Berita

Ketua DPW Partai NasDem Jabar, Saan Mustopa/RMOLJabar

Politik

Nasdem Jabar Nilai Pemilu Serentak Tidak Efektif, Ini Alasannya

MINGGU, 06 AGUSTUS 2023 | 01:05 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Jawa Barat mengakui sistem Pemilu serentak berdampak terhadap Pemilu Legislatif (Pileg) yang kurang mendapat perhatian publik daripada Pemilu Presiden (Pilpres).

Ketua DPW Partai Nasdem Jabar, Saan Mustopa mengatakan, sistem Pemilu serentak telah berdampak terhadap kurangnya atensi masyarakat terhadap Pileg dibanding Pilpres. Akibatnya, isu Pileg menjadi tenggelam dari isu Pilpres yang dianggap jauh lebih menarik. Publik memiliki banyak ekspektasi terhadap para bakal calon presiden (Bacapres) ketimbang bakal calon anggota legislatif (bacaleg).

"Ini kali kedua Pemilu serentak dan memang kompetisi (Pilpres) lebih ketat, jadi publik lebih fokus ke Pilpres. Sehingga yang namanya Pileg agak terabaikan. Jadi seakan-akan Pemilu itu ya Pilpres," ucap Kang Saan, sapaan akrabnya, diwartakan Kantor Berita RMOLJabar, Sabtu (5/8).


Ditambahkan Kang Saan, harapan Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan Pileg dan Pilpres disatukan dalam Pemilu serentak salah satu tujuannya untuk memerkuat  sistem pemerintahan yakni, Sistem Presidensial.

"Tapi yang ada ternyata malah ada kesenjangan (akibat putusan MK tersebut) antara Pilpres dan Pileg tadi, di mana publik lebih fokus terhadap Pilpresnya, Pilegnya agak terabaikan," tutur Wakil Ketua Komisi II DPR RI ini.

Selain berdampak terhadap kesenjangan atensi masyarakat, sistem tersebut juga telah mengakibatkan sebanyak 17,5 juta suara tidak sah pada Pemilu serentak 2019 lalu. Bahkan suara tidak sah untuk Pileg mencapai 11,12 persen, melampaui batas wajar suara tidak sah yang seharusnya tidak melebihi 3 hingga 4 persen saja.

"Tingkat partisipasi masyarakat untuk Pilpres tinggi, sementara untuk Pileg dengan suara yang tidak sah itu kan ada gap, ini yang terjadi kalau di 2019. Kalau di (Pemilu) 2024 terjadi lagi, maka semangat untuk memperkuat Sistem Presidensial digabungkan itu tidak efektif," bebernya.

Karena terjadi kesenjangan perhatian masyarakat terhadap Pileg dan Pilpres, dia mengharapkan, penyelenggara Pemilu yakni KPU dan Bawaslu memiliki formula dan mampu meningkatkan fokus dalam sosialisasi pendidikan pemilih. Supaya masyarakat bisa memahami, bahwa Pileg maupun Pilpres memiliki porsi yang sama pentingnya untuk menentukan nasib serta arah bangsa ke depan.

"Nah ini, KPU, Bawaslu, dan juga mungkin partai, serta yang lain harus kerja keras untuk menyeimbangkan Pileg dan Pilpres, supaya (perhatian publik) tidak jomplang. Karena efeknya nanti Pileg tidak menjadi perhatian masyarakat, akhirnya asal-asalan, yang muncul legitimasi, kualitas, dan sebagainya kurang," pungkasnya.

Mahkamah Konstitusi telah mengabulkan Judicial Review Undang-Undang nomor 42 tahun 2008 tentang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden dilakukan secara serentak mulai 2019. Sementara pada 2014, Pemilu dilakukan secara terpisah.

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

UPDATE

Kuota Internet Hangus Digugat ke Mahkamah Konstitusi

Jumat, 27 Februari 2026 | 00:01

Mantan Personel Militer Filipina Ungkap Skandal Politik Uang Pejabat Negara

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:56

Penanganan Kasus Lapangan Padel Jangan hanya Reaktif Usai Muncul Polemik

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:38

Legislator PKS Soroti Ketimpangan Politik Hukum Laut Nasional

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:22

PLN Enjiniring Raih Dua Penghargaan ITAY 2026

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:17

Tiga Syarat ‘State Capitalism’

Kamis, 26 Februari 2026 | 23:04

CMNP Minta Sita Jaminan Rumah Hary Tanoe di Beverly Hills

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:47

IPK 2025 Anjlok ke 34, Rudy Darsono: Efek Jera Cuma Jualan Politik

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:37

Konektivitas Nasional di Daerah Bencana Pulih 100 Persen

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:32

BPKH Perkuat Sinergi Investasi Nasional dan Internasional Lewat Revisi UU

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:18

Selengkapnya