Berita

Rekaman dokter menampar balita/Net

Publika

Kalau Dokter Marah Bisa Tampar Balita

SELASA, 01 AGUSTUS 2023 | 10:29 WIB | OLEH: DJONO W OESMAN

WAKIL Direktur RSU Bahagia Makassar, dr Makmur, 65, dipecat gegara menampar bocah laki usia 3 tahun, Muhammad Aydan sampai tersungkur. Legal Konsultan RSU Bahagia, Muhammad Fakhruddin mengatakan: “Keputusan rapat direksi, beliau dipecat tidak hormat.”

Peristiwa itu menghebohkan. Kejadian direkam video, diunggah ke medsos dan viral. Selain dipecat, Makmur juga dipolisikan ayah si balita, Muhammad Ibnuagung Yasin, 27, yang biasa dipanggil Agung.

Polrestabes Makassar sudah menetapkan Makmur sebagai tersangka. Tapi tidak ditahan, karena ancaman hukuman di bawah lima tahun penjara.


Kronologi, Kamis, 17 Juli 2023 sekitar pukul 23.00 Wita, main catur dengan teman di Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar, Sulsel. Warung kopi itu milik Agung, dan Agung ada di situ.

Tahu-tahu bocah laki anak Agung lewat, mendekati catur. Salah satu bidak catur diambil, menyenggol bidak-bidak lain. Susunan catur berantakan, berjatuhan.

Makmur langsung menampar bocah iu, satu kali, dengan keras. Bocah jatuh tersungkur, bibirnya sobek kebentur kursi. Saat kejadian, Agung ada di situ dan melihat langsung.

Lalu, Agung minta maaf. Ia memunguti bidak-bidak catur yang jauh. Disusun kembali. Agung minta maaf, anaknya sudah menjatuhkan bidak catur.

Ternyata, reaksi Makmur malah memarahi Agung. Mengumpat aneka kata. Sambil berjalan pergi, meninggalkan warung. Kejadian itu terekam CCTV.rekaman ini diunggah ke medsos dan viral.

Agung kepada wartawan, Senin (31/7) menceritakan, Makmur pergi meninggalkan warung sambil mengumpat Agung. “Ia bilang, laporkan ke polisi, saya tidak takut. Saya punya saudara polisi,” katanya menirukan Makmur.

Agung: "Besoknya, pagi-pagi ia telepon saya. Kan ia lihat itu video, yang sudah beredar malamnya. Ia bilang: Eh… jangan kau edit-edit itu video, nah. Saya jawab, saya tidak edit. Memang itu kenyataan.”

Dilanjut: "Setelah bicara segala macam, ia bilang: Pokoknya saya akan laporkan kau. Lapor pencemaran nama baik. Saya bilang, lapor kan pak. Karena saya mau melapor juga ini.”

Jumat, 28 Juli 2023 pagi Agung berangkat melapor ke Polrestabes Makassar. Laporan diterima, Makmur selaku terlapor dipanggil polisi.

Agung: "Pas saya sudah melapor, ia telpon saya lagi. Ia minta maaf. Lalu saya bilang: Dari tadi pagi saya tunggu permintaan maafnya, tapi tidak ada. Sekarang saya sudah lapor polisi."

Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Makassar, Iptu Alim Bachri kepada pers, Senin (31/7) mengatakan:

"Setelah kami periksa, M jadi tersangka. Pasal yang disangkakan Pasal 80 Ayat 1 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukuman tiga tahun enam bulan penjara."

Makmur tidak ditahan. Alasan polisi, berdasar peraturan, tersangka yang wajib ditahan adalah yang diancam hukuman lima tahun ke atas.

Legal Konsultan RSU Bahagia, Muhammad Fakhruddin kepada wartawan, Senin (31/7) mengatakan, Makmur adalah pensiunan dokter dan ASN. Sejak empat bulan lalu menjabat wakil direktur di situ.

Fakhruddin: "Beliau sudah tidak terpakai lagi sebagai dokter. Cuma pegang jabatan struktural. Jadi itu hanya mengurus manajemen, tidak melayani pasien lagi. Sekarang sudah diberhentikan dengan tidak hormat.”

Menurutnya, kinerja Makmur sebagai Wadir cukup baik. Tapi sejak sepekan sebelum kejadian, Makmur kelihatan sering murung, menyendiri. Diduga depresi urusan keluarga.

Fakhruddin: “Ada kemungkinan yang bersangkutan depresi. Beliau mungkin tujuan datang ke warung kopi main catur untuk refreshing. Tiba-tiba ada yang mengganggu, dan refleks dia melakukan tindakan seperti itu.”

Apa kata Makmur setelah dipecat? Ditanya wartawan, ia menjawab begini:

"Itu kewenangan mereka. Jangankan jabatan, nyawa saya saja hilang tidak ada masalah. Mengenai jabatan itu, kan memang pinjaman, bukan milik seumur hidup.”

Dilanjut: "Saya sudah beberapa kali dipecat, diberhentikan secara tiba-tiba. Tapi Alhamdulillah, setelah diberhentikan, dapat kerja lagi. Saya pernah Direktur Rumah Sakit Selayar. Pernah kepala rumah sakit. Pernah wadir rumah sakit haji. Jadi, pernah banyak jabatan saya.”

