Berita

Ilustrasi Foto/Ist

Nusantara

Ekomarin: Negara Masih Abai Terhadap Perlindungan Nelayan dan Isu Kelautan

MINGGU, 17 SEPTEMBER 2023 | 23:04 WIB | LAPORAN: ADITYO NUGROHO

Rekomendasi Tim Percepatan Reformasi Hukum dalam Agenda Prioritas Percepatan Reformasi Hukum yang telah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) hanya cenderung berisi isu-isu daratan (bias darat).

Ekologi Maritim Indonesia (Ekomarin) memandang laporan tersebut tampaknya mengabaikan isu-isu perikanan serta perlindungan nelayan yang sangat penting bagi negara kepulauan seperti Indonesia.

"Ada lima alasan utama yang mendasari pandangan kami. Pertama, tidak ada penjelasan atau pembahasan mengenai UU 7/2016 tentang Perlindungan Dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, Dan Petambak Garam. Meskipun UU ini telah ada, implementasinya tampaknya belum optimal, terutama dalam aspek perlindungan nelayan mulai dari aspek perencanaan hingga sarana dan prasarana usaha perikanan," kata Koordinator Nasional Ekomarin, Marthin Hadiwinata dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (17/9).  


Sebagai contoh, sambung dia, data dari Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menunjukkan bahwa 82,8 persen nelayan kecil mengalami kesulitan dalam mengakses BBM bersubsidi. Belum lagi penyediaan akses terhadap prasarana dan sarana perikanan skala kecil seperti cold storage untuk nelayan kecil dan nelayan tradisional.

"Kedua, masalah tata kelola sumber daya perikanan tidak mendapatkan perhatian misalnya konflik alat tangkap, yang telah ada sejak era 1970-an, belum mendapatkan solusi. Alat tangkap trawl masih beroperasi di berbagai wilayah, termasuk Sumatera dan Kalimantan," jelas Marthin.

Selain itu, lanjut dia, ada kecenderungan untuk memprivatisasi sumber daya perikanan dengan skema Perikanan Terukur, yang seharusnya menjadi perhatian dalam tim percepatan reformasi hukum. Ditambah lagi pengawasan sumber daya kelautan Indonesia masih lemah baik pengawasan dari darat maupun pengawasan di laut.

"Masuknya kapal asing untuk menangkap ikan tanpa izin (illegal fishing) ke laut Indonesia masih terjadi berdasarkan laporan di lapangan dari nelayan," ungkapnya

Marthin menyebut nelayan kecil dan nelayan tradisional di wilayah pesisir sering kali tidak mendapatkan perlindungan hak tenurial yang layak. Karena akar konflik pemanfaatan sumber daya perairan pesisir dan perikanan terjadi karena tiadanya perlindungan tenurial nelayan dan akan semakin meningkat.

"UU 7/2016 seharusnya menjamin perlindungan nelayan dengan pemberian hak akses dan ruang penghidupan yang meliputi wilayah atau zona menangkap ikan atau membudidayakan ikan, tempat melabuhkan kapal perikanan, dan tempat tinggal nelayan kecil, nelayan tradisional, pembudidaya ikan kecil, dan petambak garam kecil. Salah satunya tiadanya Peraturan Pemerintah pelaksana UU 7/2016 tersebut yang menjadi panduan juga untuk pemerintah provinsi dan kabupaten/kota untuk menerapkannya," beber dia.

Dia menegaskan bahwa Tim Percepatan Reformasi Hukum mengabaikan isu-isu krusial terkait dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan pantai serta pulau kecil. Dekriminalisasi Pasal 72 UU Penataan Ruang serta perubahan Pasal 26A UU Pesisir melalui Perppu Cipta Kerja menunjukkan kecenderungan pemerintah untuk memberikan kemudahan investasi di wilayah pesisir dan pulau kecil, yang bisa mengancam keberlanjutan sumber daya tersebut.

"Deregulasi ini menunjukkan intensi pemerintahan Presiden Joko Widodo yang mendorong investasi atas wilayah dan sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil dimana barang milik publik dapat diprivatisasi untuk kepentingan investasi di pesisir pantai," ulasnya.

Masih kata Marthin, terdapat indikasi dorongan untuk memprivatisasi sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil melalui skema hak atas tanah di wilayah perairan pesisir. Pemberian hak tersebut serupa dengan hak pengusahaan perairan pesisir yang sebelumnya dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi.

"Pemberian hak ini harus didasarkan pada undang-undang, bukan hanya peraturan pemerintah (Pasal 65 ayat (2) PP 18/2021). Jika tujuannya adalah untuk melindungi masyarakat adat, Ekomarin berpendapat seharusnya pendekatannya berorientasi pada hak komunal, bukan hak privat individual yang dapat mengarah pada pendekatan pasar atas hak tersebut," jelasnya lagi.

Ekomarin mengapresiasi dedikasi dan semangat Tim Percepatan Reformasi Hukum dalam upaya reformasi hukum di Indonesia untuk bekerja secara optimal dalam waktu sesingkatnya.

"Namun, kami berpendapat bahwa isu-isu kelautan dan perikanan adalah bagian integral dari identitas bangsa dan harus mendapatkan perhatian yang setara dalam reformasi hukum. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki kewajiban untuk melindungi kekayaan alamnya dan rakyat yang bergantung pada sumber daya tersebut," pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Wall Street Variatif, Nasdaq Naik Ditopang Saham AI

Rabu, 23 September 2026 | 08:21

Kejagung Garap Lima Saksi di Kasus Korupsi MBG, Ada Pegawai SPPG Karawang

Rabu, 23 September 2026 | 08:06

Emas Gagal Bersinar, Tertekan Ekspektasi Suku Bunga Ketat dan Penguatan Dolar AS

Rabu, 23 September 2026 | 07:41

Dolar AS Berfluktuasi Ditopang Ketidakpastian Minyak

Rabu, 23 September 2026 | 07:23

Bursa Eropa Beragam: Dorongan Sektor Teknologi Imbangi Tekanan Sektor Keuangan

Rabu, 23 September 2026 | 07:07

Ruang Amal Indonesia-IFG Life-Kemenko PM Hadirkan Program bagi Ojol Tunarungu

Rabu, 23 September 2026 | 06:40

Sering Kebakaran, Gedung Wajib Miliki Alat Deteksi Dini

Rabu, 23 September 2026 | 06:28

MUI Minta Pelaku Usaha Bersiap Hadapi Wajib Halal 18 Oktober

Rabu, 23 September 2026 | 06:18

Kursi Gibran Goyang

Rabu, 23 September 2026 | 06:03

Dua Jemaah Haji Indonesia Masih Dirawat di RS Arab Saudi

Rabu, 23 September 2026 | 05:45

Selengkapnya