Berita

Representative Image/Net

Dunia

Penindasan Terhadap Warga Tibet Masih Terus Berlanjut di Bawah Pemerintahan Otoriter China

SENIN, 13 FEBRUARI 2023 | 11:34 WIB | LAPORAN: ALIFIA DWI RAMANDHITA

Masyarakat Tibet masih terus mengalami penindasan dan pemantauan
yang ketat di bawah rezim otoriter China sejak 1949 hingga saat ini.

Mengutip laporan The Print pada Kamis (9/2), dengan memuat laporan dari beberapa media, warga Tibet dikabarkan terus mendapatkan perlakuan kasar, seperti dipersekusi, dianiaya, dilecehkan, dan disiksa di wilayah mereka sendiri.

Tibet Press dalam laporannya menyebutkan, melalui kebijakan "nol-Covid" yang pernah diterapkan selama tiga tahun oleh pemerintah China, kebijakan itu telah menjadi alat represi yang semakin kuat, yang digunakan untuk melakukan kontrol dan pengawasan yang ketat untuk warga Tibet.

Tibet Press dalam laporannya menyebutkan, melalui kebijakan "nol-Covid" yang pernah diterapkan selama tiga tahun oleh pemerintah China, kebijakan itu telah menjadi alat represi yang semakin kuat, yang digunakan untuk melakukan kontrol dan pengawasan yang ketat untuk warga Tibet.

Selama beberapa bulan terakhir, meskipun kebijakan nol Covid itu telah dicabut pada Desember lalu, tindakan keras itu masih terus meluas terhadap individu Tibet, khususnya kepada biksu, penulis, aktivis muda, dan yang lainnya, yang dianggap oleh otoritas China sebagai individu yang berbahaya.

Dalam laporan yang dimuat Radio Free Asia, seorang mantan guru sekolah dasar di Tibet yang bernama Palgon, memutuskan untuk menjadi penulis independen, sejak saat ia ditangkap di rumahnya pada Agustus 2022 lalu, dan tidak dapat dihubungi sampai hari ini.

Tindakan keras dari Partai Komunis Tiongkok (PKT) ini dilaporkan tidak hanya mereka tujukan kepada orang-orang dewasa, akan tetapi juga kepada anak-anak Tibet. Dengan dalih pendidikan, pemerintah telah mengambil anak-anak berusia empat tahun dari orang tuanya.  

“Mereka berusaha menghapus identitas Tibet dan menggantinya dengan identitas China sehingga tidak akan ada perlawanan terhadap pendudukan China di Tibet di masa depan,” kata direktur Institut Aksi Tibet, Lhadong Tethong, dalam webinar baru-baru ini.

Selain itu, orang Tibet juga menghadapi praktik keras pemerintah China yang memaksa mengumpulkan DNA massal warga Tibet.

Sekumpulan aktivis Tibet di Dharamshala pada awal Febuari telah melancarkan aksi protesnya terhadap kebijakan pengumpulan DNA massal oleh China. Mereka juga menuntut untuk diakhirinya pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga di wilayah mereka.

Aktivis dan anggota LSM di Tibet, mengaku sangat mengkhawatirkan DNA yang dikumpulkan oleh pemerintah China, yang kemungkinan akan digunakan untuk memperkuat program pengawasan massalnya yang semakin ketat kepada Tibet, dengan menggunakan perangkat Thermo Fisher.

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

UPDATE

Jadi Menperin, Sarmuji Tegaskan akan Lanjutkan Rintisan Agus Gumiwang

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:23

Mengenang Warisan Luhur Pesona Batik Tulungagung di Hari Batik Nasional

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:16

Ketua KPK Ucapkan Selamat kepada Kapolri Jenderal Suyudi, Dorong Sinergi Pemberantasan Korupsi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

MUI: Jangan Sampai Konser “Till The Whole World Knows” Jadi Sarana Propaganda Zionisme

Jumat, 02 Oktober 2026 | 12:10

BEI Awasi Pergerakan Tiga Saham yang Masuk Radar UMA

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:49

KPK Ungkap Besaran Uang Silmy Karim ke Dosen UB Saat Bimbingan Doktoral

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Garuda Tantang Gajah Perang di Final FIFA ASEAN Cup 2026

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:25

Emas Antam Mulai Turun Hari Ini, Intip Daftar Lengkapnya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:14

Dua Tahun Danantara, Efisiensi BUMN Digenjot untuk Kejar Pertumbuhan

Jumat, 02 Oktober 2026 | 11:02

Harga Minyak Naik Lagi ke Level 102 Dolar AS

Jumat, 02 Oktober 2026 | 10:59

Selengkapnya