses paten juga harus siap. Angka itu berarti lebih 8 kali lipat dari sekarang. Kalau tidak ada perubahan, prosesnya bisa sangat lama.

Salah satu paten milik Felix adalah aplikasi yang dipasang di toilet. Khususnya di tempat kencing. Dari aplikasi itu akan ketahuan tingkat kekeruhan dan kandungan mineral si pengguna urinoir. Ketahuan juga hal-hal lainnya. Misalnya narkoba.

Aplikasi itu bisa dipasang di toilet-toilet tambang. Atau di perusahaan tertentu. Penyakit pekerja akan diketahui. Juga bila kurang minum. Atau malamnya mereka banyak minum alkohol yang membahayakan operasional alat tambang.

Felix juga punya paten agar cat mobil bisa sekaligus sebagai panel tenaga surya. Waktu menemukan ide itu Felix minta timnya, mahasiswa kimia, untuk mengujinya.

"Memang hasilnya tidak sebesar panel surya. Tapi bisa 80 persennya," katanya.

Dari sekian banyak patennya itu sudah ada yang dibeli orang Myanmar. Sebenarnya ia orang Indonesia. Kawin dengan ratu kecantikan di sana. Anak pengusaha besar.

Felix sendiri beristri wanita Toraja. Waktu ambil S-2 di Bremen, sang istri diajak serta. Ikut kuliah di sana. Hamil. Saat dekat melahirkan dia pulang. "Kalau melahirkan di Jerman takut urusannya ruwet," kata Felix.

Ketika Felix ambil doktor di Bologna, sang istri meneruskan kuliah di Bremen. Lalu menyusul ke Bologna. Hamil lagi. Kali ini berani melahirkan di Bologna.

"Anak kedua itu saya beri nama Santo Egidio," katanya.

Itu diambil dari nama jalan di depan rumah yang ditempati Felix di Bologna.

Populer

Enam Pengusaha Muda Berebut Kursi Ketum HIPMI, Siapa Saja?

Kamis, 22 Januari 2026 | 13:37

Rakyat Lampung Syukuran HGU Sugar Group Companies Diduga Korupsi Rp14,5 Triliun Dicabut

Kamis, 22 Januari 2026 | 18:16

Kasi Intel-Pidsus Kejari Ponorogo Terseret Kasus Korupsi Bupati Sugiri

Rabu, 21 Januari 2026 | 14:15

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

"Surat" dari MSCI, Gempa di IHSG

Sabtu, 31 Januari 2026 | 08:06

Jelang Harlah ke-100 NU, Ribuan Warga Nahdliyyin Padati Istora Senayan

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:58

Sebelum Letakkan Jabatan, Mahendra Siregar Beri Sinyal Positif untuk Danantara

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:51

Kevin Warsh, Veteran Bank Sentral Calon Ketua The Fed

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:41

OJK Buka Pintu bagi Danantara dalam Rencana Demutualisasi BEI

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:17

Donald Trump Resmi Tunjuk Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed

Sabtu, 31 Januari 2026 | 07:04

Pantai Larangan Tegal Penuh Kayu Gelondongan dari Gunung Slamet

Sabtu, 31 Januari 2026 | 06:29

Polri di Bawah Presiden Pastikan Tugas Kamtibmas Berjalan Baik

Sabtu, 31 Januari 2026 | 06:06

Yel-yel Panitia Haji

Sabtu, 31 Januari 2026 | 05:49

LaNyalla Dorong Pemulihan Cepat Ekosistem Pulau Gili Iyang

Sabtu, 31 Januari 2026 | 05:20

Selengkapnya