Berita

Achmad Nur Hidayat MPP/Ist

Publika

Pemudik 123 Juta Orang, Tol Seharusnya Digratiskan Cegah Kemacetan dan Bantu Daya Beli Masyarakat

MINGGU, 16 APRIL 2023 | 00:59 WIB | OLEH: ACHMAD NUR HIDAYAT

"JUMLAH pemudik capai 123 juta! InsyaAllah tak ada masalah karena semua sudah diatur," demikian harapan Presiden Jokowi yang disampaikan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (13/4).

Entah apa yang menjadi dasar prediksi Presiden tersebut. Namun melihat manajemen penanganan mudik saat ini, seharusnya Pemerintah perlu panik.

Pasalnya adalah tidak ada perubahan signifikan dalam manajemen penanganan mudik, tidak ada ruas jalan raya baru mudik, tidak ada moda transportasi laut baru, dan tidak ada penyebrangan baru yang berbeda dari tahun kemarin.


Prediksi pemudik mencapai 123 juta itu artinya hampir 50 persen penduduk Indonesia pergi ke kampung halamannya. Ini adalah travel rutin tiap tahun terbesar dalam sejarah migrasi bangsa Indonesia.

Pasca-Covid-19, sampai 2022 lalu, mudik Lebaran selalu diwarnai kemacetan panjang di ruas tol. Hal ini disebabkan banyaknya kendaraan pribadi yang melakukan perjalanan pulang kampung secara serentak, sehingga menyebabkan peningkatan volume kendaraan di jalan raya dan tol dan kemacetan panjang pun terjadi.

Untuk mengurangi kepadatan arus mudik, BUMN PT Jasa Marga (Persero) memberikan diskon 20 persen untuk jalan Tol Jakarta-Cikampek dan Tol Cipularang-Bandung, Minggu (16/4) hingga Selasa (18/4) pukul 06.00 WIB.

Diharapkan publik menggunakan 3 hari tersebut untuk mudik sehingga mengurangi puncak kemacetan pada Rabu (H-4), Kamis (H-3), Jumat (H-2), dan Sabtu (H-1). Sayangnya untuk arus mudik diskon hanya berlaku 3 hari dan tidak di masa puncak arus mudik.

Diskon tersebut tidak akan mengurai kemacetan pada puncak mudik. Dengan kenaikan pemudik sampai 45 persen dari 86 juta menjadi 123 juta orang pada 2023 ini, kemacetan mudik tahun ini diprediksi menjadi yang terparah karena ketiadaan kebijakan baru yang mampu mengantisipasi kemacetan tersebut.

Begitu juga dengan arus balik. Karena Diskon 20 persen arus balik diberikan pada Kamis, 27 April 2023 pukul 06.00 WIB, hingga Sabtu, 29 April 2023 pukul 06.00 WIB. Di mana tidak dalam puncak arus balik. Maka kebijakan diskon juga tidak mampu mengurangi kemacetan pada tahun ini.

Apa yang seharusnya dilakukan untuk mengurangi kemacetan?

Pemberian diskon 20 persen untuk Tol di hari luar puncak arus mudik dan arus balik memberikan kesan bahwa Jasa Marga dan pengelola jalan tol lainnya memang ingin mengeruk untung berlipat di masa Lebaran 2023, daripada ingin mengurai kemacetan. Padahal sebagai BUMN seharusnya mereka membantu memikirkan mengurai kemacetan di atas kepentingan profit semata.

Kemacetan parah biasa terjadi pada H-5 yaitu jatuh pada Senin (17/4) sampai H+7 Lebaran atau Sabtu (29/4). Puncak kemacetan berdasarkan pengalaman tahun lalu adalah H-3 untuk arus mudik dan H+5 untuk arus balik. Untuk menghindari kemacetan parah terutama di pintu penyeberangan kapal di pelabuhan dan tol ke arah timur Jakarta maka seharusnya pemerintah menggratiskan Jalan Tol.

Kapan Tol gratis sebaiknya diberlakukan?

Program menggratiskan jalan tol hendaknya jangan dilakukan satu atau dua hari, melainkan dalam periode kisaran puncak arus mudik dan arus balik. Memberikan jalan tol Nol Rupiah seharusnya diberikan dari Senin (17/4) sampai Selasa (25/4) atau H-5 sampai H+2.