Ucapan Makmur itu tanda ia masih emosi. Ia juga mengungkap latar belakang pekerjaannya yang sering dipecat. Raut wajahnya galak. Badannya tinggi besar, berkacamata.

Suami-isteri pakar psikiatri, Prof Ruben Gur dan Prof Raquel Gur dari University of Pennsylvania School of Medicine, Amerika Serikat (AS) ahli tentang emosi. Mereka melakukan riset tentang itu.

Mereka, kepada The Guardian memaparkan hasil riset terbaru. Dimuat Minggu, 12 Mei 2019 berjudul, “Science of anger: how gender, age and personality shape this emotion”, dipaparkan:

Emosi, bawaan dasar manusia sejak manusia purba. Pria-wanita sama saja.

Perbedaan utama emosi pria dan wanita, bahwa pria merasa kurang efektif ketika dipaksa menahan marah. Sebaliknya, wanita lebih mampu mengendalikan respons impulsif marah.

Marah, renspons dari otak. Itu bagian dari naluri kita untuk melawan ancaman, bersaing untuk mendapatkan sumber daya, dan menegakkan norma sosial.

Kemarahan berakar pada sirkuit penghargaan di otak. Ketika ada ketidaksesuaian antara apa yang telah kita pelajari untuk diharapkan dengan kenyataan yang berkebalikan dengan harapan, maka sirkuit penghargaan di otak membunyikan alarm. Itu terletak di otak, sebesar almond. Disebut amigdala.

Setelah alarm berbunyi, menyebabkan kelenjar adrenal membanjiri tubuh dengan hormon stres, seperti adrenalin, dan testosteron, mempersiapkan kita untuk agresi fisik.

Tapi belum benar-benar agresi. Baru pada tahap persiapan agresi. Karena, alarm itu dialirkan ke area otak kedua, disebut korteks prefrontal, yang bertanggung jawab untuk pengambilan keputusan dan penalaran.

Setelah korteks prefrontal memproses (menalar) barulah menghasilkan keputusan. Bentuk keputusannya bisa agresi, bisa juga menghindar. Agresi artinya menyerang (orang yang membuat marah). Diam bisa juga menghindar pergi.

Orang yang marah lalu agresi, pada saat itu tidak mempertimbangan untung-rugi. Langsung agresi. Orang yang diam atau menghindar, karena korteks prefrontal menghasilkan keputusan, orang itu tahu bisa agresi, api ia menghindar.

Hasil penelitian duet Prof Gur menunjukkan, ukuran amigdala pria dan wanita, sama besar. Sebesar kacang almond.

Di wilayah kedua otak, korteks prefrontal, antara pria dan wanita beda ukuran. Lebih besar pada wanita.

Itu menjelaskan, bahwa ketika wanita emosi, dia lebih bisa meredam agresi dibanding pria. Sebaliknya, pria cenderung langsung agresi.

Meskipun, alarm emosi wanita tidak berarti mati. Dia cuma meredam. Memendam, yang suatu saat bisa meledak lagi. Dalam bentuk agresi juga. Agresi dahsyat. Jelasnya, agresi tertunda. Dengan catatan, jika orang pemicu emosi tidak segera meredam orang yang marah.

Terpenting, kemarahan dapat mengubah cara kita memandang risiko. Studi telah menunjukkan bahwa itu dapat membuat kita lebih impulsif, dan membuat kita meremehkan kemungkinan hasil atau akibat yang buruk. Dampak buruk itu disadari orang yang marah, setelah kemarahan reda.

Pada kasus dr Makmur, ia marah dan menampar bocah Aydan pada Kamis (27/7) malam. Ketika diwawancarai wartawan, Senin (31/7) kemarahannya masih tersisa. Dengan mengungkap latar belakang berganti-ganti pekerjaan.

Memang tidak mudah mengendalikan marah. Teori tentang marah bisa berbuku-buku. Tapi ketika alarm marah menyala, orang lupa semua tentang buku itu.

Penulis adalah wartawan senior

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Tanpa Laboratorium Kuat, RI Hanya Jadi Pasar Teknologi Asing

Sabtu, 18 April 2026 | 00:13

Megawati-Dubes Jerman Bahas Geopolitik dan Antisipasi Krisis Global

Sabtu, 18 April 2026 | 00:01

Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026 | 23:39

Kereta Api Bakal Hadir di Tanah Papua

Jumat, 17 April 2026 | 23:21

Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Halal Oktober 2026

Jumat, 17 April 2026 | 23:01

Revisi UU Pemilu Rawan jadi Bancakan Parpol

Jumat, 17 April 2026 | 22:36

Pesan Prabowo di Dharma Santi 2026: Jaga Harmoni, Perkuat Persaudaraan

Jumat, 17 April 2026 | 22:14

Menkop: Prabowo Tegaskan Negara Hadir Atur Ekonomi Lewat Kopdes

Jumat, 17 April 2026 | 21:45

Dewas Didesak Gelar Perkara Laporan terhadap Jubir KPK

Jumat, 17 April 2026 | 21:35

YLBHI Diminta Kembali ke Khitah Bela Masyarakat Marginal

Jumat, 17 April 2026 | 21:20

Selengkapnya