Berita

Recep Tayyip Erdogan/Ist

Publika

Pidato Pelantikan Erdogan

OLEH: MOCH EKSAN*
MINGGU, 04 JUNI 2023 | 14:42 WIB

RECEP Tayyip Erdogan mengambil sumpah sebagai Presiden Turki periode 2023-2028. Ini masa jabatan ketiga, setelah ia memenangkan pemilihan presiden putaran kedua atas Kemal Kilicdaroglu pada Minggu, 28 Mei 2023 lalu.

Erdogan adalah presiden ke-12 Republik Turki. Ia pemimpin terlama semenjak menjadi perdana menteri (2003-2014) kemudian menjadi presiden (2014-2028). Praktis, ia menjadi orang nomor wahid di pemerintahan selama 20 tahun lebih.

Sementara 11 presiden yang lain, masih di bawah rekor Erdogan. Mustafa Kemal Attaturk (1923-1938) berkuasa selama 15 tahun, Mustafa Ismet Inonu (1938-1950) 12 tahun, Mahmut Celal Bayar (1950-1960) 10 tahun, Cemal Gursel (1961-1966) 5 tahun, Cevdet Sunay (1966-1973) 5 tahun, Fahri Koruturk (1973-1980) 7 tahun, Kenan Evren (1982-1989) 7 tahun, Turgut Ozal (1989-1993) 4 tahun, Sulaeman Demiral (1993-2000) 7 tahun, Ahmed Necdet Sezer (2000-2007) 7 tahun, dan  Abdullah Gul (2007-2014) berkuasa  selama 7 tahun.


Banyak pengamat menyebut bahwa Erdogan sebagai pemimpin karismatik Turki Modern. Ia tetap bisa bertahan di tampuk kekuasaan kendati  negaranya menghadapi krisis ekonomi akut dengan inflasi di atas 43,68 persen dan devaluasi nilai tukar Lira 77 persen atas dolar Amerika Serikat.

Konstruksi kekuasaan Erdogan benar-benar bak beton, bukan seperti karton yang mudah terhempas oleh musim semi demokrasi di Arab Spring. Tak berlebihan, bila Syarif Taghian menjulukinya sebagai muadzin Istanbul dan penakluk sekularisme Turki.

Syarif Taghian adalah penulis buku biografi politik Erdogan yang telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia. Judul aslinya dalam Bahasa Arab, "Asy-Syaikh Ar-Rais Rajab Thayyib Erdogan - mu'addzin Istanbul wa Muhammad ash-shanam Al-Ataturki". Pada abstraksi buku terbitan ketujuh pada 2020, diuraikan:

"Recep Tayyip Erdogan adalah politisi yang dijuluki sebagai "Muadzin Istanbul Penumbang Sekularisme Turki". Erdogan mampu mengembalikan masa keemasan Turki, setelah sebelumnya terjerat dalam gurita sekularisme dan otoritarianisme yang memarginalkan Islam dan menjerumuskan negeri yang indah ini ke dalam kegelapan.

Dengan kepiawaiannya berpolitik, Erdogan mampu meyakinkan rakyatnya bahwa dengan identitas Islam, Turki bisa mengembalikan kejayaan Kekhilafahan Utsmani, kekhilafahan yang tidak hanya kuat dalam segi pertahanan, tapi juga dalam perekonomian.

Dengan keyakinan bahwa "Islam adalah Solusi" (Al-Islam huwa Al-Hall), Erdogan yang dibesarkan dalam lingkungan keislaman, mampu membangkitkan kembali Turki dari julukan "the Sick Man in Europe" menjadi negara yang sehat dan tumbuh berkembang, bahkan diperhitungkan sebagai negara yang mampu memberikan kontribusi dalam menciptakan perdamaian".

Namun demikian, kondisi Turki pasca Pandemi Covid-19 dan gempa bumi yang menewaskan 50 ribu orang, taklah seindah yang dilukiskan oleh Taghian. Tetapi, kondisinya justru terbalik, negeri para sultan Ottoman Turki ini sedang menghadapi krisis ekonomi yang sangat berat.

Ironisnya, mayoritas rakyat masih percaya Erdogan dapat mengatasi berbagai masalah. Itu jelas tergambar dari suara hasil Pilpres putaran kedua yang mencapai 27 juta lebih atau setara dengan 52,16 persen dari 64 juta lebih pemilih yang terdaftar.

Kurang dari satu pekan sejak menang Pilpres, Erdogan diambil sumpah di hadapan Majlis Nasional Agung Turki yang beranggotakan 600 anggota parlemen dari 16 partai politik dan perseorangan.

"I, as president, swear upon my honour and integrity before the great Turkish nation and history to safeguard the existence and independence of the state (Saya, sebagai presiden, bersumpah atas kehormatan dan integritas saya di hadapan bangsa dan sejarah Turki yang hebat untuk menjaga keberadaan dan kemerdekaan negara)".

Selain mengucapkan sumpah di atas, Erdagon juga menyampaikan inauguration speech (pidato pelantikan). Pidato perdana ini sangat penting dan strategis dalam menentukan arah pemerintahan Turki 5 tahun mendatang.

Bahwasannya, Turki membutuhkan konstitusi baru yang lebih menguatkan demokrasi. Konstitusi yang ada adalah produk kudeta yang telah mengalami 17 amandemen sejak 1982.

Erdogan mengajak seluruh elemen anak bangsa untuk melupakan kemarahan dan kebencian pada masa kampanye yang telah membelah masyarakat. Ia mengajak melupakan apa yang terjadi, serta menyerukan persatuan dan kesatuan bangsa demi masa depan Turki yang lebih baik.

Erdogan berjanji untuk merangkul seluruh penduduk Turki yang berjumlah 84 juta lebih untuk bersama-bersama membangun, mengatasi krisis ekonomi dan meningkatkan peran Turki dalam perdamaian dunia.

Esensi pidato pelantikan Erdogan di atas sangatlah normatif. Sebagai seorang bapak bangsa, ia nampak sungguh-sungguh untuk membangun Turki lebih egaliter, sipilistik dan inklusif. Untuk mengarahkan pada obsesi tersebut, tiada jalan lain kecuali jalan demokrasi yang berkeadilan.

*Penulis adalah Pendiri Eksan Institute

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

Eggi Sudjana, Kau yang Memulai Kau yang Lari

Senin, 29 Desember 2025 | 01:10

Kasus Suap Proyek di Bekasi: Kedekatan Sarjan dengan Wapres Gibran Perlu Diusut KPK

Senin, 29 Desember 2025 | 08:40

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

UPDATE

Bakamla Kirim KN. Singa Laut-402 untuk Misi Kemanusiaan ke Siau

Jumat, 09 Januari 2026 | 05:40

Intelektual Muda NU: Pelapor Pandji ke Polisi Khianati Tradisi Humor Gus Dur

Jumat, 09 Januari 2026 | 05:22

Gilgamesh dan Global Antropogenik

Jumat, 09 Januari 2026 | 04:59

Alat Berat Tiba di Aceh

Jumat, 09 Januari 2026 | 04:45

Program Jatim Agro Sukses Sejahterakan Petani dan Peternak

Jumat, 09 Januari 2026 | 04:22

Panglima TNI Terima Penganugerahan DSO dari Presiden Singapura

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:59

Ramadhan Pohan, Pendukung Anies yang Kini Jabat Anggota Dewas LKBN ANTARA

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:45

Mengawal Titiek Soeharto

Jumat, 09 Januari 2026 | 03:25

Intelektual Muda NU Pertanyakan Ke-NU-an Pelapor Pandji Pragiwaksono

Jumat, 09 Januari 2026 | 02:59

Penampilan TNI di Pakistan Day Siap Perkuat Diplomasi Pertahanan

Jumat, 09 Januari 2026 | 02:42

Selengkapnya