Pihak Jasa Marga memprediksi bahwa puncak arus mudik di Jalan Tol Jakarta-Cikampek (Km 66) diperkirakan akan jatuh pada H-3 atau pada Rabu, 19 April 2023. Sedangkan puncak arus balik diprediksi terjadi pada H+3 atau pada Selasa, 25 April 2023.

Karena periode puncak mudik Rabu (19/4) dan puncak arus balik Selasa (25/4), maka tepat bila penggratisan tol mulai Senin (17/4) sampai Selasa (25/4).

Tarif Tol Nol Rupiah Baik untuk Mengurai Kemacetan dan Membantu Pertumbuhan Ekonomi

Jalan tol yang gratis pada waktu puncak kemacetan yaitu pada H-5 sampai H+7 akan membantu publik berkendara lebih fleksibel di luar waktu kemacetan. Bagi pekerja ASN yang cuti mudiknya mulai Senin, mereka akan memilih pada 17 April 2024. Mereka akan menikmati tol yang gratis.

Bagi pekerja swasta yang waktu cutinya baru diberikan menjelang hari Lebaran, mereka mudik H-1, di mana masih dalam waktu Tol Gratis juga.

Selain dapat mengurangi kemacetan, pemberian Tol gratis juga untuk membantu beban masyarakat dan meningkatkan daya beli masyarakat.

Ekonomi 2023 diprediksi melemah sehingga pemberian tol gratis merangsang publik untuk spending terutama bagi kalangan menengah bawah. Di mana cost transportasi mereka dapat berkurang dan akhirnya spending dapat meningkat 10-25 persen.

Strategi seperti ini bermanfaat ganda, selain mengurangi kemacetan juga meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Kebijakan memberikan tarif Nol Rupiah bagi ruas jalan tertentu juga terjadi di China pada tahun baru Imlek, dan di AS pada Tahun Baru dan Natal. Selain untuk mengurai kemacetan, pemberian jalan tol gratis juga dimaksudkan untuk membantu meningkatkan daya beli masyarakat.

BUMN Pengelola Tol jangan serakah. Alih-alih hanya memberikan diskon kecil di luar arus puncak mudik dan arus balik, sebaiknya mereka menggratiskan jalan tol.
Para pemangku kepentingan perlu memikirkan ulang kebijakan dengan menggratiskan tol.

Presiden bersama Menhub, MenPUPR dan MenBUMN perlu mencari jalan mengurai kemacetan parah di tengah lonjakan pemudik 123 juta penduduk tahun 2023, sekaligus membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di tengah kelesuan ekonomi 2023.

Penulis adalah Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, CEO Narasi Institute

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

KPK Terbitkan Sprindik Baru Terkait TPPU Wali Kota Madiun Maidi

Rabu, 23 September 2026 | 18:27

Pemerintah Sediakan Pendidikan Gratis Mulai TK hingga SMA Lewat Dana BOS

Rabu, 23 September 2026 | 18:19

IHSG-Rupiah Kompak Parkir di Zona Hijau Usai BI Tahan Suku Bunga

Rabu, 23 September 2026 | 17:58

Beli Tiket MotoGP Indonesia 2026 via wondr by BNI Diskon hingga Rp300 Ribu

Rabu, 23 September 2026 | 17:41

Anggota DPRD Hingga Petinggi LSM Diperiksa KPK dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 23 September 2026 | 17:38

Prabowo Bentuk Tim Khusus Kaji Rencana Gratiskan Kuliah di PTN

Rabu, 23 September 2026 | 17:34

Bos BI Ungkap Investasi Asing Masuk RI Rp7,1Triliun, Ditopang SBN

Rabu, 23 September 2026 | 17:18

Legislator Nasdem Dorong Pembenahan Pelayaran, Belajar dari Kereta Api

Rabu, 23 September 2026 | 17:09

Pemerintah Bisa Lebih Repot Bila Daya Beli Kelas Menengah Terus Tertekan

Rabu, 23 September 2026 | 17:01

Prabowo Pantau Karhutla Sumatra-Kalimantan, 209,78 Hektare Masih Dipadamkan

Rabu, 23 September 2026 | 16:52

Selengkapnya