Berita

Dmitry Medvedev/Net

Dunia

Medvedev: Konfrontasi Barat Berpotensi Membuat Konflik Ukraina Lebih Buruk dari Krisis Misil Kuba 1962

SELASA, 04 JULI 2023 | 00:51 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Sebuah prediksi tentang nasib perang Ukraina dikeluarkan oleh mantan Presiden Rusia yang paling kontroversial, Dmitry Medvedev, pada Senin (3/7).

Dalam sebuah pernyataan, Medvedev memperingatkan bahwa konfrontasi yang terus berlanjut antara Rusia dan Barat dalam beberapa dekade mendatang akan membuat perang di Ukraina menjadi konflik permanen.

"Konflik Ukraina bisa menjadi permanen mengingat Moskow akan terus memperjuangkan kepentingannya. Sementara NATO tidak kunjung memasukkan Ukraina sebagai anggota karena perang yang belum berakhir," ungkapnya, seperti dimuat The Star.


Menurut Medvedev, ketegangan antara Rusia dan Barat jauh lebih buruk daripada krisis misil Kuba tahun 1962, momen berbahaya dalam sejarah di ambang konfrontasi nuklir.

"Perang nuklir sangat mungkin terjadi dan tidak akan ada pemenangnya. Tetapi dukungan Barat untuk Ukraina dapat meningkatkan risiko konflik nuklir," jelasnya.

Analis Barat menganggap retorika Medvedev tentang perang nuklir merupakan taktik yang dimaksudkan untuk mengintimidasi Barat, mengecilkan dukungan militer untuk Ukraina dan menekan Kyiv agar mau melakukan pembicaraan damai dengan Moskow.

Banyak negara Barat berlomba memberikan beragam bantuan agar Ukraina dapat mempertahankan diri dari invasi brutal yang diluncurkan Rusia sejak Februari tahun lalu.

Amerika Serikat mengaku mengirimkan bantuan senjata dan keuangan untuk Ukraina untuk mengurangi risiko perang nuklir dan mendorong situasi yang kondusif untuk pembicaraan damai.

Di sisi lain, Ukraina menolak untuk bernegosiasi, sampai semua tentara Rusia dipindahkan dari wilayahnya.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Kasus Bansos, Kabulog Jateng hingga Pejabat Pemkab Brebes dan Jember Diperiksa KPK

Rabu, 09 September 2026 | 14:28

Purbaya Bakal Tarik Dana Daerah yang Mengendap Rp100 Triliun di Bank

Rabu, 09 September 2026 | 14:26

Rumah Digeledah, Direktur PT CMC Diperiksa KPK Hari Ini

Rabu, 09 September 2026 | 14:06

Rugikan Negara Rp35,7 Miliar, KPK Panggil Direktur PT Brantas Abipraya

Rabu, 09 September 2026 | 13:49

Kata Bonjopi, Persib si Raja Comeback

Rabu, 09 September 2026 | 13:39

Punya 12 Pabrik Sawit, Legislator Nilai Sintang Cocok Jadi Basis Produksi B50

Rabu, 09 September 2026 | 13:29

Pakistan: Serangan Houthi ke Saudi Bisa Aktifkan Pakta Pertahanan Mekkah

Rabu, 09 September 2026 | 13:27

PISA 2025 Tak Banyak Bergerak, Indonesia Sedang Menormalisasi Krisis Pembelajaran

Rabu, 09 September 2026 | 13:02

Penyaluran B50 Tembus 3,4 Juta KL, 94 Persen SPBU Sudah Salurkan Biodiesel

Rabu, 09 September 2026 | 12:47

Tim SAR Diminta Maksimalkan Pencarian Lima Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Rabu, 09 September 2026 | 12:38

Selengkapnya