Berita

Ilustrasi/Net

Global

AS Salahkan Wagner atas Berakhirnya Misi Perdamaian PBB di Mali

SABTU, 01 JULI 2023 | 16:31 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Kepergian pasukan perdamaian PBB dari Mali, disinyalir erat kaitannya dengan pengaruh signifikan yang dimiliki tentara bayaran Wagner di negara Afrika Barat tersebut.

Begitu yang disampaikan Juru Bicara Keamanan Nasional Gedung Putih John Kirby dalam sebuah pernyataan pada Sabtu (1/7), menyusul berakhirnya misi Dewan Keamanan PBB di Mali atau biasa disebut (MINUSMA) pada Jumat (30/6).

Kirby menuduh pemimpin Wagner Yevgeny Prigozhin menggunakan pengaruhnya dan mendorong pemerintah Mali untuk menghentikan MINUSMA.


"Kami tahu bahwa pejabat senior Mali bekerja sama dengan Prigozhin untuk memberitahu Sekretaris Jenderal PBB agar menarik pasukan MINUSMA," ungkapnya, seperti dimuat Reuters.

Menurut penuturan Kirby, keluarnya MINUSMA dari Mali akan menguntungkan posisi Wagner.

"Wagner mendorong kepergian misi PBB untuk memajukan kepentingan mereka," tegasnya.

Di sisi lain, Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB Anna Evstigneeva mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa Mali telah membuat keputusan tersebut secara berdaulat.

"Kami mendukung penuh aspirasi Mali untuk mengambil tanggung jawab penuh dalam menstabilkan negara mereka," ujarnya.

Mali telah berjuang untuk membendung kelompok terorisme jihadis yang berakar setelah pemberontakan tahun 2012.

Kemudian pada 2013, Dewan Keamanan mengerahkan MINUSMA pertama kali dikerahkan untuk mendukung upaya asing dan lokal dalam memulihkan stabilitas.

Kendati demikian, situasi tidak kunjung stabil, bahkan kudeta militer Mali terjadi sebanyak dua kali pada 2020 dan 2021.

Pada Jumat (30/6), DK PBB dengan suara buat memilih untuk mengakhiri misi penjaga perdamaian selama yang telah mereka lakukan selama satu dekade, setelah junta Mali tiba-tiba meminta pasukan berkekuatan 13.000 orang itu pergi.

Penarikan pasukan MINUSMA dikhawatirkan dapat memperburuk situasi keamanan Mali yang memiliki perlengkapan militer tidak memadai, sementara sekitar 1.000 pasukan Wagner berada di sana.

Populer

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

DPR Minta Pemerintah Perkuat Insfrastruktur Kesehatan

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:28

Obligasi Global Perdana Danantara Laris

Senin, 26 Oktober 2026 | 16:13

Legislator PDIP Ini Janji Perjuangkan Alsintan

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:57

Pengurangan Angka Pelanggaran Jadi Indikator Keberhasilan Operasi Patuh Jaya 2026

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:44

KNMP Potensi Menjawab Kebutuhan Nelayan Kecil

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:30

Sinopsis dan Kisah Kelam Clayface, Musuh Ikonik Batman

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:19

Pemakzulan Gibran Harus Lewat Jalur Konstitusi, Bukan cuma Tekanan Politik

Senin, 26 Oktober 2026 | 15:15

Jelang Pemilu, Oposisi Israel Klaim Netanyahu Tak Layak Pimpin Negara

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:58

Pemerintah Siapkan Skema Baru Pengadaan Energi, Negara Bakal Deal Langsung dengan Pemasok

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:57

KPU Perlu Fokus Benahi Pemilu 2029

Senin, 26 Oktober 2026 | 14:53

Selengkapnya