Berita

Ilustrasi/Net

Global

Sudan Makin Membara, Dubes UE jadi Korban Penyerangan

SELASA, 18 APRIL 2023 | 07:31 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Bentrokan antara militer Sudan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) semakin menimbulkan banyak korban, termasuk Duta Besar Uni Eropa untuk Sudan, Aidan O’Hara.

Meskipun tidak menyebutkan nama, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri, Josep Borrell, mengkonfirmasi serangan itu dalam sebuah cuitan di akun Twitternya pada Senin (17/4).

"Beberapa jam yang lalu, Duta Besar UE di Sudan diserang di kediamannya sendiri," tulis Borell, seperti dikutip dari AFP, Selasa (18/4).


"Ini merupakan pelanggaran berat terhadap Konvensi Wina. Keamanan tempat dan staf diplomatik adalah tanggung jawab utama otoritas Sudan dan kewajiban berdasarkan hukum internasional," ujarnya.

Dia tidak mengungkapkan rincian insiden itu, juga tidak menyebutkan kekuatan di balik serangan itu. Juga tidak jelas apakah duta besar Uni Eropa terluka dalam serangan tersebut.

Dua jam sebelumnya, Borell mengatakan di cuitan lainnya bahwa blok itu bekerja untuk membujuk masing-masing pihak untuk mempertimbangkan jeda kemanusiaan dan mendorong dialog.

"Warga sipil Sudan sangat membutuhkan gencatan senjata," tegasnya.

Pada Senin, Al Arabiya melaporkan bahwa kendaraan kedutaan AS juga diserang di Sudan. Sumber kedutaan AS mengatakan kepada outlet media bahwa pejuang RSF menembaki kendaraan lapis baja kedutaan AS.

"Mobil AS itu sengaja diserang," kata sumber itu, menambahkan bahwa sekitar 100 peluru ditembakkan ke arahnya.

Bentrokan di Sudan pecah pada Sabtu di tengah perebutan kekuasaan yang berkelanjutan antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dan RSF yang dipimpin oleh wakilnya, Mohamed Hamdan Daglo.

Burhan secara de facto memimpin pemerintahan sementara negara itu sejak penguasa lama negara itu, Omar Al-Bashir, digulingkan dalam kudeta pada 2019.

Kematian warga sipil mendekati 100 dalam bentrokan di Sudan
Khartoum telah menyaksikan tembakan dan pemboman hebat selama beberapa hari terakhir, yang telah menyebabkan kematian sedikitnya 97 warga sipil dan menyebabkan 365 lainnya terluka.

Tiga karyawan Program Pangan Dunia PBB termasuk di antara mereka yang tewas dalam kekerasan tersebut, memaksa penghentian sementara operasi badan tersebut di Sudan.

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

UPDATE

Investasi Jakarta Tertinggi Nasional, Tumbuh 22,1 Persen

Rabu, 04 November 2026 | 00:34

Pemerintah Optimis Polri Bakal Bongkar Aktor Intelektual Penyadapan Presiden

Rabu, 04 November 2026 | 00:20

Geledah Pukul 03.20

Rabu, 04 November 2026 | 00:04

Peduli Karhutla, PKSS Salurkan Ribuan Masker dan Susu Steril

Selasa, 03 November 2026 | 23:43

Listyo Sigit Cs Salah Pilih Lawan, Akhirnya Masuk Penjara

Selasa, 03 November 2026 | 23:22

WNA China Praperadilkan BNN di PN Jaktim terkait Narkoba

Selasa, 03 November 2026 | 23:00

Ditanya soal Gibran Ikut Disadap, Yusril: Wallahu A'lam bish-Shawab

Selasa, 03 November 2026 | 22:45

TEI 2026 jadi Pintu Ekspor Produk Sawit dan Pangan Indonesia

Selasa, 03 November 2026 | 22:32

Ini Kronologi Penyadapan Prabowo oleh Listyo Sigit Dkk

Selasa, 03 November 2026 | 22:29

Prabowo Bekali 400 Calon Pemimpin BUMN dengan Nilai Integritas dan Nasionalisme

Selasa, 03 November 2026 | 22:13

Selengkapnya