Berita

Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Al Makin/RMOL

Publika

Pengajian-Pengajian yang Berlebihan

JUMAT, 28 APRIL 2023 | 23:22 WIB | OLEH: AL MAKIN

SEJAK awal berdirinya negara dan bangsa ini agama selalu ditempatkan pada yang seharusnya. Negara agama bukan tujuan para pendiri bangsa. Agama dan negara harus mendapatkan porsi yang tepat. Dimana agama dan dimana negara harus jelas tempat, konteks, dan penggunaannya. Politik dengan menggunakan atas nama agama sudah dibuktikan berkali-kali bisa mengelabuhi, baik dalam sejarah manusia atau pengalaman bangsa kita.

Agama itu luas, semua agama. Di satu sisi, moral agama, pesan semua agama, karakter umat beragama, dan intisari dari agama-agama adalah gizi bagi kita rakyat dan pemimpin. Ini semua jelas. Namun penggunaan sentimen keagamaan akan merusak pola pikir, tata politik, dan cara bernegara dan bermasyarakat. Sentimen agama sangat rawan disalahgunakan.

Sukarno mengatakan soal agama, dengan pesan supaya kita mengambil apinya, jangan abunya. Inti dan ruh agama itu apa? Hal-hal yang mudah disalahgunakan itu apa? Api beragama yang menjadi topik beberapa kali tulisan Sukarno sebelum negara ini diproklamirkan layak direnungkan dalam praktek beragama saat ini.


Ada perbedaan yang mendasar antara praktik beragama dan ajaran agama itu sendiri. Kita umat beragama itu menjalankan pesan agama, ini bisa menjadi bahan kritik. Agama itu sendiri adalah pesan yang bisa ditafsirkan.

Era Reformasi ini memberi kebebasan bagi ekspresi dan pendapat. Namun, kadangkala lupa bahwa identitas agama, atas nama kelompok agama, dan sentimen agama bisa dengan mudah mengaburkan pesan. Atau justru sebaliknya, atas nama agama bisa digunakan dengan mudah untuk menarik simpati dan menaikkan popularitas.

Seorang ketua umum partai yang berani, pernah mengatakan tidak khawatir akan kehilangan suara umat beragama dalam Pemilu. Ini pernyataan yang berani, namun disambut dengan sinis dan dengan mudah dikaburkan. Salah satu reaksinya adalah dengan merapatkan barisan atas nama agama. Misalnya, “rapatkan shaf”.

Dengan menyebut agama, pesan mudah diputar dan diserang atas nama agama. Agama menjadi isu yang sangat sensitif. Entah kali yang ke berapa agama tetap menjadi alasan kita membenci, memojokkan, dan menghakimi orang lain di publik.
Jika kita berfikir positif, pesan itu juga kritik sehat terhadap penggunaan agama pada Pemilu 2024 nanti. Sampai hari ini, sentimen keagamaan masih bisa digunakan dengan mudah dan murah. Emosi kelompok kegamaan masih bisa dibawa ke ranah kampanye.

Ketua umum PBNU mengingatkan juga bahwa identitas kelompok bisa mengaburkan pesan. Hal yang harus dihindari dalam berkompetisi dan menyampaikan pesan politik. Pesan bisa hilang karena emosi ikatan kelompok yang ditekankan.
Beberapa saat yang lalu, kritik terhadap jam pengajian viral. Bagi ibu-ibu muda, yang aktif berlebihan di pengajian bisa melupakan perawatan terhadap bayi mereka. Kekurangan gizi, pendidikan dini terlantar, sedikitnya perhatian terhadap anak di usia awal sebetulnya adalah pesan utama. Tetapi karena menyebut pengajian, agama kembali dibawa dan mudah membuat pesan kritik terhadap praktek beragama viral.

Tentu, agama dan praktik keagamaan itu berbeda. Namun, agama semata jauh lebih menarik untuk dijadikan bahan gosip. Praktek beragama menjadi agama itu sendiri. Pengajian seolah agama itu sendiri. Padahal pengajian adalah cara umat menerangkan agama. Pengajian berubah menjadi ibadah wajib sosial.

Memang, jam tayang pengajian di berbagai media sangat banyak, jika tidak bisa dikatakan overdosis. Semua TV, baik swasta maupun negeri, berlomba-lomba menayangkan kegiatan pengajian terus-menerus.

Channel Youtube, Tiktok, Instagram yang diminati adalah yang tayang pengajian dan penampilan pengajian. Tiada media tanpa pengajian. Tiada hari tanpa pengajian, tidak ada jaminan tentang tema, isi, kualitas, atau ideologinya. Tiada jam tanpa pengajian. Pengajian sudah menjadi ritual sosial. Pengajian sudah dianggap agama itu sendiri.

Pengajian yang bermutu dan memberi penerangan, ketenangan jiwa, keluasan berfikir itu yang kita perlukan. Tetapi apa betul pengajian kita yang masif itu menawarkan itu? Berapa pengajian yang menawarkan penyelesaian persoalan kehidupan sehari-hari?

Berapa pengajian kita yang justru malah menebar kebencian dan menghasut kelompok lain? Berapa pengajian kita yang memberi tauladan dan tolerans terhadap perbedaan?

Berapa pengajian kita yang justru menyempitkankan pandangan? Berapa pengajian yang malah menambah masalah dengan menakut-nakuti dosa kita? Berapa pengajian yang menjanjikan ampunan? Berapa pengajian yang malah membuat kita kuatir dan cemas?

Pengajian dikaitkan dengan gizi anak cukup menarik jika kita renungkan. Padahal memberi perhatian pada gizi dan pendidikan anak jauh lebih berbau ibadah daripada pengajian sekedar status sosial.

Ada banyak persoalan dalam jam tayang pengajian kita. Pengajian adalah bagian dari pergaulan dan ajang sosial, seringkali malah melupakan pencarian spiritual yang memberi siraman jiwa.

Bahkan pengajian yang diminati bukan semata-mata yang mengarahkan pada rehat dari sibuknya dunia ini. Pengajian yang lucu atau yang bersemangat menebar kebencian menarik minat publik. Maka perlu kita melihat konten dan ideologi pengajian.
Kembali pada pesan Sukarno enam puluh tahun yang lalu, kita harus berhati-hati dengan abu agama, yang bukan api agama. Tampaknya pesan ini seusai dengan pengajian-pengajian kita.

*Penulis adalah Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya