Berita

Pusat penerimaan suaka Jerman/Net

Global

Kewalahan Akibat Perang Ukraina, Jerman Deportasi Ratusan Pencari Suaka Afghanistan dan Suriah

KAMIS, 31 AGUSTUS 2023 | 12:15 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Selama 2023 Jerman telah mendeportasi ratusan pencari suaka asal Afghanistan dan Suriah serta menyewa lima penerbangan untuk memulangkan mereka ke Turkiye.

Data tersebut muncul dalam dokumen yang diserahkan kepada anggota parlemen setelah anggota parlemen sayap kiri menyuarakan keprihatinan tentang perlakuan terhadap pencari suaka.

Laporan menunjukkan, lebih dari 650 warga Afghanistan dan 400 warga Suriah termasuk puluhan perempuan dan anak-anak diusir pada paruh pertama tahun 2023. Para pengungsi biasanya dipindahkan ke negara-negara di perbatasan UE setelah Jerman menolak klaim mereka.


Sementara itu ratusan migran dari Turkiye dan Aljazair, serta puluhan migran dari Pakistan, Tunisia, Maroko dan Irak, langsung dipulangkan ke negara asalnya.

The National melaporkan, para menteri menghabiskan 71.000 euro (77.000 dolar AS) untuk satu penerbangan sewaan yang membawa tiga orang dari Berlin ke Lebanon. Pesawat lain lepas landas ke Bagdad dengan hanya membawa satu orang.

Lima penerbangan mini charter mendeportasi total 19 orang ke Turkiye. Pasukan keamanan Aljazair terlibat dalam mengawal hampir 200 orang kembali ke negara Afrika Utara tersebut.

Para pejabat menolak untuk mengidentifikasi maskapai penerbangan yang terlibat dalam deportasi, karena khawatir kritik publik akan membuat mereka menarik layanan mereka.

"Hal ini akan membuat deportasi menjadi lebih sulit atau bahkan tidak mungkin," tulis pejabat Kementerian Dalam Negeri dalam 41 halaman dokumen yang diserahkan ke parlemen.

Deportasi ke Afghanistan telah ditangguhkan sejak Agustus 2021, tak lama sebelum Taliban kembali berkuasa. Pengembalian ke Suriah belum pernah dilakukan sejak tahun 2012.

Namun, para menteri berada di bawah tekanan untuk meringankan beban fasilitas suaka Jerman karena pemerintah setempat kewalahan akibat dampak perang di Ukraina.

Kantor Unicef di Jerman mengatakan pada Selasa (29/8) bahwa beberapa pengungsi muda menghabiskan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun di akomodasi yang tidak cocok untuk anak-anak.

Jerman baru-baru ini mengusulkan perpanjangan masa penahanan imigrasi dari 10 menjadi 28 hari dan memperluas kewenangan pencarian polisi untuk mempercepat deportasi.

Sebagian besar warga Afghanistan dan Suriah dievakuasi berdasarkan apa yang disebut peraturan Dublin, yang mewajibkan mereka untuk mencari suaka di negara tempat mereka pertama kali tiba.

Ribuan warga Afghanistan lainnya harus dideportasi setelah permohonan suaka mereka ditolak, meskipun beberapa dari mereka memiliki izin 'toleransi' sementara untuk tinggal di Jerman.

Jerman telah mendeportasi lebih dari 800 orang ke Austria – yang juga berupaya mengurangi jumlah suaka – berdasarkan peraturan Dublin.

Ratusan orang yang melakukan perjalanan melalui Eropa Tenggara dideportasi ke negara non-anggota Uni Eropa, Georgia, Makedonia Utara, dan Albania.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Digiring ke Bareskrim, 10 Tersangka Sabu Blue Ice 1,2 Ton Terancam Hukuman Mati

Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:18

KPK Bongkar Kejanggalan Status Bima-Richard dan Proyek Pengadaan BNPB

Selasa, 27 Oktober 2026 | 22:18

Menlu RI dan Singapura Bertemu, Bahas Penindakan Korporasi Pelaku Karhutla

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:47

Lula dan Prabowo dalam Angka juga Cerita

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:30

Sejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, Tonggak Persatuan Bangsa

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:22

Dari Vietnam, Gus Lilur Desak KPK Usut Dugaan Politik Uang Muktamar NU

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:21

BRIN Percepat Uji Klinis 19 Kandidat Obat Herbal Menuju Fitofarmaka

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:16

Koperasi Jadi Motor Ekonomi Desa di Era Prabowo-Gibran

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:12

BCA Catat Laba Bersih Rp45,2 Triliun, Naik 4,2 Persen

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:05

Daftar Peringkat Ballon d'Or 2026: Harry Kane Juara, Messi Posisi Kelima

Selasa, 27 Oktober 2026 | 21:03

Selengkapnya