Berita

Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata/Ist

Hukum

Perangi Politik Uang, KPK Serukan "Hajar Serangan Fajar"

SENIN, 03 JULI 2023 | 21:45 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Money politics (politik uang) dalam Pemilu hanya memunculkan sosok pemimpin yang tidak memiliki kapasitas dan integritas. Untuk itu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengangkat tagline "Hajar Serangan Fajar" pada Pemilu 2024.

Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata, pada media gathering sosialisasi Pemilu 2024 yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama KPK, di Jakarta, Senin (3/7).

Dia mengatakan, kurang dari lima bulan lagi Indonesia memasuki tahun politik 2024. Di saat yang sama, potensi praktik money politics menjadi salah satu tantangan yang perlu diatasi bersama, melalui sinergi dan kolaborasi berbagai elemen bangsa, termasuk media massa.


Alex menyorot masih banyaknya kepala daerah yang korupsi. Salah satu penyebabnya adalah money politics saat Pemilu, yang akhirnya memunculkan sosok pemimpin yang tidak memiliki kapasitas dan integritas.

"Sebuah pertanyaan besar, kenapa banyak kepala daerah yang korupsi, ternyata karena biaya politik yang mahal. Itu akar masalahnya," ujar Alex.

Berdasar survei Kemendagri dan KPK, kata dia, biaya alokasi calon kepala daerah, baik itu walikota ataupun bupati, antara Rp20 miliar-Rp30 miliar.

"Padahal itu belum dapat dipastikan menang. Sehingga terbayang berapa banyak biaya yang harus dilipatgandakan jika ingin menang," tegas Alex.

Tak jarang, sambung dia, dana sponsor atau vendor daerah setempat menjadi salah satu sumber pendanaan bagi biaya politik. Melalui pendanaan itu, calon yang didukung diharapkan dapat menang dan membayarnya dengan mempermudah vendor pada lelang proyek pembangunan nantinya.

Padahal, kata Alex, politik uang termasuk pelanggaran. Pada UU 10/2016 tentang Pilkada, pasangan calon yang melakukan politik uang bisa mendapat sanksi administrasi sampai pidana.

Dia berharap semua pihak mampu dan tegas menolak praktik politik uang yang sejatinya merusak iklim dan sistem demokrasi.

Terkait upaya pemberantasan korupsi, Alex juga menyoroti peran strategis media di Indonesia. Fokus media atas kinerja KPK diharapkan tak semata tentang penindakan, khususnya OTT, tapi juga tentang tugas KPK lainnya.

KPK berharap media dapat terus berperan aktif menggencarkan upaya pendidikan antikorupsi bagi masyarakat, terutama jelang Pemilu.

"Mari kita sukseskan Pemilu berintegritas dan menggandeng masyarakat untuk memilih calon yang berintegritas serta memiliki kapasitas. Bersama kita kampanyekan Hajar Serangan Fajar!" tegas Alex.

Sementara itu Deputi Bidang Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK, Wawan Wardiana, mengatakan, berdasar hasil kajian, 95,5 persen dari modus utama korupsi politik yang ditemukan, terkait finansial atau keuangan.

Mayoritas masyarakat, kata Wawan, masih menerima uang saat Pemilu, dengan alasan faktor ekonomi, tekanan sosial, permisif karena risikonya kecil, dan belum paham tentang politik uang.

Karena itu KPK mengupayakan strategi komunikasi yang relevan dan bersinergi dengan media. Usaha itu berfokus pada kekuatan media, kekuatan endorser, kekuatan engagement, kekuatan momentum, dan kunjungan ke media-media terpilih yang akan melakukan sosialisasi ke komunitas.

"Usaha itu kita kemas dalam kampanye Hajar Serangan Fajar. Tema itu lebih relevan. Menurut rencananya, 14 Juli mendatang tagline itu diluncurkan," katanya.

Sementara itu, Plh Menteri Kominfo, Mahfud MD, mengatakan, politik uang akan selalu ada. Pemimpin yang melakukan korupsi ibarat penjahat, yang dapat merusak masa depan negara, sehingga perlu dilawan dengan kekuatan seluruh anak bangsa.

"Perlu sinergi antar instansi, penyelenggara, penegak hukum, dan media. Jangan sampai ada intervensi atau ada tumpang tindih dalam menciptakan iklim Pemilu yang berintegritas. Kuatkan rasa cinta terhadap bangsa, itu penting terus disuarakan," kata Mahfud.

Media gathering juga mengagendakan diskusi dengan CEO/direktur utama/pimpinan redaksi media di Indonesia. Hadir pada kesempatan itu, Direktur Sosialisasi dan Kampanye KPK, Amir Arief, Karo Humas KPK, Yuyuk Andriati Iskak, dan Dirjen IKP, Usman Kansong.

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

Mantan Kadivhubinter Polri Napoleon Bonaparte Meninggal Dunia

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:30

UPDATE

Sambut Wacana Revisi UU Tipikor, Komisi III DPR: Perlu Dikaji Lebih Mendalam

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:32

Mahasiswa Bentangkan Poster Raksasa Tolak Karhutla

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:27

Asta Cita Sulit Berjalan Tanpa Stabilitas Keuangan dan Pemerintahan Bersih

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:22

Sahroni Minta Polisi Jaga Adik-adik Mahasiswa

Rabu, 28 Oktober 2026 | 18:11

Mahasiswa Demo Mabes Polri, Jangan Kriminalisasi Pegawai PLN

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:57

Nasdem Bedah Pemikiran Bung Hatta untuk Perkuat Etika Politik

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:51

Koperasi Sawit Didorong Bangun Pabrik CPO hingga Kilang Minyak Goreng

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:45

Massa Tertahan di Depan Gedung UOB, Desak Polisi Buka Jalan

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:41

IHSG Menguat Tipis Usai RUPSLB BEI Setujui Dividen Rp1,56 T

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:24

Massa Berbaju Hitam Lewat Kantor KPU RI Menuju Bundaran HI

Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:14

Selengkapnya